Yang menyelamatkan Pram dari rasa putus asa, ironisnya, adalah dua orang yang paling tak ia harapkan: Lik Wage, sekutu yang tak pernah benar-benar ia percaya, dan seorang aktivis lingkungan kecamatan bernama Mas Yono yang sebelumnya hanya ia kenal namanya.
Lik Wage yang membawa Mas Yono ke garasi tempat dulu tim sukses berkumpul. Garasi itu kini sepi, papan tulis dengan peta kampanye masih ada di sudut, debu menebal di kursi-kursi plastik. Mereka bertiga duduk di bawah bohlam yang sama yang dulu menerangi rapat-rapat malam. Mas Yono lelaki kurus berkacamata, sekitar tiga puluhan, membawa map plastik berisi salinan undang-undang yang sudah ditandai dengan stabilo kuning di sana-sini. Ia bicara cepat, terbiasa menjelaskan hal rumit kepada orang awam, dan untuk pertama kalinya sejak dilantik, Pram merasa ada seseorang yang mengerti medan yang harus ia masuki.
"Begini, Mas Pram," kata Yono, membuka map-nya. "Galian pasir, galian-C, itu izinnya dari provinsi. Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral—orang nyebutnya ESDM. Kalau dia punya izin, namanya izin usaha pertambangan. Kalau nggak punya, dia ilegal, dan itu pidana. Pertanyaan pertama yang harus kita jawab: tambang di tikungan itu punya izin atau nggak?"
"Saya nggak nemu izinnya di arsip desa," kata Pram.
"Wajar, karena desa memang nggak pernah pegang. Tapi belum tentu mereka nggak punya. Bisa jadi izinnya ada tapi dilanggar—lokasinya melebihi titik koordinat, kedalamannya lewat batas, ngeruk terlalu dekat ke pilar jembatan, nggak ada reklamasi. Bisa juga izinnya memang nggak ada sama sekali dan mereka jalan modal restu Pak Har plus setoran ke oknum. Dua-duanya bisa kita serang, tapi caranya beda."
Pram mencondongkan badan. "Jadi apa yang harus saya lakukan?"
Yono mengangkat tiga jari. "Tiga jalur, jalan barengan. Satu: lapor resmi ke Dinas ESDM provinsi. Sebagai kepala desa, laporan Bapak punya bobot—Bapak wakil pemerintah desa, bukan warga biasa yang ngeluh. Minta mereka periksa izin dan kondisi lapangan. Dua: bikin aduan ke polisi soal dugaan galian ilegal dan kerusakan jembatan—ini supaya ada tekanan dari sisi pidana, bukan cuma administrasi. Tiga, dan ini yang paling penting, yang cuma bisa Bapak lakukan—" ia menunjuk Pram, "—cabut dukungan administratif desa."
Pram mengernyit. "Maksudnya?"
Lik Wage yang menjawab, dari sudut, sambil menyalakan rokok. "Maksudnya gini, Le. Kenapa truk bisa lewat jalan desa tiap hari? Karena desa diam. Kenapa ekskavator bisa turun ke sungai lewat tanah pinggir? Karena desa kasih keterangan domisili dan nggak pernah cabut. Kenapa nggak ada yang berani ribut? Karena kepala desanya dulu yang restui." Ia mengembuskan asap. "Pak Har kasih tambang itu satu hal yang nggak kelihatan tapi mahal: izin sosial. Restu desa. Selembar surat keterangan, plus diam. Nah, kamu sekarang kepala desa. Kamu bisa tarik semua itu. Cabut surat keterangan domisilinya. Keluarkan surat resmi bahwa desa keberatan, bahwa jalan desa nggak boleh dilewati truk muatan berat karena rusak, bahwa desa nggak lagi mengakui kegiatan itu. Itu nggak langsung nutup tambang. Tapi itu nyabut karpet di bawah kakinya."
Pram menyandarkan punggung, mencerna. Untuk pertama kalinya sejak ia menyadari betapa kosongnya kuasanya, ia melihat bentuk—samar, lambat, berliku, tapi nyata—dari jalan ke depan. Ia tak bisa menutup tambang dengan satu peluit. Tapi ia bisa, sedikit demi sedikit, menarik setiap penyangga yang membuat tambang itu nyaman berdiri: dukungan desa, jalan desa, restu yang selama ini diberikan dalam diam. Dan ia bisa, pada saat yang sama, melempar batu ke kolam yang lebih besar—provinsi, polisi—dan menunggu riaknya kembali.
"Berapa lama?" tanya Pram.
Yono dan Wage saling pandang. Yono yang menjawab, lebih hati-hati sekarang. "Itu masalahnya, Mas. Lambat. Sangat lambat. Provinsi jauh, mejanya banyak, dan—" ia ragu, "—dan tambang ini pasti punya tangan di mana-mana. Setiap surat bisa nyangkut. Setiap pemeriksaan bisa dijamu sampai berbelok. Polisi bisa setengah hati kalau ada yang setor. Ini bukan kayak kampanye, Mas, yang ada hari pencoblosannya. Ini perang yang nggak ada hari-H-nya. Bisa berbulan-bulan. Bisa bertahun."
Pram diam menatap papan tulis bekas di sudut, garis-garis peta dusun yang dulu ia susun seperti formasi bola. Dunia itu, dunia kampanye dengan tenggat dan kotak suara dan euforia kemenangan, terasa hampir sederhana sekarang. Yang ada di hadapannya bukan pertandingan dengan peluit panjang. Ini perang gerilya melawan kertas dan kelambanan, melawan birokrasi yang tak kenal namanya, di medan yang tak ia kuasai sama sekali.
"Kalau cepat itu nggak mungkin," kata Pram pelan, lebih kepada dirinya sendiri, "maka kita kerjakan yang lambat. Mulai dari mana?"
Yono tersenyum, jenis senyum lelah orang yang sudah lama berjuang di jalur lambat ini dan jarang menemukan teman. "Dari surat, Mas. Kita mulai dari surat ke provinsi."
Malam itu, untuk pertama kalinya, Pram tidur dengan rencana di kepalanya—rencana yang ia tak yakin akan berhasil, yang ia tahu akan menguji setiap kesabaran yang tak ia miliki, tapi rencana yang nyata. Bukan kemarahan, bukan idealisme, bukan keyakinan bahwa kebenaran akan menang sendiri. Sebuah jalan. Berliku, lambat, asing. Tapi jalan.