Pada minggu kesembilan belas, paman mengirim kabar bahwa barang-barang pribadinya telah dipindahkan dari rumah lama. Ia menawarkan waktu untuk menyerahkan kunci dan memeriksa inventaris bersama. Giana mengajak Rahma dan petugas hukum; Gufta menyusul setelah pulang sekolah.
Mereka memeriksa setiap ruangan satu per satu. Ada beberapa barang keluarga yang masih tersimpan, termasuk lemari dan foto lama. Paman menunjukkan kuitansi perbaikan atap dan pagar. Giana mencocokkannya dengan daftar, memberi tanda pada dokumen yang dapat diverifikasi, dan mencatat dua pengeluaran yang masih perlu bukti tambahan.
"Aku tidak ingin semua bantuanku dianggap mengambil rumah," kata paman.
Rahma menjawab ia menghargai perbaikan yang dilakukan, tetapi keluarga tetap perlu mengetahui pengeluaran dan hasil sewa. Paman mengakui catatan sewanya tidak lengkap. Mereka sepakat menulis bagian yang belum diketahui sebagai belum terselesaikan, tidak mengarang jumlah.
Petugas hukum membacakan berita acara serah terima akses dan kunci. Dokumen itu mengakui keluarga memperoleh kembali penguasaan rumah untuk memeriksa dan mengelolanya, tetapi bukan putusan pengadilan atau perubahan kepemilikan. Catatan resmi masih mencantumkan nama ayah Giana dan Rahma. Paman menandatangani bahwa ia menyerahkan kunci dan akan menyerahkan dokumen asli jika ditemukan.
Giana bertanya kepada Rahma apakah ia siap masuk lagi. Rahma mengangguk. Mereka mengambil foto kondisi bangunan dengan persetujuan paman dan mencatat atap bocor, cat mengelupas, serta instalasi yang perlu diperiksa. Mereka tidak memulai renovasi besar hari itu.
Gufta tiba setelah sekolah dan melihat pohon mangga. Ia mengenali cabang yang dulu dipakai untuk ayunan. Ia ingin langsung membawa barang-barang kembali, tetapi Giana meminta mereka menunggu sampai keputusan pindah dibuat. Rumah itu kini bisa mereka akses, namun biaya dan sekolah tetap harus dipikirkan.
Paman menyampaikan bahwa ia akan menyerahkan kuitansi yang tersisa. Rahma mengucapkan terima kasih atas kunci, tetapi tidak mengatakan semua masalah selesai. Paman mengangguk. Mereka berpamitan dengan sopan, tanpa memaksa pelukan atau rekonsiliasi.
Di rumah sewaan, Giana menyimpan berita acara dalam map properti. Ia menuliskan bahwa akses rumah telah kembali, sedangkan pengeluaran dan beberapa dokumen belum selesai. Rahma menyentuh kunci lama yang kini berada di meja. Mereka belum pindah, tetapi untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, keputusan tentang rumah berada kembali di tangan keluarga mereka.
Petugas hukum menjelaskan lebih dulu perbedaan antara penyerahan kunci dan perubahan catatan hak. Keluarga kini mendapat akses dan paman tidak lagi menguasai rumah sehari-hari, tetapi mereka tetap perlu memeriksa dokumen asli serta menuntaskan pendaftaran bila ada berkas yang hilang. Giana meminta semua itu ditulis terpisah agar tidak ada yang menganggap penyerahan kunci sebagai putusan hukum.
Paman membawa kotak berisi salinan tagihan dan menyebut ia belum menemukan sertifikat. Ia berjanji mencari di gudang dan lemari kantor lama. Giana bertanya apakah ia bersedia menandatangani daftar barang yang diserahkan. Paman setuju setelah Rahma menambahkan bahwa daftar itu tidak berarti mereka menerima seluruh hitungan biaya.
