Gufta menyelesaikan tugas kelompoknya sebelum membuka kotak lagi. Ia memeriksa kuitansi satu per satu, menyebut tanggal dengan suara keras sementara Giana mencatatnya. Rahma duduk di dekat meja dan mengenali tulisan tangan ayah Giana pada beberapa amplop. Mereka tidak menemukan sertifikat, tetapi menemukan surat pembayaran perbaikan atap dan kuitansi pajak yang mencakup beberapa tahun.
"Kalau ada kuitansi berarti rumah itu milik Papa?" tanya Gufta.
"Belum tentu," jawab Giana. "Kuitansi membuktikan ada pembayaran, tapi bukan bukti lengkap kepemilikan. Kita perlu tanya petugas hukum."
Gufta mengangguk. Ia tidak kecewa karena pencarian belum menemukan dokumen utama. Ia membantu menuliskan kode pada setiap amplop agar mereka dapat mengembalikannya ke urutan semula. Setelah setengah jam, Giana menyuruhnya kembali ke tugas sekolah. Gufta meminta sepuluh menit lagi untuk merapikan daftar; ia ingin membantu tanpa membuat nilai sekolahnya turun.
Rahma bercerita bahwa paman mereka pernah mengatakan keluarga harus bersyukur karena ia telah menjaga rumah. Namun, ia tidak pernah memberi laporan biaya atau salinan dokumen. Giana bertanya apakah Rahma pernah meminta kunci. Rahma mengaku pernah, tetapi paman menolak dengan alasan rumah rawan dan ia perlu mengawasi barang-barang di dalamnya.
Giana tidak tahu apakah semua itu benar atau hanya alasan. Ia menulis tanggal kira-kira dari ingatan Rahma, memberi tanda bahwa tanggal belum pasti. Ia meminta Rahma tidak menelepon paman dulu; mereka perlu tahu apa yang ada pada berkas resmi sebelum memulai percakapan.
Di kantor, Aya dan Farel membahas formulir klien yang baru. Seorang calon klien meminta staf datang ke rumah sakit dengan jas putih dan mengaku sebagai dokter keluarga agar kerabatnya menyetujui tindakan. Aya menolak bagian penyamaran dan menjelaskan bahwa mereka dapat membantu mengatur komunikasi dengan dokter yang benar atau mendampingi administrasi, tetapi tidak berpura-pura memiliki profesi medis.
Calon klien itu marah dan mengatakan akan mencari layanan lain. Farel tetap mencatat alasan penolakan dan tidak meminta staf mengubahnya menjadi tugas biasa. Setelah panggilan berakhir, Aya berkata menolak klien berarti kehilangan pemasukan, tetapi mereka tak ingin mengulang kesalahan yang pernah dilakukan.
Giana membaca catatan penolakan itu. Ia merasa aturan baru mulai bekerja dalam keputusan nyata, meskipun tidak ada yang memberi tepuk tangan. Ia menyarankan agar formulir mencantumkan alternatif yang bisa mereka berikan, supaya penolakan tidak meninggalkan keluarga tanpa bantuan praktis.
Malamnya, Giana dan Rahma menaruh dokumen rumah di map baru. Gufta menulis daftar isi dan menambahkan tulisan kecil “bukan PR matematika”. Rahma tersenyum melihatnya. Mereka sepakat membawa salinan, bukan dokumen asli, ke konsultasi hukum.
Gufta mengirim pesan kepada teman sekelompoknya bahwa ia terlambat mengerjakan bagian tugas karena harus membantu menyortir dokumen keluarga. Giana melihat pesan itu dan mengingatkan bahwa urusan rumah tidak boleh membuatnya kehilangan nilai. Gufta menjawab ia sudah membagi tugas dan akan menyelesaikan bagian presentasi malam itu. Giana tidak memeriksa ponselnya; ia mempercayai jawaban tersebut.
Mereka menemukan amplop lain di bawah buku tabungan. Isinya foto rumah lama dan salinan tagihan listrik dengan nama ayah Giana. Rahma mengenali pagar dan pohon di halaman, tetapi tidak mengingat kapan foto diambil. Gufta tertawa melihat dirinya masih balita duduk di depan pintu, lalu menjadi diam ketika menyadari banyak barang lama sudah tidak mereka miliki.
Giana menyimpan foto itu dalam pelindung plastik. Ia bertanya apakah Gufta ingin ikut melihat rumah suatu hari nanti. Gufta menjawab iya, tetapi bukan kalau mereka datang untuk bertengkar dengan paman. Giana berjanji mereka tidak akan datang tanpa persiapan.
Rahma berkata paman pernah menjemput mereka setelah pemakaman dan membawa sebagian dokumen. Ia tidak tahu apakah ia melakukannya karena ingin membantu atau karena menganggap dirinya berhak mengurus semuanya. Giana meminta Rahma menjelaskan apa yang benar-benar ia ingat. Rahma menyebut paman berkata, "Biar saya saja yang urus rumahnya." Tidak ada penyebutan bahwa rumah akan dialihkan.
Giana menulis kalimat itu dalam catatan dengan keterangan bahwa itu ingatan Rahma. Ia tidak menambahkan makna. Mereka menyepakati bila nanti berbicara dengan paman, pertanyaan pertama hanya tentang keberadaan dokumen dan status rumah saat ini.
Setelah setengah jam, Gufta kembali pada tugas sekolah. Ia meminta Giana memeriksa bagian presentasi, bukan melakukan semuanya. Giana memberi beberapa koreksi dan memuji daftar yang ia susun. Rahma kemudian menyimpan foto dan kuitansi di map, sementara Giana mengirim pesan kepada petugas hukum untuk menanyakan kebutuhan dokumen tambahan.
Keesokan hari, Gufta menunjukkan kalender sekolahnya. Ada ujian pekan depan dan kegiatan kelompok setelah kelas. Giana mengatur agar pencarian dokumen dilakukan setelah ia pulang, bukan meminta Gufta absen. Rahma berterima kasih karena cucunya tidak menjadikan anak itu pengurus utama hanya karena ia pandai menyusun daftar.
Mereka memeriksa map kedua, yang berisi beberapa surat dari bank dan catatan pengeluaran rumah tangga. Satu surat mencantumkan nomor rekening lama yang mungkin pernah digunakan untuk membayar pajak. Rahma tidak ingat apakah rekening itu masih aktif. Giana menyalin nomor ke daftar pertanyaan, tidak membuka rekening atau meminta Gufta mencari akses.
Gufta mengingat paman pernah datang ke rumah sewaan membawa sebuah map plastik. Ia tidak tahu isinya. Giana menuliskan itu sebagai ingatan Gufta, tetapi bertanya apakah ia yakin waktunya setelah pindah. Gufta berkata ia masih kecil dan bisa saja salah. Mereka memberi tanda “belum pasti” di samping catatan itu.
Rahma memutuskan menyimpan cerita keluarga secara terpisah dari percakapan tentang rumah. Ia tidak ingin Gufta merasa harus memilih antara kakaknya dan pamannya. Giana berkata mereka mencari dokumen dan hak, bukan menyuruh siapa pun membenci keluarga.
Setelah tugas kelompoknya selesai, Gufta membantu memasukkan fotokopi ke map. Ia meminta Giana memastikan ia tetap boleh fokus sekolah dan tidak harus menghadiri semua pertemuan. Giana menjawab tentu. Ia akan memberi tahu jika ada pertemuan yang membutuhkan persetujuan atau kenangannya, dan Gufta bisa memilih ikut.
Gufta kembali pada tugas sekolahnya malam itu.