Hujan pertama musim itu turun di hulu, jauh dari Kedungwaru, dan tak seorang pun di desa menyadari bahwa hujan itulah yang akan mengubah segalanya. Sepanjang hari langit di desa tetap cerah, panas, berdebu seperti biasa. Tapi di malam hari, sungai naik—bukan banjir besar, hanya naik—dan air yang turun dari hulu mengaduk segala yang mengendap di tikungan: lumpur galian, sisa solar dari ekskavator, partikel halus yang selama bertahun-tahun ditebar pengerukan ke dasar sungai.
Keesokan paginya, Bu Lastri yang pertama berteriak.
Sumurnya, yang letaknya dekat sungai di dusun hilir, mengeluarkan air yang berbeda. Bukan keruh biasa—keruh sudah jadi kebiasaan bertahun-tahun. Pagi itu airnya kecokelatan pekat, berbau aneh, dengan lapisan tipis seperti minyak yang berkilau di permukaan saat kena matahari. Ia menimbanya, menatapnya dengan ngeri, dan tak berani memakainya. Tetangganya menimba sumur sendiri: sama. Lalu sumur sebelahnya. Lalu sawah-sawah hilir, yang airnya berasal dari saluran sungai, tergenang air yang sama cokelat dan berkilaunya, dan padi muda di petak-petak terendah mulai menguning di ujung-ujungnya.
Desa hilir gempar. Tapi yang membuat Pram, ketika ia bergegas turun ke dusun pagi itu, merasakan tanah bergeser di bawahnya bukan air dan bukan padi. Yang membuatnya membeku adalah anak-anak.
Di rumah Bu Lastri, dua cucunya terbaring lemas di balai-balai. Diare sejak semalam, kata Bu Lastri dengan suara gemetar, terus-menerus, dan yang lebih kecil sekarang batuk-batuk, napasnya berbunyi. Di rumah sebelah, seorang anak lain demam dan muntah. Di ujung gang, seorang ibu menggendong bayinya yang menangis tak henti dengan ruam merah di kulit. Pram berjalan dari rumah ke rumah, dan di setiap rumah ceritanya sama—anak-anak sakit, semalaman, sejak air berubah warna.
Ia memanggil Bu Bidan, bidan desa, yang datang tergopoh-gopoh dengan tas pemeriksaannya. Bu Bidan memeriksa anak-anak satu per satu, wajahnya makin keruh setiap kali. Setelah memeriksa anak kelima, ia menarik Pram ke samping, jauh dari telinga ibu-ibu yang panik.
"Pak Kades," katanya pelan, hati-hati, "saya bukan dokter, saya nggak bisa pastikan. Tapi ini—diare berbarengan begini, di banyak rumah, sejak airnya berubah—ini bukan kebetulan. Ini airnya. Pasti airnya." Ia menatap ke arah sungai, ke arah tikungan tempat ekskavator masih berdiri membisu di pagi itu. "Yang batuk-batuk, yang napasnya berbunyi, itu mungkin udah lama, dari debu. Tapi yang diare ini baru, Pak. Air yang dipakai masak, dipakai minum—itu yang bikin anak-anak sakit. Saya rujuk yang paling parah ke puskesmas, tapi Pak Kades harus tahu: kalau airnya nggak benar, ini bakal terus."
Pram berdiri di gang sempit dusun hilir, di antara rumah-rumah panik dan ibu-ibu yang menangis dan anak-anak yang sakit, dan untuk pertama kalinya sejak ia dilantik, ia merasakan sesuatu yang menggantikan ketidakberdayaan: sebuah pergeseran.
Selama ini, tambang adalah argumen. Sungai rusak adalah keluhan yang sudah jadi kebiasaan, jembatan retak adalah peringatan yang harus ia teriakkan berulang-ulang, kerusakan adalah sesuatu yang ia lihat tapi orang lain bisa pura-pura tak melihat. Pak Har bisa membantahnya. Pengelola tambang bisa menyebutnya berlebihan. Warga penambang bisa menutup mata demi upah. Selama kerusakan itu abstrak, selama ia hanya menyangkut sungai dan jembatan dan masa depan yang jauh, tambang selalu bisa menang—karena upah hari ini lebih nyata daripada bencana esok.
Tapi sekarang kerusakan itu punya wajah. Wajah anak-anak. Air yang berubah warna bisa dilihat semua orang dengan mata kepala sendiri, dicium baunya, ditolak tangan saat ditimba. Anak yang diare, bayi yang ruam, napas yang berbunyi—itu bukan argumen Pram. Itu bukti yang berbicara sendiri, di setiap rumah, kepada setiap ibu, tak peduli ia memilih siapa di Pilkades.
Dan yang paling penting: ketakutan itu kini masuk juga ke rumah-rumah penambang.
Menjelang siang, Pram melihatnya dengan matanya sendiri. Beberapa keluarga penambang dari dusun tengah—orang-orang yang dapurnya bergantung pada pasir, orang-orang yang dirumahkan dan menyalahkannya—datang ke sumber air bersih di balai dusun, membawa jeriken, wajah mereka tegang. Karena anak mereka juga minum air. Karena debu dan air keruh tak membedakan siapa yang memilih tambang dan siapa yang menolaknya. Untuk pertama kalinya, Pram melihat keraguan di wajah orang-orang yang selama ini paling teguh membela tikungan. Tambang memberi mereka upah. Tapi tambang juga, mungkin, membuat anak mereka sakit. Dan tak ada upah yang sepadan dengan itu.
Bu Bidan menyusun daftar anak yang sakit di buku kecilnya, dan Pram, berdiri di sampingnya, mulai melihat samar-samar sebuah jalan yang tak ia lihat sebelumnya. Bukan jalan untuk menutup tambang dengan kuasa—kuasa itu tetap tak ada padanya. Tapi jalan lain: membiarkan kerusakan berbicara sendiri, mendata korbannya dengan jujur, membuat yang tak terlihat menjadi terlihat oleh semua orang termasuk mereka yang dulu menutup mata. Bukan dengan pidato. Dengan air yang berubah warna dan anak-anak yang terbaring.
Siang itu ia mengirim Topik membeli air galon bersih dengan uang pribadinya untuk dibagikan ke rumah-rumah yang anaknya sakit, lalu menelepon Mas Yono dan meminta dua hal: cara mengambil sampel air sungai dan sumur untuk diuji, dan cara mendokumentasikan korban secara resmi agar tak bisa dibantah. Lalu ia berjalan ke tepi sungai, ke tikungan tempat ekskavator berdiri diam pagi itu—mungkin sengaja dihentikan sebentar oleh pengelola yang juga mendengar kabar, atau mungkin kebetulan—dan ia menatap air cokelat berkilau yang mengalir lemah di antara timbunan pasir.
Untuk waktu yang lama ia tak bisa menutup tambang ini. Ia tak punya kuasanya, tak punya kertasnya, tak punya kecepatannya. Tapi pagi ini sesuatu telah berubah yang tak bisa diubah kembali: tambang tak lagi bisa bersembunyi di balik kata berkah. Air telah membongkarnya. Dan untuk pertama kalinya sejak ia duduk di kursi yang penuh tapi kosong itu, Pram merasakan bukan ketidakberdayaan, melainkan awal—rapuh, getir, dibayar dengan anak-anak yang sakit—dari sebuah titik balik.