Kabar bahwa kepala desa baru melapor ke provinsi menyebar lebih cepat daripada surat itu sendiri bergerak di meja birokrasi. Pram tak pernah mengumumkannya, tapi di desa yang saling kenal, tak ada yang bisa disimpan lama. Mungkin Topik bercerita pada teman. Mungkin Pak Carik berbisik ke rumah besar. Mungkin Mas Yono menyebutnya di forum aktivis. Bagaimana pun jalannya, dalam sepuluh hari seluruh desa tahu: Pak Kades sudah melapor, sudah mau menutup tikungan.
Dan pengelola tambang, yang tak pernah menunggu sampai surat itu benar-benar menggigit, bergerak lebih dulu—bukan untuk melawan, tapi untuk memperingatkan.
Pagi itu Pram mendengarnya dari Topik, yang masuk ke kantor dengan wajah pucat. "Mas, tambang ngurangin shift. Yang harian dirumahin. Katanya... katanya karena tekanan dari kades. Mereka bilang ke pekerja, sementara nggak ada kerja karena desa lagi rewel."
Pram merasakan perutnya turun. "Berapa orang?"
"Belum jelas. Puluhan. Yang harian dulu, yang nggak tetap." Topik menelan ludah. "Yatno termasuk, Mas. Anaknya Mbok Surti."
Nama itu menghantam Pram lebih keras dari yang ia duga. Yatno. Anak yang sekolahnya dibiayai dari pasir, anak yang dulu disebut-sebut Mbok Surti saat memintanya jangan ribut: tikungan itu yang kasih anakku sekolah, Le. Sekarang anak itu pulang tanpa upah, dan pulang karena Pram.
Ia tahu, dengan kepala dingin, bahwa ini adalah taktik. Pengelola tambang tidak benar-benar kekurangan kerjaan; mereka merumahkan pekerja harian justru untuk menciptakan rasa sakit yang bisa dialamatkan kepada Pram. Mereka tidak menembak kepala desa—mereka menembak periuk nasi warga, lalu menempelkan nama kepala desa di selongsong pelurunya. Ini lebih cerdik daripada melawan surat. Surat melawan surat, kuasa melawan kuasa—itu pertarungan yang lambat dan tak kelihatan. Tapi lelaki yang pulang tanpa upah, ibu yang panik soal sekolah anaknya—itu pertarungan yang langsung, yang punya wajah, yang bisa membakar desa dalam sehari.
Ia memikirkan untuk pergi menemui pekerja yang dirumahkan, menjelaskan bahwa ini permainan tambang, bukan kesalahannya. Tapi ia tahu betapa kosongnya penjelasan itu akan terdengar bagi seseorang yang dapurnya baru saja dingin. Tidak peduli siapa yang menekan tombol—yang mereka rasakan adalah upah yang hilang setelah kades baru datang. Dan dalam logika perut, urutan kejadian adalah segalanya.
Menjelang siang, Mbok Surti datang ke kantor desa.
Ia datang sendiri, mengenakan kebaya lusuh dan kain batik yang sudah pudar, rambut digelung sederhana. Bu Yuli mempersilakannya masuk, dan Pram bangkit dari kursinya, jantungnya berdebar dengan cara yang tak ia rasakan bahkan saat penghitungan suara dulu. Ia menyiapkan diri untuk amarah. Ia hampir lebih memilih amarah—amarah bisa dilawan, amarah memberinya sesuatu untuk dibantah.
Tapi Mbok Surti tidak marah.
Ia duduk di kursi tamu di depan meja Pram, melipat tangannya di pangkuan, dan menatap Pram dengan wajah yang Pram kenal sejak ia kecil—wajah perempuan yang dulu memberinya tempe goreng saat ia bermain hujan, yang menjenguk ibunya saat sakit, yang menangis di pemakaman ayahnya. Wajah itu tidak benci. Yang ada di wajah itu jauh lebih buruk daripada benci: lelah, dan cemas, dan sopan.
"Le," katanya pelan, suaranya tenang. "Yatno dirumahin kemarin. Katanya nggak ada kerja dulu."
Pram membuka mulut, tapi tak ada kata yang datang.
Mbok Surti tak menunggu pembelaannya. Ia tak datang untuk bertengkar. "Aku nggak mau ribut, Le. Kamu tahu aku nggak pernah ribut. Aku cuma mau tanya satu hal." Ia berhenti, dan untuk pertama kalinya suaranya bergetar sedikit, sehalus retakan di gelas. "Sekolahnya Yatno gimana sekarang? SMK-nya tinggal setahun lagi. Bayarannya dari upah dia. Kalau dia nggak kerja..." Ia tak menyelesaikan kalimat itu. Ia tak perlu.
Pram merasakan sesuatu yang lebih berat daripada apa pun yang pernah ia tanggung sepanjang kampanye. Sepanjang berbulan-bulan ia bicara tentang ini—tentang harga kemenangan, tentang dapur yang akan dingin, tentang tetangga yang akan terluka. Ia bicara tentangnya di musyawarah, di rapat tim, dalam kegelisahan malamnya sendiri. Tapi semua itu kata-kata, abstraksi, gagasan tentang penderitaan. Sekarang penderitaan itu duduk di depannya, mengenakan kebaya pudar, bertanya dengan suara bergetar bagaimana anaknya akan menamatkan sekolah—dan ia, kepala desa, yang menyebabkannya, tak punya jawaban.
"Mbok," katanya akhirnya, dan suaranya sendiri terdengar asing, kecil. "Itu bukan—" Ia hendak berkata: itu bukan saya, itu taktik mereka, mereka sengaja. Tapi ia berhenti. Karena dari kursi tempat Mbok Surti duduk, dengan anak yang pulang tanpa upah, kebenaran itu tak ada artinya. "Saya... saya akan cari jalan. Saya janji. Beri saya waktu. Akan saya cari cara supaya Yatno tetap sekolah."
Mbok Surti memandangnya lama. Lalu ia mengangguk pelan—bukan karena percaya, Pram bisa melihatnya, tapi karena ia terlalu lelah dan terlalu sopan untuk membantah. Ia bangkit, merapikan kainnya. "Ya sudah, Le. Aku cuma nanya." Ia berjalan ke pintu, lalu berhenti sebentar, tanpa berbalik. "Bapakmu dulu juga begini. Selalu mau yang benar. Tapi yang benar itu nggak bisa dimakan, Le." Dan ia pergi.
Pram berdiri sendirian di ruangannya yang luas, di balik meja jati yang besar, dengan stempel di kotak kayu dan salinan suratnya yang berstempel di laci—surat yang sah, benar, dan sama sekali tak berdaya menjawab pertanyaan seorang ibu tentang sekolah anaknya. Dari arah tikungan, samar, ia masih mendengar truk-truk yang tersisa menderu naik dari sungai. Tapi untuk pertama kalinya, suara itu bukan yang paling keras di kepalanya. Yang paling keras adalah suara Mbok Surti, pelan dan lelah: yang benar itu nggak bisa dimakan, Le.