Beberapa hari setelah percakapan itu, Gama meminta izin untuk mengirim kabar sekali seminggu, hanya jika Giana tidak keberatan. Giana menjawab ia tidak ingin jadwal komunikasi terasa seperti kewajiban. Jika ada hal yang ingin dibagikan, ia bisa menghubungi; Gama pun boleh mengirim satu pesan, tetapi tidak perlu menunggu balasan cepat.
Gama menerima batas itu. Pesan pertamanya membahas hal sederhana: ia mulai meninjau ulang kontrak perusahaan keluarga dan menyadari betapa mudahnya ia menyebut pekerjaan orang lain tidak penting. Ia tidak menyebut Giana sebagai alasan untuk memperbaiki semua hal. Ia menyampaikan bahwa timnya akan melakukan evaluasi layanan secara umum.
Giana membalas, "Bagus kalau kamu memang ingin mengubah cara kerja, bukan cuma karena merasa bersalah padaku." Gama menjawab, "Aku tahu. Aku akan menilai hasilnya dari cara kami memperlakukan orang, bukan dari apakah kamu memujiku."
Mereka bertukar pesan beberapa kali dalam dua pekan, tanpa membahas Dea atau kecelakaan. Giana bercerita bahwa ia sedang mencoba mengatur waktu untuk belajar kembali. Gama bertanya apakah ia ingin saran, lalu menerima ketika Giana mengatakan belum. Ia tidak mengirim daftar sekolah atau tawaran biaya.
Pada akhir minggu, Giana mengajak Gama bertemu singkat di taman kota. Ia ingin melihat apakah mereka dapat berbicara tanpa meja kantor atau perkara keluarga sebagai alasan. Gama datang dengan pakaian biasa dan membawa air minum untuk dirinya sendiri. Ia tidak menawarkan barang kepada Giana sampai ia bertanya apakah ingin berbagi.
Mereka berjalan pelan. Gama bercerita tentang masa kecilnya bersama Geraldi sebelum kecelakaan, tetapi berhenti ketika menyadari ia mulai menggambarkan ayahnya sebagai alasan ia mengontrol semua orang. Ia mengoreksi dirinya: kehilangan dan tekanan menjelaskan sebagian ketakutannya, bukan membenarkan sikapnya.
Giana bercerita bahwa sejak orang tuanya meninggal, ia sering mengukur keputusan dari kebutuhan Gufta dan Rahma. Ia belum tahu apakah ingin kuliah atau mengambil pelatihan singkat, dan tidak ingin Gama menentukan masa depan itu. Gama berkata ia tidak akan menawarkan uang. Kalau suatu hari Giana meminta informasi atau bantuan tertentu, ia akan bertanya dahulu bentuk bantuan apa yang diinginkan.
Giana bertanya apakah ia bisa menerima jika ia tidak pernah ingin hubungan romantis dengannya. Gama menjawab iya, meskipun ia mungkin sedih. Ia tidak ingin Giana merasa harus memberi kesempatan sebagai balas jasa atas permintaan maaf atau informasi tentang kecelakaan.
Mereka berhenti dekat bangku. Giana melihat ia mulai lelah dan mengajak pulang. Gama tidak menahan atau meminta pertemuan berikutnya. Giana sendiri mengatakan mungkin mereka dapat berbicara lagi jika ia merasa nyaman. Itu bukan komitmen, hanya kemungkinan.
Dalam perjalanan pulang, Giana merasa percakapan itu tidak menghapus masa lalu, tetapi membantunya mengenal cara Gama menerima batas. Ia tetap menjaga jarak, dan untuk pertama kalinya jarak itu terasa dipilih, bukan dipaksakan oleh keadaan.
