Pada awal minggu kedua puluh, Giana mengajak Gama berjalan setelah kelas percobaan. Ia ingin menceritakan bagaimana rasanya kembali belajar dan berbicara tentang sesuatu selain kecelakaan atau keluarga. Gama bertanya apakah ia ingin ditemani sebagai teman. Giana menjawab ia belum ingin memberi label, tetapi ia memang memilih bertemu dengannya.
Mereka duduk di kedai dekat tempat kursus. Giana bercerita bahwa kelas pertama terasa lebih sulit dari perkiraannya karena ia lama tidak mengerjakan tugas terstruktur. Ia juga senang saat memahami satu modul pembukuan. Gama mendengarkan dan bertanya bagian mana yang paling ia suka, tanpa menawarkan untuk mengurus tugasnya.
Giana bertanya apakah Gama masih berharap mereka menjadi pasangan. Gama menjawab ia tertarik mengenalnya, tetapi ia tidak ingin menganggap ketertarikan itu sebagai hak. Ia bisa menerima jika Giana mengubah pikirannya.
"Aku tidak ingin semua percakapan kita hanya berlangsung saat ada masalah," kata Giana. "Aku ingin mengenalmu, tapi pelan-pelan dan karena aku sendiri ingin. Kalau aku bilang berhenti, kita berhenti."
Gama menyetujui. Ia bertanya apakah ia boleh mengajak Giana makan minggu depan. Giana berkata ia boleh mengajak, dan ia akan menjawab sesuai waktu serta perasaannya. Mereka tidak menyebutnya kencan resmi.
Gama bercerita bahwa ia sedang belajar berbicara dengan Diandra tanpa mengancam pergi atau menuntut ibunya mengaku benar. Ia tidak meminta Giana menjadi penengah. Giana berkata hubungan keluarga mereka perlu dibangun tanpa ia menjadi jembatan. Gama mengatakan ia memahami.
Mereka membicarakan hal ringan: buku yang Giana baca, makanan yang Gama tidak bisa masak, dan bagaimana Farel selalu mengira semua masalah dapat diselesaikan dengan membuat daftar. Giana merasa percakapan itu berbeda dari saat ia berperan sebagai kakak palsu; ia tidak perlu menjaga citra keluarga atau menyelesaikan acara.
Saat pulang, Gama bertanya apakah ia boleh mengirim pesan tentang kelas. Giana menjawab boleh, tetapi tidak perlu setiap hari. Ia juga berkata ia akan menghubunginya jika ingin bertemu lagi. Gama menerima tanpa meminta tanggal.
Di rumah, Giana menceritakan kepada Rahma bahwa ia ingin terus mengenal Gama. Rahma bertanya apakah keputusan itu terasa bebas. Giana menjawab iya, sejauh ini. Rahma mengingatkan ia boleh mengubah pikiran. Giana berkata ia tahu.
Gufta mendengar dari dapur dan bertanya apakah mereka perlu menyiapkan pesta. Giana menyuruhnya menyelesaikan tugas dulu. Tidak ada pesta atau pengumuman hubungan. Hanya sebuah pilihan kecil yang dibuat Giana sendiri.
Setelah mereka berjalan beberapa menit, Giana bertanya bagaimana Gama menghabiskan akhir pekan ketika tidak ada acara keluarga. Gama bercerita ia biasanya membaca laporan kerja atau mengunjungi Geraldi. Ia ingin mencoba memasak lagi, walau pengalaman terakhir membuat dapur berasap. Giana bertanya apakah alarm kebakaran menjadi saksi. Gama mengaku iya, dan mereka tertawa.
Giana bercerita tentang hal yang ia sukai sebelum hidupnya dipenuhi tanggung jawab: membaca novel, berjalan ke pasar bersama ibunya, dan duduk lama di teras. Ia tidak pernah menganggap hobi itu sebagai sesuatu yang penting, tetapi kini sadar ia ingin memiliki waktu untuk dirinya sendiri. Gama tidak menawarkan mengatur kegiatan; ia bertanya apa yang ingin Giana lakukan lebih dulu.
"Aku ingin punya satu hari tanpa daftar kewajiban," katanya. "Tapi mungkin itu belum realistis. Aku bisa mulai dengan dua jam membaca." Gama berkata ia akan mendukung, lalu berhenti dan mengoreksi, "Maksudku, aku tidak akan mengganggu dua jam itu. Kamu tidak perlu menyebutnya dukungan kalau itu cuma menghormati waktumu."
Giana mengatakan ia menghargai koreksi tersebut. Mereka berbicara tentang bagaimana mereka ingin menjalani hubungan jika suatu hari hubungan itu berkembang. Gama berkata ia ingin terbuka tentang keluarganya dan tidak menjadikan Giana juru damai. Giana berkata ia ingin bisa menolak tanpa takut kehilangan pekerjaan atau rasa hormat.
Mereka tidak menyepakati status apa pun. Giana mengatakan ia ingin satu pertemuan lagi, tetapi belum tentu minggu depan. Ia akan melihat jadwal kelas dan keadaan rumah. Gama menjawab ia tidak akan mengirim undangan berulang kali. Giana sendiri yang akan menghubungi jika ingin mengatur waktu.
Sebelum berpisah, Giana memastikan Gama memahami bahwa ia belum memaafkan semua hal. Gama menjawab ia tahu; mengenal satu sama lain sekarang bukan penghapusan masa lalu. Mereka pulang dengan kendaraan berbeda, tanpa foto atau pengumuman kepada keluarga.
Dalam perjalanan pulang, mereka berhenti di toko buku kecil. Giana membeli satu buku catatan untuk kelasnya dengan uang yang sudah ia sisihkan. Gama bertanya apakah ia ingin ia membayar. Giana menjawab tidak, tetapi berterima kasih karena ia bertanya lebih dulu. Gama tidak mengulang tawaran.
Giana berkata ia menghargai perubahan kecil itu, tetapi ia juga ingin Gama memahami bahwa sopan santun bukan bukti lengkap perubahan. Gama menjawab ia tidak berharap dinilai dari satu hari. Ia akan terus mengusahakannya karena ia tidak ingin mengulang cara lama kepada siapa pun.
Mereka kemudian membicarakan batas komunikasi dengan keluarga. Giana tidak ingin Diandra atau Aninta menjadikan Gama perantara untuk meminta maaf lagi. Gama berkata ia akan menyampaikan bahwa Giana menentukan sendiri apakah dan kapan mereka bertemu. Ia tidak akan menyampaikan isi percakapan mereka tanpa izin.
Giana bertanya apakah Gama masih marah kepada keluarganya. Gama menjawab ia kecewa dan sedang belajar mengungkapkannya tanpa ancaman. Ia belum tahu bentuk hubungan yang akan mereka miliki. Giana berkata ketidakpastian itu lebih jujur daripada berpura-pura semua sudah membaik.
Mereka berjalan sampai persimpangan lalu berpisah. Giana mengirim pesan kepada Aya bahwa ia pulang sendiri. Ia tidak merasa harus menyembunyikan pertemuan itu, tetapi belum ingin menjadikannya pengumuman. Hubungan mereka masih berkembang di ruang kecil yang Giana pilih sendiri.
Giana mengatakan ia akan menghubungi Gama jika ingin berbicara lagi. Ia tidak meminta Gama menunggu atau menjanjikan tanggal tertentu.
Ia pulang dengan tenang, membawa buku catatan baru dan tanpa janji yang belum ia pilih.
Pilihan itu tetap sepenuhnya miliknya.
Ia tidak merasa perlu menjelaskan pilihannya kepada siapa pun.