Undangan itu datang dengan cara yang khas Pak Har: tidak lewat telepon, tidak lewat surat, melainkan lewat seorang anak kecil yang mengantarkan sekeranjang buah-buahan ke kantor desa, dengan secarik kertas terselip di bawah jeruk. Tulisan tangan yang rapi, tinta biru: Le, mampir makan malam ke rumah. Aku masak gulai. Kita ngobrol santai, dari hati ke hati. Tak ada urusan kantor. Salam, Pakdhe Har.
Pakdhe. Bukan Pak Kades, bukan Pak Hartono. Pakdhe—paman, kerabat, orang tua. Pram membaca kata itu dan tahu persis apa yang sedang dimainkan. Tapi ia tahu juga bahwa menolak undangan ini akan terlihat seperti ketakutan, dan ketakutan adalah hal terakhir yang boleh ia tunjukkan. Maka ia datang.
Rumah Pak Har adalah rumah terbesar di desa, dan dari dalam, ia bahkan lebih besar lagi: lantai keramik mengkilap, perabot kayu jati yang berat, foto-foto keluarga dan foto-foto Pak Har bersalaman dengan pejabat-pejabat tergantung di dinding. Tapi malam itu, Pak Har menerimanya bukan di ruang tamu yang resmi, melainkan di meja makan keluarga di belakang, hangat oleh lampu kuning dan aroma gulai. Tak ada orang lain. Hanya mereka berdua, dan dua piring, dan sepanci gulai kambing yang masih mengepul.
"Duduk, Le, duduk." Pak Har menyendokkan nasi ke piring Pram sendiri, gerakan seorang tuan rumah yang tak menerima penolakan. "Makan dulu. Urusan nanti. Gulai ini resep almarhumah istriku. Cobain."
Mereka makan. Pak Har bercerita ringan—tentang cucu-cucunya, tentang hujan yang belum turun, tentang ayah Pram yang dulu, katanya, pernah berdebat sengit dengannya soal sungai tapi tetap mau diajak main catur tiap Jumat malam. Cerita itu hangat, manusiawi, dan Pram merasakan sesuatu yang membuatnya waspada justru karena ia menyukainya: lelaki tua di hadapannya ini bukan monster. Ia ramah, cerdas, dan—Pram menduga—sebagian besar tulus.
Baru setelah piring kosong, setelah teh dituang, Pak Har bersandar di kursinya dan masuk ke inti.
"Le," katanya, nadanya berubah menjadi serius tapi tetap lembut, "aku dengar kamu lagi susah. Surat ke provinsi nggak dibalas. Perangkat susah diatur. Warga mulai resah, yang dirumahin nambah. Aku ngerti. Aku pernah di kursi itu dua belas tahun, aku tahu rasanya." Ia menggeleng pelan, seakan iba. "Kamu menang, Le. Aku akui itu, aku salut. Tapi menang dan memerintah itu beda. Kamu mulai ngerasain sekarang, kan?"
Pram diam, membiarkannya bicara.
"Aku punya usul. Jalan tengah." Pak Har mengangkat tangan sebelum Pram bisa menyela. "Dengar dulu sampai habis. Tambang itu—biarin jalan, tapi terbatas. Aku bisa atur sama pengelola: kurangi truknya, jauhin dari pilar jembatan, kasih jatah lebih ke kas desa, resmi, masuk pembukuan, biar kamu yang ngatur uangnya. Pakai buat benerin jalan, benerin air, beasiswa anak-anak. Sungai nggak makin rusak, tapi dapur tetap ngepul. Yatno tetap kerja, tetap sekolah. Warga yang dirumahin balik kerja." Ia mencondongkan badan. "Dan aku—aku bantu kamu. Perangkat bakal nurut kalau aku yang bilang. Warga bakal tenang kalau aku yang dampingi. Kamu tetap kades, tetap terhormat, tapi nggak sendirian lawan badai. Kita kelola desa ini bareng. Kamu napasnya, aku mesinnya. Gimana?"
Dan untuk beberapa detik yang panjang, Pram tergoda.
