Pelantikan digelar di halaman balai desa pada pagi yang sudah panas sejak pukul tujuh. Tenda terpal biru dipasang serampangan, kursi-kursi plastik disusun rapat, dan di bagian depan berdiri meja panjang berkain merah tempat camat dan rombongan kecamatan duduk. Pram mengenakan kemeja batik yang dipinjam dari pamannya, terlalu longgar di bahu, dan ia merasa seperti anak yang dipaksa memakai baju orang dewasa. Di tangannya tergenggam kertas berisi naskah sumpah jabatan yang sudah ia baca tiga kali tadi malam, kata demi kata, sampai ia hafal tapi tetap tak yakin ia mengerti seluruh beratnya.
Warga datang berbondong-bondong. Sebagian karena ingin menyaksikan sejarah—dua belas tahun mereka tak pernah melihat orang selain Hartono Sumarno duduk di kursi itu. Sebagian datang karena penasaran pada anak rantau yang nekat ini. Dan sebagian, Pram tahu, datang karena mereka selalu datang ke acara desa, sebab di acara desa ada makan gratis, ada tetangga, ada panggung untuk melihat dan dilihat. Ia memandang lautan kepala itu dari kursi depan dan menyadari bahwa ia tak bisa membedakan mana yang memilihnya dan mana yang tidak. Wajah-wajah itu sama saja: ramah, ingin tahu, lelah.
Lalu camat berdiri, menyebut namanya, dan Pram melangkah ke depan dengan lutut yang tiba-tiba terasa seperti karet. Ia mengangkat tangan kanan. Pengeras suara yang sudah tua mendengung pelan saat ia membaca sumpah: bahwa ia akan setia kepada negara, menjalankan tugas sebaik-baiknya, seadil-adilnya, untuk seluruh warga Desa Kedungwaru. Suaranya pecah sedikit di kata terakhir. Seluruh warga. Bukan sebagian. Bukan yang memilihnya saja. Seluruhnya—termasuk mereka yang malam ini akan pulang dan berdoa diam-diam supaya ia gagal.
Tepuk tangan menggema. Camat menyalami, menyerahkan map berisi surat keputusan, mempersilakannya menempati kursi. Foto-foto diambil dengan ponsel. Dan di antara semua itu, dari barisan tamu kehormatan, Hartono Sumarno bangkit.
Pak Har datang mengenakan baju koko putih bersih, songkok hitam, senyum yang sama hangatnya seperti di tahlilan ayah Pram berbulan-bulan lalu. Ia melangkah dengan tenang seorang lelaki yang tak pernah terburu-buru karena tak pernah merasa kalah. Tangannya terulur lebih dulu, menjabat tangan Pram erat, dan di hadapan kamera ponsel yang menyala-nyala, ia merangkul bahu Pram seperti seorang ayah merangkul anak. Warga bersorak. Inilah gambar yang akan beredar di grup-grup: petahana yang besar hati, kades baru yang diberkati pendahulu. Damai. Indah.
Lalu, dengan bibir yang nyaris tak bergerak, dekat ke telinga Pram saja, Pak Har berbisik.
"Lihat baik-baik, Le." Suaranya hangat, datar, tanpa ancaman sedikit pun—dan justru itu yang membuat bulu kuduk Pram berdiri. "Coba kamu hitung. Dari semua orang yang tepuk tangan barusan, separuh lebih makan dari pasir di tikungan itu. Penambang, sopir, kuli, warung. Mereka tersenyum sama kamu hari ini karena kamu menang. Tapi yang kamu janji mau tutup—itu dapur mereka." Ia menepuk pundak Pram pelan, sekali, dua kali, gerakan yang dari kejauhan tampak seperti restu. "Selamat memimpin. Aku doakan kamu tahan."
Kemudian ia melepas, mundur, melambai pada warga, dan duduk kembali seakan tak terjadi apa-apa. Pram berdiri di sana dengan map surat keputusan di tangan, senyum yang menempel di wajahnya seperti kertas basah, sementara di dalam dadanya kalimat itu menggaung. Separuh lebih. Makan dari pasir.
Acara berlanjut. Ada sambutan, ada doa, ada nasi kotak. Pram menyalami antrean warga satu per satu, menerima ucapan selamat, menghafal wajah, menelan rasa asing yang makin lama makin tebal. Beberapa ibu pengajian—Bu Painem di antaranya—menjabat tangannya dengan mata berkaca-kaca, bangga, dan ia bersyukur masih ada wajah yang ia kenal alasannya. Tapi di belakang mereka berdiri pula orang-orang yang ia tahu bekerja di tikungan: lelaki bertubuh kekar dengan kulit gosong matahari, yang menyalaminya sopan tapi tanpa hangat, tangan kapalan yang menggenggam tangannya sebentar lalu cepat-cepat ditarik.
Siang merangkak. Tenda mulai sepi. Dan ketika sebagian besar tamu sudah pulang, seorang lelaki tua bertopi pet menggiringnya masuk ke dalam balai. Pak Carik. Ia tersenyum, membungkuk sedikit, dan dengan nada penuh hormat berkata, "Mari, Pak Kades. Saya antar ke ruangan Bapak."
Kursi itu menunggu di balik meja kayu jati yang berat, menghadap jendela yang memandang ke arah jalan desa. Di dinding tergantung foto-foto presiden dan gubernur, dan di sudut, foto serah-terima jabatan dua belas tahun lalu—Hartono muda, tersenyum, menerima kursi yang kini diserahkan pada Pram. Pram duduk. Kursinya berderit. Di atas meja ada tumpukan map, sebuah stempel di kotak kayu, segelas teh yang sudah dingin, dan buku tamu yang halaman terakhirnya masih bertuliskan tanda tangan Pak Har dari minggu lalu.
Pak Carik berdiri di ambang pintu, tangan terlipat di depan perut, menunggu perintah dengan kesopanan yang sempurna. "Ada yang bisa saya bantu, Pak Kades?"
Pram membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Ia menyadari, untuk pertama kalinya dengan sepenuhnya, bahwa ia tak tahu harus memerintahkan apa. Ia tahu cara merebut kursi ini. Ia tak tahu cara duduk di atasnya. Dan lelaki tua di ambang pintu itu—yang diangkat oleh Pak Har, yang sudah dua belas tahun mengurus desa ini sampai ke huruf terkecil—tahu segalanya yang Pram tak tahu, dan setia pada orang yang baru saja Pram kalahkan.
"Tidak," kata Pram akhirnya, suaranya terdengar asing di telinganya sendiri. "Belum. Terima kasih, Pak Carik."
Carik membungkuk lagi, mundur, menutup pintu pelan. Sendirian di ruangan itu, Pram menatap kursi tempat ia kini duduk, menatap tangannya sendiri di atas meja yang bukan miliknya, dan di luar jendela, samar dari arah tikungan, ia mendengarnya: deru mesin diesel, suara ekskavator menggaruk pasir, truk yang menderu naik dari sungai. Suara paling bising di desa itu, suara yang tak peduli sedikit pun bahwa ada kepala desa baru. Suara itu masih ada. Dan ia, di balik meja besar dengan stempel di tangannya, mendadak merasa lebih kecil daripada sebelum ia menang.