Mereka membuka ruang depan dan membuat inventaris. Ada kursi tua, lemari kayu, beberapa buku, dan foto keluarga yang tepinya rusak. Rahma mengenali meja kecil yang dulu dipakai Giana mengerjakan pekerjaan rumah. Gufta menunjuk bekas garis tinggi badannya di dinding. Tidak ada yang memindahkan barang sebelum difoto dan dicatat.
Paman menunjukkan tagihan perbaikan atap. Dua kuitansi memiliki tanggal dan tanda terima; satu hanya berupa catatan tangannya. Giana mengakui dua bukti pertama perlu dibahas sebagai biaya, tetapi meminta waktu memeriksa harga dan persetujuan. Paman berkata ia tidak meminta uang hari itu. Ia ingin keluarganya memahami bahwa ia juga mengeluarkan biaya.
Rahma mengatakan ia menghargai pekerjaan yang dilakukan, tetapi berharap paman memberi kabar selama bertahun-tahun. Paman menjawab ia mengira Rahma tidak ingin kembali karena rumah mengingatkan pada anak dan menantunya. Rahma berkata ia tidak pernah diberi pilihan untuk memutuskan sendiri. Paman menunduk dan tidak membantah.
Petugas membacakan berita acara serah terima. Isinya mencatat kunci, inventaris, dokumen, dan kewajiban mencari sertifikat. Tidak ada kata bahwa seluruh sengketa selesai. Paman meminta agar tanggal penyerahan dicatat, lalu ia dan Rahma menandatangani. Giana menandatangani sebagai saksi keluarga, bukan pemilik yang menggantikan nama orang tuanya.
Setelah paman pergi, Rahma memegang kunci lama dan baru. Ia berkata rumah terasa lebih kecil daripada dalam ingatan. Giana menjawab mereka dapat mengenalnya kembali perlahan. Gufta memilih tidak membawa barang hari itu; ia ingin menunggu sampai ujian selesai.
Mereka menutup pintu bersama dan menyimpan kunci. Akses telah kembali, tetapi rumah perlu diperiksa dan biaya diperhitungkan. Giana merasa lega karena keputusan berada di tangan mereka, sekaligus sadar mereka belum harus menentukan kapan akan pindah.
Sebelum paman pergi, Rahma bertanya apakah ia bersedia menandatangani catatan bahwa keluarga kini memegang kunci dan berhak masuk sesuai berita acara. Paman berkata ia tidak ingin ada kesalahpahaman lagi. Ia menandatangani salinan tambahan dan meminta satu rangkap untuk dirinya. Petugas hukum menjelaskan sekali lagi bahwa dokumen itu mencatat penyerahan akses, bukan mengganti nama pada catatan kepemilikan.
Giana menanyakan kapan sertifikat asli terakhir terlihat. Paman tidak yakin; ia mengira sertifikat berada di map biru yang dibawanya setelah pemakaman. Ia akan mencari di gudang dan menghubungi mereka jika menemukannya. Giana mencatat pernyataan itu sebagai ingatan paman, bukan bukti sertifikat ada di tangannya.
Mereka membuka lemari yang masih terkunci dengan kunci cadangan paman. Di dalamnya ada beberapa surat keluarga, pakaian lama, dan foto-foto. Tidak ada sertifikat. Rahma meminta satu foto dibawa pulang, sementara barang lainnya tetap di tempat sampai inventaris selesai. Paman menyetujuinya.
Gufta memilih tidak langsung menyentuh barang-barang masa kecilnya. Ia berkata ia ingin melihatnya lagi saat tidak terburu-buru. Giana memahami. Mereka mengunci ruangan dan mencatat siapa yang memegang kunci. Keluarga pulang tanpa membawa barang besar, tetapi dengan berita acara dan akses yang sudah disepakati.
Gufta bertanya apakah kunci itu akan disimpan oleh Giana atau Rahma. Rahma mengatakan mereka akan membuat satu salinan dan mencatat siapa yang memegangnya.