Minggu kelima belas, Rahma mengeluarkan sebuah kotak kayu dari lemari. Di tutupnya masih ada bekas selotip dan tulisan nama keluarga Giana yang mulai pudar. Kotak itu berisi surat-surat lama, buku tabungan yang sudah tidak aktif, dan beberapa kuitansi. Rahma mengatakan sebagian dokumen rumah mungkin tersimpan di sana, sebelum paman Giana mengambil alih rumah setelah orang tua mereka meninggal.
Giana meminta Rahma bercerita dari awal, tanpa menyalahkan dirinya sendiri karena lupa. Rahma menerangkan bahwa setelah pemakaman, paman menawarkan diri mengurus rumah dan dokumen karena Giana masih remaja dan Gufta masih kecil. Ia mengatakan akan menjaga rumah sampai keadaan keluarga stabil. Namun, beberapa bulan kemudian, mereka tak lagi diizinkan tinggal di sana. Paman menyatakan rumah itu telah menjadi tanggung jawabnya dan keluarga Giana tak bisa kembali.
"Apa Nenek pernah menandatangani surat penyerahan?" tanya Giana.
Rahma menggeleng. Ia ingat menandatangani beberapa kertas untuk pemakaman dan administrasi, tetapi tidak tahu isinya. Giana tidak menganggap ingatan itu cukup untuk menyimpulkan paman memalsukan sesuatu. Ia menuliskan pertanyaan, bukan tuduhan.
Gufta pulang dari sekolah dan melihat kotak terbuka. Ia menawarkan bantuan mencari berkas, tetapi Giana bertanya apakah tugas sekolahnya sudah selesai. Gufta mengaku masih ada satu pekerjaan kelompok. Mereka menyepakati ia boleh membantu setengah jam setelah belajar, dan tidak akan pergi ke rumah lama tanpa Giana atau Rahma.
Di dasar kotak, mereka menemukan salinan pembayaran pajak rumah, surat tagihan listrik, dan sebuah amplop bertuliskan nama ayah Giana. Amplop itu kosong. Tidak ada sertifikat asli. Rahma ingat paman membawa map biru ketika mereka meninggalkan rumah, tetapi tidak ingat apakah sertifikat berada di dalamnya.
Giana mengambil foto dokumen yang mereka miliki dan mencatat siapa yang menemukannya. Ia tidak mengunggahnya ke mana pun. Ia memisahkan kuitansi rumah dari map kecelakaan, lalu memberi label tanggal.
Malam itu, Giana bertanya kepada petugas hukum yang membantu perkara kecelakaan apakah ia dapat berkonsultasi tentang hak rumah. Petugas menjawab bisa, tetapi ia akan membuka berkas dan jalur yang berbeda. Giana menegaskan ia tidak ingin urusan rumah dikaitkan dengan keluarga Pradipta atau perkara Juardi.
Petugas meminta mereka mengumpulkan dokumen yang membuktikan kepemilikan dan hubungan keluarga, lalu menjadwalkan konsultasi terpisah. Giana merasa sedikit lega karena ada langkah yang dapat dilakukan tanpa menemui pamannya terlebih dahulu. Namun, kotak kayu itu belum menjawab siapa pemilik rumah menurut catatan resmi atau di mana sertifikatnya berada.
Rahma berhenti pada satu kuitansi dan memeriksa bagian belakangnya. Ada tulisan ayah Giana mengenai biaya perbaikan pagar, tetapi tidak ada tanggal lengkap. Giana bertanya apakah ia mengingat kapan perbaikan dilakukan. Rahma mengingat musim hujan, bukan tahunnya. Mereka menandai keterangan itu sebagai ingatan, bukan bukti tanggal.
Giana meminta Gufta menyusun dokumen sesuai tahun sekolahnya, tetapi Gufta mengingatkan bahwa ia masih kecil saat mereka pindah. Ia hanya ingat sebuah lemari besar tertinggal di rumah lama dan paman mengatakan barang-barang akan dijaga. Giana tidak bertanya lebih jauh; kenangan adiknya tidak boleh dipaksa menjadi bukti.
