sambil melanjutkan makan siang nya, Dwi di kejutkan dengan suara handphone nya di meja. kali ini ia melihat ada nama Rio disana. seketika ia ingat ibu nya yang masih terbaring di rumah sakit.
Drrrtttt...
"mas, aku angkat telepon dulu ya" ucap Dwi sambil mengangkat ponsel pintar nya. mendengar hal itu Didi pun menganggukan kepalanya.
"assalamualaikum Yo" salam Dwi
"walaikumsalam kak, kakak tadi malam ngak jadi ke rumah sakit" ucap Rio dari sebrang sana..
"ia Yo, kakak nginap di rumah Afifah tadi malam" ucap bohong Dwi. karena ia tidak mungkin mengatakan kalau ia tadi malam tidur bersama Didi.
" oh iya kak. ini ibuk mau ngobrol kak. Rio speaker aja ya kak" ucap Rio.
"hallo nduk, kamu lagi sibuk ya nduk" ucap Aminah.
"hallo buk, sekarang lagi jam istirahat kok buk. ibuk gimana keadaannya buk?" ucap Dwi.
"Alhamdulillah ibuk udah agak mendingan kok nduk. kamu ngak perlu khawatir. disini ada Rio kok. kamu kerja aja nduk. yang fokus ya nduk kerjanya ya nduk" ucap Aminah.
"iya buk. oh iya ibuk udah makan?" ucap Dwi kembali.
"udah nduk. tadi... " tiba-tiba saja ucapan Aminah terhenti. karena ada yang membuka pintu secara anarkis.
suara pintu itu pun juga terdengar oleh Dwi.
"hallo ibu mertua ku sayang" ucap Joko sambil berjalan masuk ke ruang rawat inap Aminah.
suara yang sayang di kenal oleh Dwi yang masih terdengar jelas di telinganya saat ini.
mendengar suara rubah tua itu disana membuat rawut wajah Dwi berubah dan tangannya yang memegang garpu mendadak menggenggam kuat garpu itu.
Didi melihat perubahan wajah Dwi tampak aneh. ingin ia bertanya namun ia urungkan sampai telpon Dwi berakhir dulu.
"oh dimana Dwi ku saat ini ibu mertua?" ucap Joko yang mendekat dengan memegang wajah Aminah sebelah tangan.
tampak handphone milik Rio di tangan Aminah masih menyala. dan Joko pun mengambil handphonenya tersebut melihat nama Dwi di sana.
"hallo sayang nya bang Joko, kamu lagi dimana sayang?" ucap Joko di telphone.
"b******k" ucap Dwi dengan lantang. semua mata tertuju menatap Dwi dengan tatapan heran.
"sayang kenapa?" tanya Didi pelan dan menyentuh tangan Dwi. Didi menatap tangan yang memegang garpu sangat kuat. Dwi pun tidak merespon pertanyaan Didi karena pikirannya saat ini fokus kepada ibu dan adiknya.
"jangan marah-marah sayang, baik baik marah dengan calon suami mu ini" ucap Joko dengan mengejek.
" bang Joko tunggu kedatangan kamu disini sayang. atau ibu kamu nanti nya bisa nangis darah, gimana ?" ucap Joko mengancam.
"jangan coba-coba berani menyentuh keluarga ku rubah tua" ucap Dwi dengan sarkas.
tanpa berpamitan Joko mengakhiri telphone itu. tanoa berpikir lama dwi bangun dari tempat duduk nya dan segera lari keluar restoran.
"wi ..tunggu" ucap didi yang berusaha mengajar Dwi.
di kaur restoran didi berhasil mengejar Dwi dan mencoba menghentikan langkah Dwi.
"kamu kenapa?" tanya Didi sambil mengatur nafas yang terengah-engah.
" aku harus bunur rubah tua itu mas. tolong jangan halangi aku mas " ucap Dwi yang berusaha melepaskan tangan Didi yang memegang lengannya.
"tenang wi...kamu harus tenang. kamu cerita ke mas dulu sebenarnya ada apa?" tanya Didi yang berusaha menenangkan Dwi.
