Menulis surat itu terdengar mudah sampai Pram mencoba melakukannya. Mas Yono memberinya kerangka—format laporan resmi, pasal-pasal yang harus dirujuk, lampiran yang harus disertakan—dan Pram menghabiskan dua malam penuh menyusunnya di garasi, dengan kamus hukum pinjaman terbuka di sampingnya dan secangkir kopi yang terus dingin. Ia bukan juru tulis. Setiap kalimat resmi terasa kaku di tangannya, dan ia menulis ulang paragraf pembuka tujuh kali sebelum kalimatnya berhenti terdengar seperti orang marah dan mulai terdengar seperti kepala desa yang melapor.
Laporan itu memuat tiga hal. Pertama, dugaan kegiatan galian-C tanpa izin yang sah di tikungan sungai wilayah Desa Kedungwaru. Kedua, kerusakan fondasi jembatan satu-satunya akibat pengerukan pasir di sekitar pilar—ia melampirkan foto-foto retakan yang ia ambil sendiri dengan ponselnya, beton yang menggantung, tanah yang longsor. Ketiga, ancaman terhadap pekuburan desa dan pencemaran air bagi warga hilir. Ia menulis tembusan ke kepolisian resor, ke dinas lingkungan hidup kabupaten, ke camat. Yono mengingatkannya: makin banyak meja yang tahu, makin susah surat itu hilang di satu laci.
Masalahnya muncul ketika surat itu harus distempel dan ditandatangani secara resmi. Sebuah surat dari kepala desa, untuk menjadi sah, harus melewati administrasi—dicatat di buku surat keluar, diberi nomor, distempel oleh kantor. Dan administrasi itu dipegang oleh perangkat-perangkat yang setia pada Pak Har.
Pram membawa surat itu ke meja Pak Carik pagi-pagi. "Tolong dicatat dan distempel, Pak. Surat keluar, prioritas."
Carik membacanya perlahan, terlalu perlahan, matanya bergerak baris demi baris. Wajahnya tetap datar, tapi Pram melihat ujung jarinya mengetuk meja sekali, dua kali. Lalu ia meletakkan surat itu, melepas kacamatanya, dan berkata dengan nada penuh pertimbangan, "Pak Kades, ini... berat. Surat begini, melapor ke provinsi, ke polisi—ini menyangkut banyak orang. Banyak warga kita kerja di sana. Apa nggak sebaiknya kita musyawarahkan dulu? Saya khawatir nanti malah bikin gaduh."
"Sudah saya pikirkan, Pak. Tolong distempel."
Carik mengangguk, tapi tak menyentuh stempel. "Masalahnya, untuk surat selevel ini, biasanya perlu pertimbangan dari kasi-kasi juga. Prosedurnya, Pak. Saya nggak bisa langsung stempel sendiri tanpa— takutnya nanti dipersoalkan. Demi keamanan Bapak juga." Ia tersenyum tipis, kesopanan yang sempurna itu lagi, kesopanan yang membungkus penolakan. "Coba saya konsultasikan dulu dengan Pak Bowo dan Bu Yuli. Besok mungkin."
Besok. Selalu besok. Pram berdiri di sana dan merasakan amarah lama itu naik, amarah yang dulu hampir membuatnya memukul orang di warung kopi. Ia menelannya. Lalu, dengan tenang yang membuatnya sendiri heran, ia mengambil kembali suratnya dari meja Carik.
"Tidak usah, Pak. Saya yang tanda tangan, saya yang tanggung jawab. Saya kepala desanya." Ia membuka kotak kayu di mejanya sendiri, mengambil stempel, membubuhkannya di bawah tanda tangannya dengan tekanan yang lebih keras dari perlu. Lalu ia menatap Carik. "Pak, tolong catat di buku surat keluar. Nomor berikutnya. Sekarang, di depan saya. Kalau Bapak nggak mau, saya catat sendiri, dan saya tulis di sampingnya bahwa carik menolak mencatat. Mana yang Bapak pilih?"
Untuk pertama kalinya, sesuatu retak di wajah Pak Carik. Bukan kemarahan—lelaki itu terlalu terlatih untuk marah. Tapi sebuah perhitungan cepat, kesadaran bahwa kalimat "carik menolak mencatat" di buku resmi desa adalah catatan yang bisa berbalik menyerangnya sendiri. Ia menarik buku surat keluar, membuka halaman baru, dan mencatat nomor, tanggal, perihal—pelan, tapi ia mencatatnya. Pram berdiri di sampingnya, mengawasi setiap huruf, sampai tinta kering.
Siang itu Topik mengantar surat itu ke kantor pos kecamatan, mengirim ketiga tembusan dengan tanda terima, dan menyimpan resi-resinya di map plastik seperti orang menyimpan barang berharga. Pram menyimpan satu salinan untuk dirinya, distempel, bernomor, sah. Bukti bahwa ia telah melakukan sesuatu.
Dan kemudian—tidak terjadi apa-apa.
Hari-hari berlalu. Tak ada jawaban dari provinsi. Tak ada panggilan dari polisi. Surat itu, yang ia susun selama dua malam dan perjuangkan untuk distempel, lenyap ke dalam kolam besar birokrasi tanpa riak yang bisa ia lihat. Ia membayangkan surat itu menumpuk di sebuah meja entah di mana, di antara ratusan surat lain, menunggu giliran yang mungkin tak akan datang. Mas Yono memperingatkannya bahwa ini akan terjadi, tapi mengetahui sesuatu dan merasakannya adalah dua hal berbeda.
Sementara itu, setiap pagi, truk pasir tetap menderu naik dari sungai, melewati jalan desa, mengepulkan debu ke udara. Setiap sore, ekskavator masih menggaruk dinding pasir. Mesin paling bising di desa itu terus berbunyi, tak terganggu sedikit pun oleh selembar kertas bernomor dan berstempel yang sedang tertidur di laci entah siapa, ratusan kilometer jauhnya.
Pram mulai memahami, dengan kepahitan yang lambat, perbedaan paling mendasar antara dunia lamanya dan dunia barunya. Di lapangan bola, kalau ia berteriak, pemainnya bergerak. Di sini, ia bisa berteriak ke dalam sebuah jurang dan tak mendengar apa pun kembali. Ia telah melempar batunya. Sekarang ia harus belajar hal yang paling tak ia kuasai dari semuanya: menunggu, sambil mesin yang ingin ia matikan terus mengejek ketidakberdayaannya setiap kali matahari terbit.