setelah memastikan keadaan sudah baik-baik saja, Didi pun masuk ke dalam ruang inap Aminah kembali.
"assalamualaikum" salam Didi masuk.
"walaikumsalam" serentak Dwi, Rio dan Aminah menjawab.
mendengar suara Didi mengucap salam senyum terkembang di wajah Dwi dan membuka tirai putih itu secara menyeluruh.
"mas kamu udah balik" ucap Dwi lalu mengambilkan kursi untuk Didi duduk. "ini mas duduk sini" ucap Dwi mempersilahkan Didi duduk.
Didi pun menuju kursi yang telah di sediakan.
"oh iya buk, kenalin ini mas Didi buk. dia atasan Dwi di kantor buk" ucap Dwi ya g memperkenalkan Didi.
"buk, bagaimana keadaan nya buk? saya Didi buk" sambil mengulurkan tangan Didi untuk di jabat.
Aminah yang melihat sikap sopan Didi menyambut uluran jabatan tangannya dengan didi.
"saya Aminah, oh iya pak Didi saya ucapin terima kasih bapak sudah mau berkunjung kesini dan membantu Dwi dari ancaman Joko tadi" ucap Aminah.
"sudah kewajiban saya melindungi Dwi buk, ibuk juga ngak perlu khawatir lagi ya buk" ucap Didi.
" saya juga kesini sama Dwi juga mau minta Restu ibuk dan Rio untuk saya dan Dwi kedepannya" terang Didi.
mendengar hal itu Rio dan Aminah saling bertatapan bingung.
"maksud pak Didi bagaimana? ibuk masih belum paham" ucap Aminah sambil mengerutkan dahi nya.
"buk, sebenarnya mas Didi ini udah ngelamar Dwi buk. Dwi sama mas Didi sepakat untuk menikah buk. maaf Dwi belum sempat mengatakan ini sama ibuk karena kemarin kondisi ibu yang tidak baik jadi Dwi belum sempat memberitahukan sama ibuk. makanya kita kesini juga udah niat buat minta Restu sama ibuk" terang Dwi.
"memangnya kamu udah lama kenal pak Didi ini nduk? sampai kamu memutuskan untuk menikah nduk" tanya Aminah.
" kami kenal emang belum lama buk, Dwi udah yakin kalau mas Didi pilihat tepat untuk jadi pendamping Dwi buk" ucap Dwi yang senyum dengan menatap Didi.
"kalau ibuk merestui kami, kami akan menikah 5 hari lagi buk" ucap Didi " saya harap ibu sudah bisa sehat dan dapat menghadiri pernikahan kami buk" ucap Didi. "apa 5hari lagi? kenapa terburu-buru" ucap Aminah yang tidak percaya.
"maaf sebelumnya Buk, saya yang minta Dwi untuk menikah cepat karena saya memang ingin melindungi Dwi dan membangun rumah tangga sakinah mawadah warahmah bersama Dwi buk" terang Didi. "dan saya juga ingin Dwi bisa jadi ibu buat anak-anak saya juga bu, kelurga saya juga sangat menyukai Dwi" terang Didi.
"apa. anak?" tanya Aminah yang masih bingung.
"buk, mas Didi ini sudah pernah menikah, dan bercerai 5tahun yang lalu kini dia sudah memiliki 2orang anak buk" terang Dwi. " tapi nduk apa kamu yakin nduk sama keputusan kamu mau menikah, kamu belum lulus kuliah nduk" ucap Aminah meyakinkan anak nya.
"insyaallah buk, kalau kuliah Dwi udh bentar lagi selesai kok buk tinggal 2 Bab insyaallah selesai buk" ucap Dwi untuk meyakinkan.
" gimana buk, apa ibuk mau kan kasih restu buat Dwi dan mas Didi buk" ucap Dwi seakan memohon.
Aminah hanya terdiam sejenak memikirkan apakah langkah anak nya ini sudah benar. namun kalau dipikir dari pada Dwi menikah sama Joko memang sebaiknya dengan Didi. dan keliatan dari tau wajah Dwi tampak bahagia dengan adanya Didi di samping nya.
Aminah mengeluarkan nafas kasar.
"ibu cuma mau yang terbaik buat kamu nduk, kalau memang kamu sudah mantap dan yakin sama pilihan kamu, ya ibu hanya bisa berdoa yang terbaik buat kamu dan mendukung semua yang kamu anggap baik nduk" ucap Aminah sambil mengelus lengan Dwi.
"Alhamdulillah, terima kasih banyak ya buk" kali ini Didi yang berbicara. " insyaallah buk. saya akan pastikan Dwi bahagia bersama saya buk" ucap Didi yang sudah tidak bisa menutupi rasa senang nya.
