Mungkin sebab jam-jam pulang kerja, membuat jalan raya macet parah. Amar, Aisyah, dan Nadira terjebak di dalam kerumunan kendaraan-kendaraan itu.
Satu jam lebih kendaraan yang dikendarai oleh Amar berjalan merangkak. Hal itu membuat Aisyah gelisah sedari tadi.
"Kenapa, Kak?" tanya Nadira kemudian.
Aisyah mengelus perutnya yang mulai tampak berisi, lalu gadis berdarah Minang itu berbisik di telinga Nadira dengan berkata, "debaynya lapar."
"Serius?"
Aisyah mengangguk mengiyakan.
"Ya, udah. Cari makan dulu kalau begitu," ucap Nadira kemudian.
Nadira pun mengatakan apa yang dikatakan Aisyah kepadanya ke Amar. Sontak Aisyah menyenggol lengan Nadira.
"Ish, malah dibilang," kata Aisyah.
"Katanya lapar. Abang Tampan, cari makan dulu. Tapi macet gini gimana caranya, ya."
Amar pun k