"rubah tua itu mau celakin ibu aku mas. aku harus selamatkan ibu aku mas. cuma ibu yang saat ini yang aku punya mas" ucap Dwi dan kini air mata nya pun tak dapat iya bendung lagi.
melihat wajah yang penuh dengan deraian air mata di wajah dwi, Didi pun tak tega melihat calon istrinya itu harus merasakan kesedihan seperti ini. Didi tau perasaan sedih yang menyelimuti Dwi saat ini, walaupun ia masih belum paham dengan omongan Dwi yang mengatakan tentang rubah tua. namun sebelum ia bertanya lebih lanjut lebih baik ia memenangkan Dwi terlebih dahulu. Didi memeluk Dwi dengan hangat sambil menepuk pelan bahu Dwi seakan berusaha untuk menenangkan nya.
setelah di rasa tenang kini didi mencoba bertanya kembali.
" sekarang kamu bisa cerita semuanya ke mas ya, ada apa? dan siapa rubah tua itu?" tanya Didi.
sambil mengatur nafas nya. dwi pun mencoba menjelaskan nya.
"rubah tua itu namanya nya Joko, dia lintah darat yang sangat kerjam. dulu alm bapak punya hutang 30juta dengan nya dengan perjanjian kalau tidak dapat membayar nya kembali maka aku harus menikah dengan nya stelah lulus kuliah. selama ini aku cari kerjaan sampingan mas untuk membayar bunga nya" terang Dwi. mendengar hal itu kini Didi lah yang mulai di mengeraskan rahang nya karena tak terima dengan perlakuan alm bapak Dwi yang dengan gampang menukar uang dengan anaknya.
"aku harus ke sana mas, dia bilang kalau aku ngak kesana , dia akan celakain ibuk mas, aku mohon mas biarkan aku pergi kesana mas" lirih Dwi memohon kepada Didi untuk ngak menghalangi kepergiannya.
sambil mengeluarkan nafas kasar nya Didi menangkup wajah Dwi.
"kamu dengar ya, mas ngak akan biarkan kamu dan keluarga kamu terluka sedikitpun. mas anterin kamu kesana ya, sekarang kamu tenang ya , jangan nangis lagi, mas gak tega liat wajah cantik ini harus basah dengan air mata begini" ucap Didi dan kembali memeluk Dwi. Dwi hanya menggelengkan perlahan.
"ya udah sekarang kita kita kesana ya, kita sama- sama selamat kan ibu kamu" ucap Didi dan langsung membawa Dwi ke mobil.
seketika mobil sport berwarna hitam itu melaju ke arah rumah sakit.
selama perjalanan Didi tak lupa mengabari mika.
"hallo ka, Lo cancel semua jadwal gue hari ini ya. ada hal penting yang harus gue selesaikan siang ini, dan tolong Lo kirimkan beberapa orang kita untuk segera menuju rumah sakit, alamat nya gue kiri ke Lo ya" ucap didi.
"oke di, oh iya Dwi ngak papa kan?" tanya mika dari sebrang sana.
"dwi baik-baik aja kok" ucap didi sambil melirik ke arah Dwi sebentar.
"oke gue kirim orang kesana sekaran, hati-hati Lo ya" ucap mika.
telphone pun langsung di akhiri oleh Didi.
selama di perjalanan Dwi tak henti-hentinya menangis mengingat kesehatan ibu nya yang baru saja melewati masa kritisnya.
sambil fokus memengdarai mobil nya, Didi pun sesekali melihat Dwi di samping nya. tangan Didi sebelah mengambil tangan Dwi dan menggenggam erat tangan Dwi.
"kamu tenang ya, mas akan bereskan orang tua itu, mas akan lindungi kamu dan keluarga kamu" ucap Didi yang sesekali menatap Dwi namun tidak di ada tanggapan dari Dwi.
dalam waktu kurang dari 15 menit mobil sport berwarna hitam itu memasuki halaman parkir gedung rumah sakit itu.
begitu berhasil memarkirkan mobilnya, Didi dan Dwi pun turun dan tampak ada 2 mobil Avanza masuk mendekati mobil milik Didi . tampak terlihat oleh Didi. dalam hitungan detik para penumpang mobil Avanza tersebut keluar dan segera berlari ke arah Didi.
"selamat siang pak, kami di utus oleh Bu mika" ucap salah satu dari mereka yang menggenakan seragam serba hitam seperti layaknya seorang petugas keamanan. mendengar hal itu Didi mengerti maksud orang-orang berbadan kekar ini datang kesini. mika memang selalu sigap menerima perintah dari nya.
