Kalau Pram membayangkan bahwa mereka yang memilihnya akan menjadi tempatnya berteduh ketika badai datang, ia keliru. Tiga hari setelah Mbok Surti datang, rombongan lain mendatangi kantor desa—dan rombongan ini justru terdiri dari orang-orang yang mengantarkan kemenangannya.
Mereka datang dari dusun hilir dan kampung nelayan: Pak Slamet yang dulu paling keras menyemangati di garasi, suami Bu Lastri yang perahunya sudah berbulan-bulan tak melaut karena ikan menghilang dari sungai keruh, beberapa kepala keluarga yang dulu menutup warung untuk ikut mengetuk pintu bersama Pram. Mereka inilah basis suara hilir, orang-orang yang paling menderita akibat tambang dan paling bersemangat melawannya. Pram menyambut mereka dengan lega yang sesaat—setidaknya ini wajah-wajah kawan.
Tapi wajah-wajah itu tidak datang membawa dukungan. Mereka datang membawa tagihan.
Pak Slamet yang bicara duluan, dan nadanya, walau masih hormat, sudah tegang seperti tali yang ditarik. "Le, eh, Pak Kades." Ia membenahi panggilannya, dan Pram menangkap jarak yang baru di koreksi itu. "Kami yang dorong kamu. Kami yang antar ke TPS. Kami yang percaya kamu bakal benerin sungai. Sudah hampir sebulan kamu jadi kades. Sungainya gimana? Masih keruh. Tambangnya gimana? Masih jalan. Ikannya kapan balik? Suaminya Bu Lastri ini sudah nggak melaut tiga bulan, Pak. Kami pilih kamu bukan buat lihat tambang tetap menderu."
Pram mencoba menjelaskan—soal surat ke provinsi, soal jalur yang lambat, soal kades yang ternyata tak bisa langsung menutup tambang. Ia melihat wajah-wajah mereka mengeras saat ia bicara. Penjelasan tentang birokrasi terdengar seperti alasan bagi orang yang telah menunggu bertahun-tahun. Kepada mereka, ia menjanjikan perubahan, dan yang ia berikan adalah surat yang tidur di laci provinsi.
"Lebih dari itu, Pak," kata seorang lelaki muda dari belakang, suaranya getir. "Sekarang gara-gara kamu, kami yang kena. Tetangga penambang nyalahin kami. Katanya kami yang bikin tambang mau ditutup, kami yang bikin mereka dirumahin. Kemarin di warung, anak buah penambang nyenggol-nyenggol. Istriku diomongin di pasar. Kami ini tetangga sama mereka, Pak. Anak kami sekolah bareng. Tapi sekarang desa kebelah dua, dan kami yang di tengah-tengahnya, kena dari dua sisi—dari tambang yang ngerusak sungai kami, dan dari kamu yang bikin tetangga benci kami."
Pram terdiam. Inilah hal yang tak ia perhitungkan, hal yang lebih rumit daripada sekadar tambang versus sungai. Ia membayangkan desa terbelah antara dua kubu yang jelas: yang mau tambang dan yang mau sungai. Tapi kenyataannya jauh lebih kusut. Bahkan di antara mereka yang ia bela, yang ia perjuangkan, ada yang sekarang menanggung akibat yang tak adil—dimusuhi tetangga karena pilihan mereka, sementara janji yang dibeli oleh pilihan itu belum juga datang.
"Kalian benar," kata Pram pelan, dan pengakuan itu mengejutkan mereka; mereka datang siap bertengkar, tidak siap dibenarkan. "Kalian benar. Saya janji benerin sungai, dan sungai belum benar. Saya nggak bakal bohong: ini lambat. Lebih lambat dari yang saya kira. Tapi—" ia mencari kata-kata, dan menemukan bahwa satu-satunya yang ia punya adalah kejujuran, "—tapi saya juga baru sadar sesuatu yang harusnya saya sadar sejak awal. Nutup tambang aja nggak cukup."
Pak Slamet mengernyit. "Maksud kamu?"
"Maksud saya begini." Pram bangkit, berdiri menghadap mereka, tak lagi di balik mejanya. "Misalnya besok tambang tutup. Sungai pelan-pelan benar. Ikan balik. Bagus. Tapi puluhan keluarga penambang—Yatno, dan yang lain—mereka makan apa? Mereka nggak bisa langsung jadi nelayan. Sawah mereka udah lama nggak digarap. Dan kalau mereka kelaparan, mereka bakal nyalahin saya, dan mereka bakal pengin tambang balik, dan kita kembali ke awal. Atau lebih buruk—mereka bakal dukung siapa pun yang janji buka tambang lagi." Ia menatap mereka satu per satu. "Saya nggak cukup nutup dapur lama. Saya harus bisa kasih dapur baru. Buat mereka, buat kalian. Buat semua. Dan itu—" ia menarik napas, "—itu yang saya belum tahu caranya."
Ruangan hening. Pengakuan itu—seorang kepala desa mengaku tak tahu—membuat sebagian dari mereka tak nyaman, dan sebagian lain, anehnya, sedikit lebih lunak. Pak Slamet menatapnya lama.
"Bapakmu juga ngomong gitu dulu," katanya akhirnya, suaranya berubah. "Bukan cuma nolak tambang. Dia punya gagasan lain. Tambak, koperasi, apa gitu. Tapi orang waktu itu nggak mau dengar. Pasir lebih cepat dapat uangnya." Ia menggeleng pelan. "Kalau kamu mau benar-benar kayak bapakmu, Le, jangan cuma nutup. Bangun yang baru. Itu yang dia nggak sempat."
Mereka pergi tak lama kemudian, tidak puas tapi tidak lagi marah, meninggalkan Pram dengan beban baru yang lebih berat daripada surat ke provinsi. Karena ia menyadari, berdiri di ruangan yang sepi itu, bahwa ia telah salah memahami seluruh peperangannya sejak awal. Ia mengira musuhnya adalah tambang, dan kemenangannya adalah menutupnya. Tapi menutup tambang hanyalah lubang—lubang di tempat dapur ratusan orang dulu menyala. Dan kalau ia tak bisa mengisi lubang itu dengan sesuatu yang nyata, sesuatu yang bisa dimakan, maka seluruh kemenangannya hanya akan menjadi kelaparan yang lebih merata, kebencian yang lebih dalam, dan jalan kembali ke pasir yang lebih cepat daripada yang ia kira.
Di luar jendela, sungai mengalir lemah di antara timbunan pasir, keruh dan menyusut. Dan di kepala Pram, untuk pertama kalinya, pertanyaan itu tak lagi tentang bagaimana cara menghentikan tambang. Pertanyaannya adalah: dengan apa ia akan memberi makan desa setelah pasir berhenti—dan apakah ia, mantan pelatih bola yang naif soal uang, punya sedikit pun jawabannya.