Pelantikan masih beberapa hari lagi, dan di sela waktu yang aneh itu—sudah menang, belum berkuasa—Pram mulai merasakan bahwa kemenangan yang ia kejar berbulan-bulan ternyata bukan garis akhir, melainkan pintu yang membuka ruangan kosong.
Malam setelah hasil dikukuhkan, tim berkumpul di garasi untuk terakhir kalinya sebagai tim sukses. Ada syukuran kecil—nasi bungkus, teh manis, gorengan yang dibawa Bu Painem. Mereka tertawa, mengenang hari-hari ketok pintu, malam-malam rapat di bawah bohlam, subuh yang dijaga ibu-ibu. Untuk satu malam, Pram membiarkan dirinya ikut larut, ikut tertawa, ikut merasakan bahwa sesuatu yang mustahil telah mereka kerjakan bersama dari bahan seadanya.
Tapi ketika nasi habis dan teh dingin, satu per satu mereka mulai pamit—dan dalam cara mereka pamit, Pram merasakan tim itu mulai bubar, kembali ke hidup masing-masing seperti pemain yang turun dari lapangan setelah peluit panjang. Bu Painem dan ibu-ibu pengajian kembali ke dapur dan pengajian mereka, tugas mereka tuntas. Sebagian pemuda akan kembali serabutan, sebagian—Pram menangkapnya dari cara bicara mereka—mulai berharap. Berharap pada sesuatu yang belum sempat ia pikirkan.
"Mas," kata salah satu pemuda, setengah bercanda tapi matanya serius, "sekarang Mas kepala desa. Kita yang bantuin Mas dari nol, kan dapat... apa gitu? Kerjaan di kantor desa, mungkin?"
Pram tersenyum, tapi di dalam dadanya ada yang mengkerut. Inilah benih pertama dari masalah yang baru ia sadari: ia menang dengan janji untuk berbeda dari Pak Har, dengan janji bahwa kursi ini bukan tempat membagi-bagi rezeki pada orang dekat. Tapi orang-orang yang berjuang untuknya juga manusia, juga lapar, juga berhak berharap. Bagaimana ia membalas kesetiaan mereka tanpa menjadi persis seperti mesin yang ia robohkan?
Lik Wage, yang duduk di sudut, mengamati pertukaran itu dengan senyum tipis yang tahu segalanya. Setelah pemuda itu pergi, ia mendekat dan berkata pelan, "Itu baru permulaan, Le. Besok lebih banyak yang datang. Yang dukung kamu mau bagian. Yang dukung Pak Har mau aman. Dan kamu—" ia menyalakan rokok, "—kamu belum punya apa-apa buat dibagi. Tidak uang. Tidak kerjaan. Cuma janji nutup tambang, yang kalau kamu kerjakan, malah bikin orang kehilangan kerjaan. Kamu sadar itu, kan?"
Pram menyadarinya. Itu yang membuatnya tak bisa tidur malam itu. Ia duduk sendiri di garasi yang sudah kosong, menatap papan tulis bekas yang masih ada coretan peta desa hasil kampanyenya—garis-garis dusun, tanda-tanda basis suara, formasi yang ia susun seperti formasi bola. Semua itu untuk satu tujuan: menang. Dan ia telah menang.
Tapi sekarang, di belakang garis-garis itu, ia melihat untuk pertama kalinya betapa kosongnya rencananya untuk hari sesudah kemenangan. Ia tahu cara merebut suara. Ia tahu cara melawan amplop dengan terang, melawan fitnah dengan diam terkendali, melawan gugatan dengan dokumen. Tapi ia tak tahu—sama sekali tak tahu—bagaimana cara menutup tambang tanpa mematikan dapur Mbok Surti, sekolah Yatno, motor yang diangsur, daging seminggu sekali. Ia tak tahu cara memberi orang sesuatu untuk hidup setelah ia mengambil satu-satunya yang mereka punya.
Seluruh kampanyenya dibangun di atas satu pertanyaan: truk siapa yang akan menggendong anak kita menyeberang kalau jembatan ambruk? Pertanyaan itu memenangkannya tujuh belas suara. Tapi sekarang ada pertanyaan baru, pertanyaan yang dilemparkan pemuda penambang di TPS, pertanyaan yang dibisikkan Pak Har di balai—dan pertanyaan ini, Pram tak punya jawabannya: kalau tambang tutup, anak mereka makan apa?
Ia mengeluarkan ponselnya, membuka grup tim bola lamanya di kota yang sudah berbulan-bulan tak ia balas—dunia yang sederhana, dunia tempat menang berarti mencetak gol lebih banyak, dan setelah peluit panjang semua orang pulang dengan tenang. Ia menatap layar itu lama, lalu menutupnya tanpa membalas. Tak ada peluit panjang di sini. Di Kedungwaru, kemenangan bukan akhir pertandingan. Ia justru tendangan pertama dari babak yang jauh lebih panjang dan jauh lebih sulit—babak di mana ia tak lagi cuma harus merebut suara, melainkan harus benar-benar memimpin desa yang separuhnya mencintai apa yang ia bersumpah untuk hancurkan.
Di luar, truk pasir lewat lagi, lampunya menyapu dinding garasi seperti ratusan malam sebelumnya, lalu hilang ke arah tikungan yang masih digerus, masih melahap, tak peduli siapa yang baru saja menang. Dan Pram menyadari bahwa tikungan itu tak akan berhenti dengan sendirinya hanya karena ada kepala desa baru. Untuk menghentikannya, ia harus tahu caranya—dan ia akan memulai, esok pagi, dari titik nol sekali lagi, di kursi yang dulu milik lawannya, dikelilingi orang-orang yang setia pada orang lama, dengan kuasa yang ternyata jauh lebih kecil daripada yang ia kira ia menangkan.
Ia mematikan bohlam garasi, dan untuk pertama kalinya sejak ia nekat mendaftar di hari terakhir itu, Pram tidur sebagai pemenang—tidur yang gelisah, ringan, dan sama sekali tidak tenang.