Sebelum mengajak Gama ke taman, Giana menyampaikan rencana itu kepada Aya. Aya bertanya apakah ia benar-benar ingin bertemu atau merasa perlu menguji Gama. Giana menjawab keduanya sedikit benar. Ia ingin melihat apakah mereka bisa bercakap tanpa tujuan khusus, tetapi ia tidak menganggap satu pertemuan sebagai ujian yang menentukan semuanya.
Aya mengingatkan agar Giana memilih jalur pulang sendiri dan tidak membiarkan Gama membayar apa pun. Giana tertawa, mengatakan ia bisa membayar minumannya sendiri. Ia membawa uang secukupnya dan tidak meminta Aya mengikuti dari jauh. Mereka menetapkan bahwa Giana akan mengirim kabar setelah pulang.
Di taman, Giana bertanya tentang hal yang membuat Gama senang sebelum kecelakaan ayahnya. Gama bercerita tentang memperbaiki radio tua bersama Geraldi dan bagaimana ibunya selalu mengeluh ketika mereka membuat meja penuh obeng. Ia tidak mengubah kenangan itu menjadi permintaan simpati. Giana bercerita tentang kebiasaan ibunya membuat bekal berlebihan untuk perjalanan dan bagaimana Gufta selalu mengambil bagian yang paling besar.
Mereka tertawa ketika mengenang cara adiknya meminta tambahan lauk. Giana sadar ia jarang menceritakan orang tuanya tanpa menghubungkan kisah mereka dengan malam kecelakaan. Gama mendengarkan, tetapi tidak menawarkan untuk mencari tahu lebih banyak. Saat Giana berhenti, ia tidak mengisi jeda dengan pertanyaan.
Gama bertanya apakah Giana ingin kembali belajar. Giana berkata ia selalu ingin, tetapi belum punya rencana pasti dan harus menghitung biaya, waktu kerja, serta kebutuhan keluarga. Gama berkata ia tidak akan menawarkan uang tanpa diminta. Ia dapat membantu mencari informasi umum jika Giana ingin, tetapi ia tidak harus menjadi sumbernya.
"Aku ingin menentukan dulu apa yang realistis," kata Giana. "Kalau aku butuh bantuan, aku akan bilang bentuknya apa."
Gama menerima. Ia bercerita bahwa ia sedang mencari cara mengurangi kendali ibunya atas keputusan pribadi, tetapi tidak meminta Giana mengajari atau menjadi penengah. Mereka berbicara tentang hal lain: buku, makanan, dan kebiasaan kerja. Perbincangan itu tidak romantis, tetapi terasa lebih seimbang daripada saat mereka pertama bertemu.
Ketika Giana mengajak pulang, Gama tidak menahannya. Ia menawarkan berjalan sampai gerbang, lalu bertanya apakah itu nyaman. Giana mengiyakan. Mereka berpisah di tempat terbuka. Dalam perjalanan pulang, Giana mengirim kabar kepada Aya bahwa ia baik-baik saja dan akan menceritakan sisanya nanti.
Mereka membagi biaya makan dengan jelas. Gama tidak menganggap kebiasaan lama sebagai aturan yang harus diikuti, dan Giana tidak perlu menolak kebaikan kecil hanya untuk membuktikan kemandirian. Mereka bertanya satu sama lain sebelum memesan tambahan. Sikap sederhana itu membuat suasana tidak terasa seperti negosiasi atau layanan.
Dalam perjalanan pulang, ia juga bertanya pada dirinya sendiri apakah pertemuan berikutnya benar-benar ia inginkan. Ia belum tahu jawabannya, dan tidak memaksa dirinya membuat janji.
Gama mengangguk dan menunggu sampai Giana sendiri mengubah topik pembicaraan.
Ia berjalan pulang dengan waktu yang cukup untuk memikirkan pertemuan itu sendiri, tanpa menunggu pesan Gama untuk menentukan perasaannya.
Giana merasa cukup untuk hari itu, lalu pulang tanpa membuat janji baru.
Ia memilih tenang malam itu.
Tidak ada pesan baru yang perlu ia tunggu.