" ibuk titip Dwi yah, tolong di bimbing dan jaga dia dengan baik" ucap Aminah kepada Didi.
"pasti buk, pasti saya akan lakukan yang terbaik buat kebahagiaan Dwi" ucap Didi.
"Rio juga mau bilang mas, kak Dwi kalau makan banyak, trus cemilan nya juga banyak mas" ucap Rio yang membongkar kejelekan kakaknya.
"eh...kamu masih kecil main potong omongan orang aja" cela Dwi yang menatap adiknya sinis.
" haha... mas jangan sering di jajanin bakso mas, entar pipinya makin cuby mas" ucap Rio kembali.
Didi tertawa melihat pertengkaran adik dan kakak itu. "ngak papa Yo, entar mas belikan gerobak baksonya sekalian" ucap Didi. "mas..." Dwi cemberut dan memukul tangan Didi karena ledekannnya.
akhirnya mereka pun tertawa bersama... dan tidak sabar menanti beberapa hari menjelang hari sakral dwi dan Didi.
waktu menunjukkan pukul 15.30 Dwi yang menatap jam di tangannya segera bangun. "mas, udah jam setengah empat loh, kamu bukannya ada metting sama clien mas, ayo kita kembali ke kantor mas" ucap Dwi yang segera mengambil tas nya. "iya buk, wi balik kantor dulu ya buk, wi ngak enak kalau bolos-bolos buk" ucap Dwi dan segera mencium punggung tangan Aminah.
"saya juga pamit ya buk, semoga cepat sehat ya buk. oh ia ada 2 orang di depan. orang kepercayaan saya kok buk. mereka berjaga disini buk" ucap Didi memberitahukan bodyguard nya di depan.
"terima kasih nak Didi" ucap Aminah.
Dwi pun segera berlari dan menarik tangan Didi.
Didi hanya tertawa melihat sikap Dwi. padahal ia sudah menyuruh mika buat cancel semua janji nya hari ini.
namun Didi ngak akan mengatakannya kepada Dwi. karena Didi sangat senang melihat sikap Dwi yang khawatiran begini. stelah memasuki mobil dan kini Didi menjalankan mobil sport hitam nya untuk menuju arah kantor. dan tak lupa ia mampir ke tukang bakso yang ada di tepi jalan. "loh mas kok berenti, kita udah telat loh" ucap Dwi. "bentar, aku belikan mika bakso dulu kasian dia kerja seharian tanpa mas" ucap Didi yang berbohong. padahal ia membeli bakso buat Dwi yang ia tau kalau Dwi belum sempat makan siang tadi.
"kamu tunggu disini aja ya" ucap Didi.
Didi turun dan memesan baksonya. di bungkus buat dia ada 5 bungkus karena di ruang staf CEO ada 3 orang, 2 orang diantaranya adalah asiste mika. entah kenapa Didi ingin berbagi kebahagiaan bersama staf CEO dan Dwi di ruangan nya. "oh iya pak, saya pesan bungkus juga buat ke lantai 8 ya pak ada untuk divisi legal semua ada 25 orang, nanti bisa di anter ya pak ke lantai 8" ucap Didi. " wah bisa banget pak bos" ucap Abang tukang bakso yang memang sudah jadi langganan pegawai Setiadi company. stelah membayar semuanya Didi kembali ke mobil dengan membawa tentengan plastik bakso. " bakso bapak ini terkenal enak. kamu sebaiknya nanti juga makan di ruangan saya aja ya" ucap didi. " kok mas banyak banget beli nya" tanya Dwi dengan melihat kantong plastik yang di letak Didi di kursi belakang.
"buat mika, Naufal dan Adit, dan buat mas dan kamu juga" ucap Didi.
Dwi hanya mengangguk mengerti.
sesampai di loby Dwi dan Didi turun dan ngak lupa tangan nya kembali meraih tangan Dwi untuk di gandeng. Dwi kali ini tidak menolak dengan sikap Didi. karena semua karyawan memang sudah mengetahui rencana pernikahan mereka.
sesampainya di lantai 10 Didi dan Dwi menuju ruangan Didi. tak lupa ada mika, Naufal dan Adit yang menyapa mereka.
Didi memamerkan bungkusan plastik ke arah mereka. "kalian bertiga masuk ke ruangan saya ya kita pesta bakso di dalam" ucap Didi. mika hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepalanya melihat sikap sahabat nya itu.
mika meminta Naufal untuk mengambil beberapa mangkok dan sendok di pentri.
mereka makan dengan rasa bahagia. begitu juga dengan Dwi. Dwi kagum melihat Didi yang benar-benar menggap karyawan nya seperti teman karibnya. maksudnya bersmaa Naufal dan Adit karena kalau mika ia memang sudah tau kalau mereka berusahat sejak SMA.