Petugas hukum menerima Giana dan Rahma pada hari berikutnya. Mereka membawa salinan kuitansi, tagihan, dan dokumen identitas. Giana sejak awal menyebut bahwa rumah itu ditempati pamannya setelah orang tuanya meninggal, dan ia ingin tahu hak apa yang masih dapat diperiksa. Ia tidak meminta petugas langsung mengirim surat ancaman.
Petugas memisahkan dokumen menjadi tiga kelompok: bukti pembayaran, catatan alamat, dan bukti hubungan keluarga. Ia menjelaskan bahwa kuitansi pajak atau listrik dapat membantu membangun kronologi, tetapi sertifikat atau catatan resmi pertanahan akan lebih menentukan. Mereka perlu mencari nomor objek atau alamat lengkap untuk meminta pencarian resmi.
Rahma bertanya apakah mereka bisa langsung mengambil rumah kembali. Petugas menjawab ia belum dapat menilai tanpa melihat catatan kepemilikan dan dasar paman tinggal di sana. Ia menyarankan agar mereka tidak mengganti kunci atau mengeluarkan barang sebelum memahami hak serta prosedur. Giana setuju. Ia tidak ingin membuat langkah yang justru merugikan mereka.
Giana menyebut pamannya membawa sebuah map ketika mereka pergi. Petugas bertanya apakah ia punya bukti dokumen asli berada di dalamnya. Giana menjawab tidak. Petugas meminta mereka mencatat fakta itu sebagai ingatan Rahma, bukan sebagai kepastian tentang isi map.
Mereka menyusun permintaan pencarian catatan alamat melalui prosedur yang tersedia. Giana bertanya apakah ia harus menghubungi paman. Petugas berkata ia dapat mengirim permintaan salinan dokumen atau meminta pertemuan, tetapi sebaiknya tidak menuduh sebelum ada data. Petugas menawarkan membantu menyusun surat netral setelah identitas properti ditemukan.
Saat meninggalkan kantor, Rahma tampak lebih tenang daripada sebelumnya. Ia berkata dulu semua terasa seperti keputusan paman yang tidak bisa diganggu gugat. Kini mereka punya daftar pertanyaan dan jalur untuk mencari jawaban. Giana mengingatkan bahwa jalur itu belum menjamin rumah akan kembali kepada mereka.
Gufta membantu memasukkan dokumen ke map setelah pulang. Ia bertanya apakah ia perlu bolos les tambahan untuk menemani mereka ke rumah lama. Giana menjawab tidak. Sekolah tetap prioritas dan ia hanya akan meminta bantuan jika jadwalnya memungkinkan.
Di kantor, Farel mengirimkan jadwal konsultasi berikutnya kepada Giana. Ia tidak bertanya detail rumah. Giana mengatakan bahwa urusan itu keluarga dan tidak berkaitan dengan pekerjaan layanan. Farel mengerti. Aya sedang menguji formulir baru dengan staf lain, termasuk cara meminta persetujuan pihak ketiga dan menjelaskan risiko sebelum kontrak dibuat.
Malam itu, Giana memeriksa kalender. Ada konsultasi hukum, pekerjaan klien, dan jadwal belajar Gufta. Ia mengatur semuanya tanpa meminta Gama membantu. Untuk pertama kalinya, masalah rumah memiliki jalur sendiri, terpisah dari perkara kecelakaan yang masih berjalan.
Petugas hukum bertanya apakah paman pernah memberikan surat kuasa atau laporan pengeluaran. Giana menjawab tidak ada yang mereka temukan. Petugas menasihati agar mereka tidak menyimpulkan dokumen tidak pernah ada hanya karena saat ini tidak berada di tangan mereka. Ia juga menanyakan apakah rumah telah dijual, disewakan, atau ditempati paman. Rahma hanya tahu paman tinggal di sana beberapa tahun dan kemudian menyewakan sebagian ruangan, tetapi ia tidak memiliki bukti tertulis.
