Dulu Samesta pernah ada di sisi seseorang yang sdeang dalam kondisi terbawahnya. Orang itu adalah Raya yang sering didengar dari ibunya.
Pertemuan mereka tidak dalam suasana suka. Samesta datang saat Raya menangisi gundukan tanah basah yang ditaburi bunga. Dia tak mau berjanak dari sana. Samesta bisa merasakan kehilangan yang teramat dalam. Namun tak ada keberanian untuk menepuk bahu yang bergetar itu karena mereka sama-sama asing. Sebagai orang asing, Samesta tahu batasannya.
Batasan itu kemudian menjadi abu-abu sejak Samesta melihat ketidakadilan yang dialami RAya terjadi di depan mata. Seorang pria sombong dengan pakaian norak datang bersama tida orang berbada besar ke rumah duka. Pria itu menyebut bahwa rumah orang tua Raya akan disita untuk membayar hutang-hutang ibunya Raya semas