"oh iya. ayo kita masuk ke dalam" ucap Didi sambil berjalan kedalam. tak lupa ia meraih tangan Dwi agar tidak jauh-jauh dari nya.
sampai di lantai 3 Dwi , Didi dan para bodyguard berjalan menuju rawat inap tempat Aminah di rawat. Didi tak melepas tangan nya menggenggam tangan Dwi. tampak ada 2 orang berdiri di depan pintu ruang rawat inap itu. tak salah lagi kalau itu adalah anak buah Joko yang selalu mengawalnya setiap saat.
ketika Dwi dan Didi akan memasuki ruangan tersebut, keua orang itu berusaha menghalang-halangi mereka untuk masuk.
"Minggi kalian" ucap Dwi yang sarkas.
Didi hanya diam berusaha menaha senyum yang ngak menyangka calon istrinya ini bisa sarkas juga.
omongan dulu itu tidak di dengar oleh kedua orang tersebut. mereka hanya pasang badan berdua untuk menghalangi jalan masuk ke ruangan tersebut. melihat Dwi yang telah emosi. kini Didi menatap ke arah bodyguard yang di kirim oleh mika untuk membereskan kedua orang ini. dengan mengkode dengan wajah dan matanya, semua bodyguard nya mengerti maksud bos nya itu. segera beberap orang bodyguard memasang badan juga di depan dwi dan Didi. melihat ada 4 orang lagi di belakang seketika anak buah Joko pun mundur dan segera membiarkan Didi dan Dwi masuk.
ketika Dwi masuk terlebih dahulu Dwi dan di ikuti oleh Didi di belakang nya.
Dwi melihat Rio yang sedang duduk di bawah lantai dan memijit kaki Joko saat itu. tak tahan melihat adiknya yang di perlakukan semena-mena Dwi pun buka suara. "Rio, bangun kamu dari situ" ucap Dwi yang sarkas. "kak,..." ucap Rio yang menatap takut ke Dwi.
Joko mendengar suara indah Dwi langsung membuka matanya yang saat itu sedang tertutup menikmati pijatan kaki nya.
" kakak bilang bangun Yo" ucap Dwi kembali dengan lantang.
kali ini Rio pun mendengarkan ucapan Dwi. ia bangun dan menuju ke balik tirai tempat Aminah tidur saat ini.
Joko bangkit dari tempat duduk nya dan tersenyum bahagia melihat Dwi yang tampak sangat cantik dengan di atas lutut dengan blazer casual nya.
" sayang Abang Joko udah sampai ternyata. bang Joko rindu sekali sayang" ucap Joko yang merentangkan tangannya dan mendekat ke arah Dwi seraya memeluknya. melihat tingkat Joko Dwi memundurkan langkahnya dan menabrak d**a bidang Didi di belakang.
tangan Dwi meraih tangan Didi dan menggenggam erat. melihat sikap Dwi, didi pun mengerti rasa ketakutan Dwi saat ini. dengan sigap Didi pun menarik tangan Dwi dan memutar badan dwi agar jatuh ke pelukannya saat ini.
seketika Dwi jatuh ke pelukan Didi yang saat itu memeluknya dengan hangat dan sambil berbisik di telinga Dwi.
"sayang, akan biarkan kamu jatuh ke pelukan orang tua busuk itu" ucap Didi berbisik. mendengan hal itu Dwi tersenyum dan mengeratkan pelukan nya. Didi tersenyum bahagia saat Dwi membalas pelukan nya.
aroma tubuh Dwi yang sangat membuatnya selalu tergoda saat di dekat Dwi.
"hei siapa kamu?" ucap Joko saat melihat Dwi dan Didi berpelukan mesra di depannya."berani kami memeluk calon istri saya?" ucap Joko sambil berkacak pinggang.
mendengar hal itu Didi mendongakkan kepalanya menatap Joko. badan yang masih memeluk Dwi itu pun tak ingin di lepaskan nya dengan cepat.
Didi menatap tajam seperti ingin membunuh laki-laki tua yang tidak ingat dengan usia nya saat ini.
"apa...calon istri?" ucap Didi yang seakan sok kaget mendengar nya.
Didi pun melerai pelukannya. dan menatap Dwi tatapan mereka saling beradu.
"sayang, apa kamu lupa kasih undangan pernikahan kita ke kakek tua ini" ucap Didi yang seolah memamerkan rencana pernikahan nya sama Dwi. padahal undangan belum ada yang menyebarkan nya.
sambil meraih wajah wajah Didi dengan kedua tangannya Dwi pun menatap Didi sendu. "kita ngak perlu mengotorinya acara pernikahan kita dengan kedatangan nya sayang" ucap Dwi.
