Nama pemuda itu Hardi. Pram mencari tahu dari Topik—anak dusun campuran, dua puluh tahunan, anak sulung dari keluarga yang sangat miskin. Ayahnya sakit-sakitan, ibunya berjualan gorengan kecil-kecilan, dan ada dua adik yang masih sekolah. Keluarga yang persis seperti banyak keluarga di Kedungwaru: hidup dari hari ke hari, satu langkah dari jatuh.
Pram tahu ia harus berhati-hati. Mendatangi saksi pihak lawan di tengah sengketa bisa diputar jadi tuduhan baru—intimidasi, suap, apa saja. Maka ia tidak mengirim Topik, tidak mengirim siapa pun. Ia datang sendiri, sore hari, ke rumah kecil berdinding gedek di pinggir dusun, dan ia datang bukan untuk mengancam.
Hardi pucat melihatnya di depan pintu. "Mas Pram—saya tidak—saya tidak mau ada masalah—"
"Aku tidak bawa masalah," kata Pram tenang, berdiri di luar pagar, tak masuk, supaya tetangga bisa melihat ia tak melakukan apa-apa yang tersembunyi. "Aku cuma mau ngobrol. Kamu boleh suruh aku pergi kapan saja."
Hardi ragu, lalu, mungkin karena merasa lebih aman kalau bicara di tempat terbuka, ia keluar dan berdiri di balik pagar. Dari dalam rumah terdengar suara batuk lelaki tua—ayahnya. Pram menangkap aroma gorengan yang sudah dingin, dan melalui pintu yang setengah terbuka ia melihat ruangan yang nyaris kosong, tikar, dan dua anak kecil mengerjakan PR di bawah lampu redup.
"Aku tidak akan tanya kamu kenapa bersaksi begitu," kata Pram pelan, matanya menyusuri rumah itu lalu kembali ke wajah Hardi. "Aku cuma mau bilang satu hal. Waktu kamu ngomong di sidang kemarin, kamu nggak bisa natap mata orang. Suaramu nyangkut tiap kali bilang 'ditekan'. Aku pelatih bola dulu, Di. Aku biasa baca pemain yang lagi nyimpen sesuatu. Dan kamu lagi nyimpen sesuatu yang berat."
Hardi membuang muka, rahangnya mengeras, dan untuk waktu yang lama ia tak bicara. Lalu, tanpa Pram bertanya lagi, sesuatu di dalamnya runtuh—seperti Gunawan dulu, seperti orang yang sudah terlalu lama menahan beban yang bukan miliknya.
"Bapak saya butuh obat tiap bulan, Mas," katanya, suaranya hampir tak terdengar. "Mahal. Adik saya dua, masih sekolah. Ibu saya jualan gorengan, sehari dapat berapa sih." Ia menelan ludah, matanya berair. "Orang Carik datang. Dia bilang gampang. Cuma disuruh ngomong di sidang, baca yang sudah ditulis, bilang ibu-ibu nekan saya di TPS. Padahal nggak ada yang nekan saya, Mas. Saya datang sendiri, saya coblos sesuai hati saya. Tapi dia kasih uang—lumayan, cukup buat obat bapak dua bulan—dan saya..." suaranya pecah. "Saya butuh, Mas. Saya butuh banget."
Pram berdiri diam. Dan inilah, sekali lagi, dilema yang sama yang menghantuinya sejak hari pertama pulang—dilema yang punya wajah, punya nama, punya batuk ayah yang sakit di balik dinding gedek. Kalau ia membongkar kebohongan Hardi di sidang, kesaksian palsu kubu Pak Har akan runtuh, dan kemenangannya akan aman. Tapi Hardi akan hancur—dituduh bersaksi palsu, mungkin diproses, dan keluarga miskin itu akan kehilangan satu-satunya uang yang menjaga ayahnya tetap berobat. Pram akan menang dengan menginjak keluarga yang sama persis dengan keluarga yang ia perjuangkan.
Ia bisa saja melakukannya. Itu jalan tercepat, terbersih secara taktik, dan Lik Wage pasti akan menyuruhnya begitu. Bongkar saksi yang dibeli, menangkan sengketa, urus hati nuranimu nanti.
Tapi Pram teringat malam ketika ia tak memecat Gunawan. Ia teringat ayahnya, yang menolak amplop sampai mati bukan karena ia tak butuh uang, tapi karena ia menolak menjadi sama dengan orang yang memberinya. Dan ia menyadari bahwa kalau ia memenangkan kursi dengan menghancurkan Hardi, ia akan menang dengan menjadi persis seperti mesin yang ia lawan—mesin yang menemukan titik paling lemah seseorang lalu memerasnya.
"Di," katanya akhirnya, pelan, "aku nggak akan bongkar kamu di depan orang. Aku nggak akan permaluin kamu, nggak akan bikin keluargamu hancur. Itu janji."
Hardi mengangkat wajahnya, terkejut, hampir tak percaya. "Tapi—Mas butuh kesaksian saya buat menang—"
"Aku butuh menang dengan cara yang bikin aku masih bisa ngaca," potong Pram. "Ada cara lain. Kamu nggak perlu naik ke sidang dan ngaku bohong di depan semua orang. Kamu cuma perlu menarik kesaksianmu—bilang ke panitia, ke pengawas kecamatan, sendirian, tertulis, bahwa kamu mau mencabut keterangan karena tidak benar. Nggak perlu sebut nama siapa yang nyuruh, nggak perlu drama. Cukup tarik. Kesaksian yang ditarik itu gugur. Dan martabatmu tetap utuh."
Hardi menatapnya, dan air matanya jatuh sekarang—bukan air mata takut, melainkan air mata orang yang baru saja diberi jalan keluar dari beban yang ia kira tak ada ujungnya. "Tapi uang yang sudah saya pakai, Mas. Obat bapak—"
"Uang itu urusan nanti," kata Pram. "Kita cari jalan buat obat bapakmu, sama kayak kita cari buat ibunya Gunawan dulu. Urunan, koperasi, apa saja yang halal. Tapi yang penting sekarang: kamu nggak usah jadi alat orang buat ngerampas suara desamu sendiri." Ia menatap pemuda itu. "Kamu coblos sesuai hatimu di TPS, kan? Jaga itu. Jangan biarkan orang beli hatimu cuma karena kamu lagi susah."
Pram pulang sore itu tanpa kemenangan di tangan—Hardi belum berjanji apa-apa, masih ragu, masih takut. Tapi ia pulang dengan sesuatu yang lebih berat dan lebih bersih daripada kemenangan cepat: pilihan untuk menukar jalan pintas dengan martabat seorang pemuda miskin yang bukan musuhnya, melainkan korban dari mesin yang sama yang menggerus mereka semua.