Giana mulai membandingkan pilihan belajar yang dapat dijalani sambil bekerja. Ia tidak mencari jalan pintas menuju profesi dokter. Ia mencari pelatihan administrasi dan pembukuan yang jadwalnya fleksibel, dapat dibayar bertahap, serta berguna untuk pekerjaan yang sudah ia lakukan.
Aya membantu membuat tabel biaya dan jadwal. Farel mengingatkan Giana untuk menghitung waktu perjalanan, bukan hanya biaya kelas. Giana menuliskan kebutuhan rumah dan sekolah Gufta di sisi lain halaman. Setelah dihitung, kursus akhir pekan lebih masuk akal daripada program penuh waktu.
Rahma bertanya apakah Giana memilih kelas itu karena mimpi sendiri atau karena kantor membutuhkannya. Giana berkata ia ingin punya keterampilan yang diakui dan kesempatan mengambil pendidikan lebih tinggi nanti. Kelas itu langkah pertama, bukan janji bahwa ia akan menetap selamanya di pekerjaan yang sama.
Gufta ikut memeriksa jadwal. Ia menawarkan membantu pekerjaan rumah saat Giana belajar, tetapi Giana membagi tugas secara wajar dan tidak ingin adiknya menjadi pengganti orang dewasa. Rahma juga akan meminta bantuan tetangga untuk beberapa urusan belanja jika jadwal kelas bertepatan.
Giana memilih program pengelolaan administrasi usaha kecil dengan kelas akhir pekan dan modul daring. Ia membaca syarat, memastikan biaya pendaftaran dan cicilan, lalu menghubungi penyelenggara untuk menanyakan kebijakan jika ia perlu absen. Tidak ada jaminan pekerjaan atau gelar besar dalam iklan itu. Ia mendaftar setelah memahami syaratnya.
Gama mengetahui keputusan itu karena Giana menceritakannya saat mereka bertemu. Ia bertanya apakah ia ingin bantuan mencarikan kelas lain. Giana berkata ia sudah memilih dan tidak meminta biaya. Gama menjawab ia bisa mendukung dengan tidak mengatur jadwal pertemuan mereka saat ia belajar.
"Itu bantuan yang memang aku butuhkan," kata Giana. "Aku ingin waktuku dianggap serius."
Gama menyetujuinya dan meminta maaf jika sebelumnya menganggap ketersediaan Giana selalu bisa dibeli lewat kontrak. Ia tidak menawarkan membayar pendaftaran. Mereka berbicara tentang jadwal dan Giana menunjukkan kalendernya, tanpa menyerahkan keputusan kepada Gama.
Saat bukti pendaftaran masuk, Giana menyimpan kuitansi dan membagi biaya dari penghasilannya sendiri. Rahma menyiapkan makan malam sederhana untuk merayakan. Gufta bersulang dengan gelas air dan berkata kakaknya kini punya tugas rumah dan tugas kelas. Giana tertawa, tetapi merasa bangga karena pilihan itu datang dari dirinya.
Sebelum mendaftar, Giana mencoba satu kelas pengenalan daring. Ia harus membuat akun, mengunggah dokumen, dan memahami jadwal tugas. Ia menyadari bagian administrasi yang terlihat sederhana tetap membutuhkan waktu. Ia menuliskan pertanyaan tentang dukungan teknis dan kebijakan pembayaran bila ada keadaan keluarga.
Penyelenggara menjawab bahwa materi dapat diakses selama satu minggu, tetapi ujian harus diikuti pada jadwal tertentu. Giana meminta rincian biaya tambahan untuk ujian dan sertifikat. Ia membandingkannya dengan dua pilihan lain yang lebih dekat, lalu menemukan kelas akhir pekan paling sesuai walau durasinya lebih lama.
Aya menyarankan agar Giana tidak mendaftar karena ingin segera membuktikan diri kepada siapa pun. Giana berkata ia sudah mempertimbangkan biaya dan jadwal. Ia memilihnya karena ingin punya keterampilan administrasi yang dapat dipakai di tempat kerja maupun usaha lain, bukan demi gelar yang terdengar tinggi.
