Hardi datang ke balai desa dua hari kemudian, sendirian, pagi-pagi sebelum sidang lanjutan dibuka. Ia menemui pengawas kecamatan dan ketua panitia, membawa selembar surat yang ia tulis tangan sendiri, dan dengan suara gemetar tapi mantap, ia mencabut kesaksiannya. Tak ada nama yang ia sebut, tak ada tuduhan balik. Cuma satu kalimat sederhana: keterangan yang ia berikan tidak benar, dan ia ingin menariknya.
Kabar itu menjalar ke sidang seperti retakan di kaca. Carik mencoba menyelamatkan keadaan, berargumen bahwa pencabutan satu saksi tak menggugurkan keberatan secara keseluruhan. Tapi begitu satu saksi runtuh dan terang-terangan menyatakan keterangannya palsu, kredibilitas dua saksi lainnya ikut goyah. Pengawas kecamatan, yang sejak awal mencatat segalanya dengan cermat, mulai menatap tuduhan intimidasi itu dengan mata yang berbeda. Kalau satu saksi mengaku dibeli, berapa banyak lagi?
Pemeriksaan berlarut beberapa hari. Lik Wage bertarung di meja dengan keahlian yang membuat Pram diam-diam bersyukur—dan diam-diam tetap waspada—membongkar satu per satu kelemahan keberatan kubu Pak Har. Tuduhan suara siluman runtuh karena data daftar hadir cocok sempurna dengan daftar pemilih tetap, ditandatangani saksi kedua pihak tanpa keberatan saat itu. Tuduhan intimidasi runtuh karena saksi kuncinya mencabut keterangan, dan dua saksi sisanya tak punya bukti selain kata-kata yang kini diragukan. Permintaan pemungutan suara ulang ditolak karena tak ada dasar pelanggaran yang cukup.
Dan sepanjang itu, Pram menyaksikan sesuatu yang tak ia duga tentang dirinya sendiri: ia mulai mengerti medan ini. Bukan jadi ahli—jauh dari itu—tapi ia tak lagi sepenuhnya buta. Ia belajar bahwa di meja, seperti di lapangan, yang menang bukan yang paling keras berteriak, melainkan yang paling sabar, paling teliti, dan paling tahan terhadap provokasi. Setiap kali kemarahan naik di dadanya saat Carik memutarbalikkan fakta, Pram menahannya, dan menyerahkan bantahan pada Lik Wage atau pada dokumen. Diam yang terkendali, sekali lagi, lebih kuat daripada teriakan.
Pada hari yang ditentukan, ketua panitia P2KD, didampingi pengawas kecamatan, mengumumkan keputusannya di balai desa yang kembali penuh. Suasananya berbeda dari malam penghitungan—tak ada euforia, tak ada deru, hanya ketegangan yang sunyi dan menahan napas.
"Setelah memeriksa seluruh keberatan yang diajukan," kata ketua panitia, suaranya berusaha rata meski tangannya sedikit gemetar memegang kertas, "panitia menyimpulkan bahwa keberatan tidak didukung bukti yang cukup. Dugaan pemilih siluman tidak terbukti; data kehadiran sesuai daftar pemilih tetap. Dugaan intimidasi tidak terbukti; saksi utama telah menarik keterangannya, dan keterangan lain tidak didukung bukti. Permohonan pemungutan suara ulang ditolak." Ia menelan ludah, lalu mengangkat suaranya. "Maka, hasil pemilihan kepala desa Kedungwaru dengan ini dikukuhkan. Calon terpilih sebagai kepala desa adalah Prabasta Wijanarko."
Kali ini tak ada ledakan sorak seperti malam itu. Ada jeda panjang, seakan desa butuh waktu untuk benar-benar percaya bahwa kali ini hasilnya tak bisa dicabut lagi. Lalu, pelan-pelan, sorak itu datang—lebih dalam, lebih lega daripada euforia mentah malam penghitungan. Topik menutup wajahnya dengan kedua tangan. Bu Lastri menangis. Bu Painem mengangkat kedua tangannya ke langit. Lik Wage, di sudut, cuma tersenyum tipis dan menyalakan rokok, seolah ini cuma satu lagi pertandingan yang ia menangkan di meja.
Pram berdiri, dadanya penuh oleh sesuatu yang lebih rumit daripada kebahagiaan. Ia menang. Benar-benar menang sekarang, sah, tak tergoyahkan. Tapi ia juga tahu apa yang menanti di balik pintu kemenangan ini, dan itu yang membuatnya tak bisa sepenuhnya bersorak.
Di seberang ruangan, Pak Har berdiri pula. Ia tak protes, tak mengamuk, tak meninggalkan ruangan dengan marah. Sebaliknya, lelaki tua itu berjalan menyeberangi balai—pelan, tenang, dengan wajah yang sudah memulihkan senyumnya—dan mengulurkan tangan pada Pram. Ruangan menahan napas. Pram menyambutnya, dan genggaman Pak Har sama hangat, sama tebal seperti di tahlilan ayahnya dulu.
"Selamat, Le," kata Pak Har, dan suaranya tulus, atau setulus suara yang sudah bertahun-tahun dilatih untuk terdengar tulus. "Kamu menang. Bersih. Aku terima." Ia menahan genggaman itu sebentar, lalu mencondongkan kepalanya sedikit, dan berbisik—cukup pelan agar hanya Pram yang dengar, cukup tenang agar tak ada yang curiga. "Tapi kamu tahu, Le, menang itu yang gampang. Memimpin lebih susah daripada menang. Sekarang separuh desa yang kamu lihat di ruangan ini, dapurnya bergantung pada apa yang mau kamu tutup. Mereka pilih kamu hari ini—atau diam waktu kamu menang. Lihat saja besok, waktu perut mereka mulai lapar gara-gara kamu." Ia melepas genggaman, tersenyum lebar untuk semua orang yang menatap, dan menepuk bahu Pram seperti seorang paman yang bangga. "Selamat sekali lagi, Pak Kepala Desa."
Lalu ia berbalik dan keluar dari balai dengan kepala tegak, masih disalami orang-orang yang mencintainya, masih dihormati, kalah tapi sama sekali belum tumbang. Dan Pram berdiri di tengah sorak pendukungnya sendiri, memegang kemenangan yang baru saja dikukuhkan, sambil merasakan kebenaran dingin dari bisikan tadi mulai mengendap di perutnya seperti batu.