Petugas menjelaskan bahwa informasi tersebut perlu diperiksa lewat catatan resmi dan, bila relevan, keterangan pihak paman. Sebelum itu, keluarga dapat meminta salinan riwayat kepemilikan berdasarkan alamat dan nama. Giana bertanya apakah surat dari paman yang meminta mereka pindah masih diperlukan. Rahma mengingat pernah ada pesan singkat, tetapi ponsel lamanya sudah rusak.
Giana tidak menganggap hilangnya pesan sebagai kesalahan Rahma. Mereka mencatat tanggal perkiraan dan isi yang diingat, memberi tanda bahwa sumbernya ingatan. Petugas menyarankan agar mereka tidak menghubungi paman dengan ancaman hukum; surat pertanyaan netral dapat disiapkan setelah catatan resmi diperoleh.
Rahma berkata ia berharap paman hanya menjaga rumah, bukan mengambilnya. Petugas tidak menyatakan siapa yang benar. Ia menjelaskan bahwa kewajiban pengelola dan hak pemilik bergantung pada dokumen serta tindakan yang terjadi. Giana berkata ia ingin tahu fakta lebih dulu sebelum memilih penyelesaian.
Di kantor, Farel dan Aya mengadakan rapat singkat tentang formulir klien. Mereka mengecek apakah staf memahami cara menolak tugas yang meminta penyamaran, dan menguji contoh kasus. Satu staf bertanya apakah mereka boleh menerima peran sebagai saksi keluarga jika semua pihak tahu itu akting. Farel menjawab tugas itu tetap berisiko dan harus ditinjau pimpinan serta disetujui langsung setiap orang yang identitasnya digunakan. Mereka tidak akan menerima begitu saja hanya karena klien menyebutnya lelucon.
Giana memberi masukan bahwa staf perlu mencatat persetujuan lisan yang diberikan pada rapat, tetapi persetujuan tertulis tetap dibutuhkan untuk tugas sensitif. Aya menambahkan kolom penghentian layanan dan pembayaran sesuai jam kerja. Formulir masih diuji; mereka berencana meninjau satu bulan kemudian.
Giana menanyakan apakah ada batas waktu tertentu untuk mengajukan pencarian catatan rumah lama. Petugas hukum memeriksa jenis permintaan dan menjelaskan bahwa mereka perlu segera memastikan dokumen apa yang tersedia sebelum mempertimbangkan langkah berikutnya. Ia tidak memberi tenggat pasti tanpa melihat catatan kepemilikan. Giana meminta semua saran dicatat agar mereka tidak salah mengingat.
Rahma menunjukkan salinan tagihan pajak yang paling lama. Petugas menegaskan kuitansi itu dapat membantu mengarahkan pencarian, tetapi pembayaran pajak tidak dengan sendirinya menetapkan hak milik. Giana berkata ia mengerti dan tidak ingin menggunakan satu kertas sebagai senjata terhadap pamannya.
Mereka menyiapkan surat permintaan informasi yang hanya menanyakan status catatan dan cara memperoleh salinan. Tidak ada tuduhan bahwa paman menggelapkan atau menjual rumah. Giana dan Rahma membaca tiap kalimat sebelum menandatangani. Petugas menyarankan mereka menyimpan bukti pengiriman dan tidak mengirim dokumen asli melalui pos.
Di luar kantor, Rahma berkata ia merasa malu karena harus mengurus hak atas rumah yang dulu ditinggali keluarganya. Giana menjawab meminta kejelasan bukan tindakan memalukan. Rahma mengangguk, meski belum sepenuhnya merasa nyaman. Mereka sepakat melanjutkan dengan ritme yang sanggup mereka jalani.
Giana mengucapkan terima kasih dan menyimpan tanda terima bersama salinan dokumen. Ia membuat pengingat untuk memeriksa status melalui nomor resmi, bukan lewat pesan pribadi.