Hari pertama Pram benar-benar bekerja, ia datang ke kantor desa pukul tujuh pagi, lebih awal dari siapa pun. Ia ingin memulai bersih, dengan kepala dingin, sebelum jalan dipenuhi debu truk. Tapi ketika ia tiba, pintu kantor sudah terbuka, lampu sudah menyala, dan di dalam, di meja-meja mereka masing-masing, perangkat desa sudah duduk rapi seakan mereka tak pernah pulang.
Mereka berdiri saat ia masuk, menyalami dengan takzim, menyebutnya Pak Kades dengan nada yang sopan tanpa cela. Pak Carik, yang paling tua dan paling lama, memimpin. Lalu ada Kasi Pemerintahan, lelaki gemuk berkacamata bernama Pak Bowo. Kasi Kesejahteraan, perempuan paruh baya bernama Bu Yuli. Dan tiga kepala dusun yang datang silih berganti sepanjang pagi untuk "menghadap". Semua menyambutnya dengan keramahan yang begitu mulus sehingga Pram, yang terbiasa membaca orang dari cara mereka bergerak, justru merasa tak nyaman. Keramahan yang terlalu rapi selalu menyembunyikan sesuatu.
Ia memulai dengan hal kecil. Ia ingin tahu jadwal kegiatan desa bulan ini, anggaran yang berjalan, surat-surat yang menunggu tanda tangan. Pak Carik mengangguk-angguk, mencatat, lalu berkata bahwa semua itu "akan disiapkan". Sore harinya, tak ada yang datang ke mejanya. Esoknya ia bertanya lagi. Pak Carik tersenyum, minta maaf, mengatakan arsipnya masih dirapikan karena "kemarin kan repot acara pelantikan, Pak." Pram menelan jawaban itu, walau ia tahu pelantikan sudah lewat dua hari.
Ia minta daftar program bantuan yang sedang berjalan. Pak Bowo mengulurkan setumpuk map, tapi map itu kosong di tengah—lembaran-lembaran yang seharusnya ada "tertinggal di rumah", "sedang difotokopi", "diminta kecamatan minggu lalu dan belum dikembalikan". Setiap jawaban masuk akal sendiri-sendiri. Hanya kalau dikumpulkan semua, polanya muncul: setiap kali ia meminta sesuatu yang penting, sesuatu yang nyata, ada alasan halus mengapa hal itu belum bisa ia pegang hari ini.
Pram pernah melatih tim yang pemainnya membenci pelatih barunya. Ia tahu rasanya. Pemain seperti itu tak akan menolak instruksi terang-terangan—itu akan membuat mereka tampak salah. Mereka akan mengangguk, lalu berlari setengah hati, lalu mengeluh halus bahwa instruksinya tak jelas. Inilah hal yang sama, hanya saja taruhannya bukan pertandingan, melainkan desa. Perangkat-perangkat ini tak akan pernah membantah. Mereka akan tunduk, sopan, dan diam-diam memperlambat segalanya sampai Pram terlihat seperti orang yang tak becus memerintah.
Siang itu ia memergoki sesuatu. Ia keluar dari ruangannya untuk mengambil air, dan tanpa sengaja melewati jendela samping. Di luar, di bawah pohon mangga, Pak Carik berdiri menelepon, punggung membelakangi kantor. Pram tak bisa mendengar kata-katanya, tapi ia mengenali nada itu—nada melapor, takzim, seperti bawahan yang menghadap atasan. Saat Carik menutup telepon dan berbalik, wajahnya kembali datar seketika, kembali ke kesopanan netral yang ia kenakan seperti seragam. Pram tak punya bukti. Tapi ia tak butuh bukti untuk tahu ke rumah siapa laporan itu mengalir.
Malam itu ia menemui Lik Wage di warung pinggir sungai, jauh dari telinga kantor. Lik Wage mendengarkan sambil menyeruput kopi, lalu tertawa pelan, tawa orang yang sudah melihat ini terjadi sebelumnya.
"Le," katanya, "kamu pikir kamu menang kemarin? Kamu cuma menang kotak suara. Mesin desa ini—carik, kasi, kadus, sampai tukang sapu balai—dibangun Pak Har dua belas tahun. Diangkat dia, digaji lewat dia, ngerti utang budi sama dia. Kamu duduk di atasnya, tapi mesinnya bukan punyamu. Kamu nyetir mobil, tapi mesinnya masih nurut sama pemilik lama."
"Pecat saja," kata Pram, lebih untuk menguji daripada bersungguh-sungguh.
Lik Wage menggeleng. "Pecat satu, dua, mungkin. Pecat semua? Siapa yang ngurus surat pindah warga? Siapa yang tahu di mana arsip tanah? Siapa yang ngerti cara cairin dana desa biar nggak salah laporan dan kamu sendiri yang masuk penjara? Kamu, Le? Kamu nggak tahu apa-apa soal itu. Pecat mereka, desa lumpuh, dan Pak Har tinggal duduk nungguin kamu jatuh sendiri." Ia mencondongkan badan. "Kamu harus pimpin orang-orang yang nggak mau dipimpin sama kamu. Itu permainan baru. Dan jujur ya—di permainan ini, aku nggak yakin kamu lebih jago dari Pak Har."
Pram pulang larut, melewati kantor desa yang gelap. Ia berhenti sebentar di depan pintunya. Di balik pintu itu ada meja-meja kosong, map-map yang isinya disembunyikan darinya, stempel yang ia pegang tapi yang kekuasaannya entah seberapa nyata. Ia menang melawan satu orang. Tapi satu orang itu telah meninggalkan seluruh bayangannya menempel di setiap sudut, setiap arsip, setiap perangkat yang menyalaminya dengan hormat dan menelepon punggung membelakangi setiap kali ia berbalik.
Ia memimpin desa yang separuhnya mencintai apa yang ia janji hancurkan, lewat birokrasi yang seluruhnya setia pada lawannya. Dan tidak ada satu pun pelajaran dari lapangan bola yang menyiapkannya untuk ini.