Esok hari Samuel menepati janjinya pada Aisyah: mentraktir makanan. Tentu tanpa basa-basi Aisyah menerima, wong Aisyah suka makan.
Aisyah diboncengi Samuel menuju pasar tradisional di kampung sebelah dengan menggunakan sepeda ontel yang masih terawat milik Datuk Bahri.
Naik sepeda ontel biar seperti film-film zaman dulu supaya kelihatan romantis, begitu Samuel meyakinkan Aisyah.
Halah!
"Ayo naik!"
Padahal Aisyah sendiri tidak mau. "Desa sebelah itu jauh, Abang. Nanti kamu kecapaian." Begitu Aisyah menolak.
"Sejauh apa pun yang penting perginya sama kamu." Dasar! Ngeyel sekali si Samuel.
Aisyah memanyunkan bibirnya, kesal dia. Eh, tapi dari lubuk hati terdalam Aisyah senang digombalin seperti itu.
Samuel pun mencoba membujuk Aisyah dengan mencolek dagu sang istri sambil ngegom