Dwi merasa acting nya dan saat ini bisa membuat Joko kepanasan.
namun Didi meraih dagu Dwi. " semua terserah kamu saja mau undang siapa, kamu yang lebih tau mana manusia suci dan mana manusia kotor" ucap Didi dengan senyum nya.
melihat keduanya bermesraan di depannya membuat Joko murka.
kali ini Joko menghembuskan nafas kasar. " kalian jangan coba-coba bermain api di depan saya, Dwi akan jadi milik saya karena ayahnya sendiri yang sudah menyerahkan anaknya kepada saya karena hutangnya tidak mampu ia bayar" ucap Joko sambil melipat tangan di d**a.
"hutang? oh itu... baiklah, saya bayarkan hutang papa mertua saya kepada kamu sekarang" ucap Didi menegaskan.
"mas, kamu gak perlu pakai uang kamu mas" ucap Dwi yang mencoba menghentikan didi. karena sudah terlalu banyak Didi menghabiskan uang untuk membantunya selama ini.
Didi pun merangkul bahu Dwi untuk berdiri di samping nya. " sayang kamu apaaan sih, uang aku itu adalah uang kamu juga sekarang, jadi masalah kamu itu jadi masalah aku juga sayang. mas gak akan biarkan kamu dan keluarga kamu menderita lagi. mana mungkin mas biarkan istri CEO Setiadi company harus hidup susah" ucap Didi yang menekan seakan memberi tau kepada Joko siapa dia sebenarnya.
"hei bocah ingusan, jangan berhayal terlalu tinggi kamu, mana mungkin bocah ingusan seperti kamu mampu membayar hutang mereka" ucap Joko yang meremehkan.
segera Didi mengeluarkan cek kosong dari handbag nya lalu tiba-tiba terhenti dan mengambil mengambil ponselnya.
"lebih baik di transfer langsung aja ya, takutnya kakek tua ini ngak ngerti sama cek" ucap Didi tertawa mengejek.
Dwi tersenyum melihat sikap lucu Didi.
" berapa nomor rekening nya kakek tua?" ucap Didi sambil membuka ponselnya.
"oke. kita buktikan ucapan kamu bocah ingusan" ucap joko. menyebutkan nomor rekeningnya.
"lalu berapa harus saya Transfer saat ini" ucap Didi
"hutang beserta bunga nya 45jt" ucap Joko.
"apa, bunga? eh rubah tua, kamu pikir selama ini saya bayar apa ke kamu, kamu selalu minta bunga di bayarkan setiap bulannya" ucap Dwi yang tidak percaya.
"stttt...sayang tenang, kamu ngak boleh marah-marah gitu. entar kulit mulut kamu keriput sebelum pernikahan kita, cuma 45jt bukan hal sulit kok, kamu tenang aja ya" ucap Didi yang berusaha menenangkan Dwi.
"tapi mas, ini ngak adik mas" ucap Dwi.
"anggap aja kita saat ini bersedekah ya sayang, jadi pahalanya juga akan kita dapat" ucap Didi kembali.
sambil mengetik nominal angka dan memberitahukan bahwa uang sudah berhasil di transfer.
"sudah ya. saya lebihkan 5jt buat ongkos taxi kamu pulang" ucap Didi sambil memperlihatkan bukti transfer berhasil.
"mulai sekarang kakek tua jangan pernah gangu keluarga tunangan saya lagi, dan ongkos taxi sudah saya berikan jadi silahkan kakek tua pulang sekarang" ucap Didi dengan sopan mengusir.
seakan ngak terima di perlakukan tidak sopan, Joko kini memanggil anak buah nya dengan menghembuskan jari nya di mulut dan mengeluarkan bunyi nyaring.
kedua anak buah Joko masuk dan tangannya sudah di ikat oleh bodyguard Didi di luar. melihat itu semua Didi pun tertawa kecil.
"b******k kamu ya" ucap Joko kepada Didi. namun Didi menggap tidak acuh.
"sayang kamu lihat keadaan ibu kamu dulu gih, mas biar bereskan orang orang ini dari sini dulu" ucap Didi kepada Dwi.
"ia mas" jawab Dwi sambil mengangguk.
Dwi pun segera masuk ke tirai putih yang tertutup sejak tadi. melihat keadaan ibu dan adiknya yang baik-baik saja ada rasa lega dari nya.
di luar sana Didi hanya memberikan kode kepada bodyguard nya untuk 2 orang tetap menjaga ruangan ini dan selebihnya bisa kembali stelah membereskan Joko dan anak buahnya untuk pergi dari sini.