Ia tergoda karena tawaran itu masuk akal. Ia tergoda karena lelah—lelah oleh surat yang tak dibalas, perangkat yang membangkang, Mbok Surti yang bertanya soal sekolah anaknya, Pak Slamet yang menagih sungai. Ia tergoda karena dalam tawaran itu ada semua yang ia tak punya: stabilitas, dukungan, dapur yang tetap mengepul, dan jalan keluar dari sudut sempit tempat ia terjepit. Yatno kembali sekolah. Air membaik sedikit. Tak ada yang kelaparan. Tak ada yang membencinya. Untuk satu napas, ia melihat sebuah masa depan yang nyaman, dan ia hampir mengangguk.
Lalu ia teringat jembatan.
Ia teringat retakan beton yang menggantung di atas air, fondasi yang menggerus tiap hari, dan satu kalimat dari Mas Yono yang menempel di kepalanya: selama pasir masih dikeruk dekat pilar, jembatan akan terus melemah. "Terbatas" hanya akan memperlambat keruntuhan, bukan menghentikannya. Dan ia teringat pertanyaannya sendiri di musyawarah desa, pertanyaan yang memenangkannya tujuh belas suara: kalau jembatan ambruk, truk siapa yang akan menggendong anak kita menyeberang? Jalan tengah Pak Har adalah membiarkan jembatan itu retak lebih pelan, sambil berpura-pura ia telah menyelamatkannya.
Dan ia mengerti, dengan kejernihan yang dingin, apa sebenarnya yang ditawarkan kepadanya. Bukan kerja sama. Tawaran itu adalah agar Pram menjadi Pak Har—agar ia duduk di kursi yang sama, merestui hal yang sama, mengambil jatah yang sama, dan menyebut semua itu dengan nama yang lebih indah. Mesin lama akan terus berjalan, hanya dengan wajah baru di depannya. Ia akan memenangkan segalanya kecuali satu hal yang membuatnya nekat mendaftar dulu: alasannya.
"Pakdhe," kata Pram akhirnya, perlahan, memilih kata itu dengan sengaja. "Terima kasih gulainya. Sungguh." Ia meletakkan cangkir tehnya. "Tapi jembatan itu nggak peduli truknya banyak atau sedikit. Selama pasir dikeruk dekat pilar, dia tetap keropos. Pelan, tapi pasti. Dan kalau dia ambruk, nggak ada jalan tengah buat anak yang harus diseberangkan ke rumah sakit." Ia berdiri. "Saya nggak bisa. Maaf."
Pak Har menatapnya lama. Senyumnya tak hilang, tapi sesuatu di matanya berubah—seperti seorang pemain catur yang baru saja melihat lawannya menolak remis dan memilih bertarung sampai akhir. Ia mengangguk pelan, lalu berdiri pula, mengantar Pram ke pintu dengan keramahan yang sama sempurnanya seperti saat menyambut.
"Ya sudah, Le," katanya di ambang pintu, suaranya tetap lembut, hampir sedih. "Aku sudah tawarin yang paling enak. Kamu tolak. Nggak apa-apa." Ia menepuk bahu Pram, sekali, seperti di pelantikan. "Tapi ingat ya—mulai sekarang, kalau ada yang lapar di desa ini, itu pilihanmu. Bukan pilihanku. Aku tadi nawarin mereka makan. Kamu yang bilang nggak."
Pram pulang berjalan kaki dalam gelap, melewati jalan desa yang sepi, dan di belakangnya rumah besar itu menyala terang di antara rumah-rumah lain yang remang. Ia tahu, dengan pasti, bahwa malam itu sebuah garis baru telah ditarik. Bukan lagi pertarungan untuk merebut kursi. Ini perang—antara seorang lelaki tua yang menawarkan kenyamanan dengan harga jiwa desa, dan seorang lelaki muda yang baru saja menolaknya tanpa punya jawaban tentang bagaimana ia akan memberi makan orang-orang yang kelaparannya kini, seperti yang diingatkan Pak Har, sepenuhnya menjadi tanggungannya.