Rahma membantu menghitung anggaran. Mereka menentukan bagian penghasilan yang boleh dipakai, tetap menyisihkan biaya sekolah Gufta dan obat. Giana memilih membayar cicilan bulanan dari pendapatannya. Ia tidak menggunakan uang keluarga Pradipta dan tidak meminta Gama membayar.
Pada kelas pertama, Giana duduk di meja kecil dekat jendela. Ia membaca modul tentang pencatatan transaksi dan mengerjakan latihan setelah Gufta tidur. Ia membuat beberapa kesalahan, lalu memeriksa kembali tanpa meminta jawaban dari orang lain. Keesokan harinya ia bercerita kepada Rahma bahwa belajar terasa melelahkan sekaligus menyenangkan.
Gufta mengusulkan mereka membuat jadwal rumah: ia mencuci piring dua malam, Rahma mengurus belanja pagi, dan Giana belajar pada Sabtu sore. Giana memastikan pembagian itu tidak membebani adiknya. Gufta berkata ia memilihnya sendiri dan tugasnya tetap ringan. Mereka mencoba jadwal selama dua minggu, lalu akan meninjau ulang.
Gama bertanya apakah Giana ingin ia membantu mencari program beasiswa atau membayar sebagian biaya. Giana menjawab belum; ia ingin mengurus biaya dari pendapatannya sekarang. Ia menerima dukungan berupa penghormatan terhadap jadwal. Gama berkata ia tidak akan mengirim tautan atau menghubungi penyelenggara tanpa diminta.
Giana menyimpan bukti pendaftaran dan menuliskan tujuan yang realistis: menyelesaikan modul dasar, mengevaluasi biaya, kemudian memutuskan apakah akan mengambil kelas lanjutan. Mimpi pendidikan yang dulu tertunda tidak harus langsung diwujudkan dalam bentuk paling besar. Satu langkah dapat cukup untuk membuka pilihan berikutnya.
Giana membuat simulasi anggaran untuk tiga bulan pertama. Ia menghitung biaya kursus, transportasi, makanan, sewa, dan kebutuhan sekolah Gufta. Jika ada bulan yang berat, ia dapat menunda modul berikutnya tanpa kehilangan seluruh biaya. Ia bertanya kepada penyelenggara tentang kebijakan jeda dan menerima jawaban tertulis sebelum membayar.
Ia meminta saran dari Farel tentang pencatatan biaya kantor, bukan tentang masa depannya. Farel menjelaskan perangkat yang mereka pakai dan menyarankan kelas yang memiliki latihan nyata. Giana membandingkan silabus, lalu memilih kursus yang tidak menjanjikan pekerjaan instan. Ia ingin belajar dasar yang dapat ia pakai, bukan membeli label.
Rahma juga menanyakan apakah Giana ingin kembali belajar penuh waktu suatu hari. Giana menjawab ia belum tahu. Selama Gufta masih sekolah dan rumah mereka belum stabil, kelas akhir pekan terasa paling mungkin. Ia tidak ingin memutuskan seluruh masa depannya hanya karena akhirnya mendaftar satu program.
Pada malam sebelum kelas, Giana menyiapkan buku, alat tulis, dan jadwal. Gufta menawarkan mengambil alih belanja kecil pada hari Sabtu. Giana menerima tawaran itu setelah memastikan tugas sekolahnya tidak terganggu. Mereka menuliskan tugas rumah secara bergantian, supaya bantuan tidak menjadi beban tetap bagi Gufta.
Kelas percobaan menunjukkan Giana perlu mengulang materi dasar angka. Ia tidak malu mengakui hal itu kepada Aya. Aya mengingatkan bahwa belajar berarti menemukan apa yang belum dikuasai, bukan berpura-pura sudah tahu. Giana tertawa dan mencatat jadwal belajar singkat setiap malam.