Mereka membuat daftar dokumen yang belum ditemukan: sertifikat atau salinan resmi, surat pajak beberapa tahun, serta bukti perubahan alamat. Rahma menyebut pernah menyimpan kartu pembayaran pajak pada dompet kain, namun belum tahu apakah dompet itu ikut pindah. Mereka mencari di lemari tanpa membongkar seluruh rumah.
Giana mengusulkan memisahkan dokumen pribadi dari arsip rumah. Rahma setuju. Mereka tidak ingin surat tentang kecelakaan masuk ke map properti, sebab kedua perkara memiliki kronologi dan pihak berbeda. Giana memberi nomor pada setiap map dan menuliskan siapa yang memeriksanya.
Ketika kotak ditutup, Rahma berkata ia takut pembicaraan dengan paman akan membuat hubungan keluarga makin buruk. Giana menjawab ia juga takut, tetapi mereka tidak harus menghubunginya hari itu. Mengetahui apa yang tercatat akan membuat mereka lebih siap berbicara tanpa saling menuduh.
Gufta membawa kotak kecil ke rak dan memastikan tidak menghalangi buku sekolahnya. Ia menawarkan membantu lagi akhir pekan, tapi Giana mengingatkan bahwa ia boleh menolak jika tugasnya padat. Gufta berkata ia ingin membantu karena rumah itu juga bagian dari masa kecilnya, bukan karena merasa bertanggung jawab atas semua masalah.
Rahma kemudian mengingat bahwa ia pernah meminta paman mengirimkan salinan pajak rumah. Paman menjawab akan mencarinya, tetapi tidak pernah kembali dengan berkas. Rahma tidak tahu apakah permintaan itu lewat telepon atau percakapan langsung. Mereka menuliskan dua kemungkinan tanpa memilih salah satunya. Giana berkata mereka bisa meminta catatan pembayaran dari kantor pajak jika masih tersedia.
Mereka mencari nama ayah Giana dalam surat-surat sekolah dan menemukan satu formulir yang mencantumkan alamat rumah lama sebagai alamat orang tua. Formulir itu tidak membuktikan kepemilikan, tetapi membantu menunjukkan bahwa keluarga tinggal di sana. Giana memasukkannya dalam daftar dokumen pendukung, sementara Rahma menyimpan aslinya.
Gufta menyarankan mereka bertanya kepada tetangga lama. Giana tidak langsung menolak, tetapi berkata mereka perlu memastikan apa yang ingin ditanyakan dan tidak meminta orang lain memilih pihak. Rahma merasa belum siap menghubungi tetangga. Mereka menunda langkah itu sampai catatan resmi tiba.
Pada malam itu, Giana memeriksa anggaran rumah tangga. Ia menghitung biaya fotokopi, transportasi, dan konsultasi agar urusan rumah tidak membuat mereka kekurangan uang untuk kebutuhan sekolah. Rahma menawarkan tabungan kecilnya, tetapi Giana meminta mereka memakai biaya bersama hanya untuk permohonan yang telah disetujui. Mereka sepakat setiap pengeluaran dicatat.
Giana bertanya apakah mereka perlu membuat daftar barang yang tertinggal di rumah. Rahma tidak ingat jumlahnya, jadi mereka hanya mencatat lemari besar dan beberapa perabot yang ia yakini ada. Mereka menandai daftar itu sebagai ingatan keluarga, bukan inventaris resmi.
Rahma menyimpan kunci kotak di laci dan meminta Giana memeriksa kembali daftar sebelum tidur.
Mereka sepakat menyimpan dokumen dengan rapi.
Giana mengunci lemari setelah memastikan kotaknya aman.
Rahma lalu menutup laci dengan hati-hati.
Catatan itu cukup untuk malam tersebut.