setalah selesai melahap bakso Dwi melirik jam tangan di tangan nya yang menunjukkan waktu sudah pukul 17.00 wib. "astaga... udah jam 5 aja" ucap Dwi yang tak percaya. sambil tergesa berberes dan mengambil tas," mas aku kebawah dulu, ada laporan yang harus aku kerjakan" ucap Dwi sambil berlari keluar ruangan CEO. Didi yang melihat sikap cereboh kekasihnya itu pun tertawa begitu juga mika, Naufal dan Adit. "ibu bos emang luar biasa lincah nya" ucap Adit tanpa sadar terdengar oleh Didi. mendengarnya Didi menatap Adit seakan ingin memakannya. "Upsss ampun pak bos" ucap Adit kembali sambil menutup mulutnya dan menyeringai seakan tak bersalah.
"haha... emang lincah sih" saut mika. dan mereka semua tertawa.
***
sesampai nya Dwi di lantai 8 ia bingung melihat pemandangan yang sedikit menjanggal, semua meja staf terdapat mangkok yang isinya bakso.
"loh kalian makan bakso disini?" Tanya Dwi Heran.
"terima kasih buk bos atas traktiran baksonya" ucap Dito yang mengelus perutnya kekenyangan.
" hah traktiran, siapa yang traktir" ucap Dwi.
"kan ibu bos yang traktir kita" ucap Widya.
"makasih ya wi baksonya" ucap Siska yang baru saja keluar ruangan sambil menenteng mangkok bakso.
Dwi masih heran kok bisa mereka mikirnya kalau Dwi yang membelikan mereka bakso. Dwi pun segera duduk di meja kerja nya. pikirannya juga masih bertanya-tanya soal bakso yang di makan oleh semua temannya.
" mas Dito, sebenarnya ada apa sih? kok bisa kalian makan bakso semua, ada yang ulang tahun ya" tanya Dwi.
"loh tadi Abang tukang bakso yang anterin katanya dari kamu dan pak Didi baksonya" terang Dito.
"hah....jadi ini ide pak Didi. ya ampun aku sama sekali gak tau kalau dia beli sebanyak ini" ucap Dwi sambil menggaruk kepalanya yang gak gatal.
"ya udah aku lanjut buat laporan dulu ya" ucap Dwi. Dwi fokus dengan komputer di meja kerja nya. setelah sejam berkutat dengan komputer nya. Siska menghampiri Dwi yang masih tinggal sendiri di kantor.
" wi, kamu belum pulang?" ucap Siska yang duduk di depan meja Dwi.
"eh buk, ini buk dikit lagi udah kelar kok buk, entar lagi saya kirim ke email ibu ya" ucap Dwi sambil fokus dengan komputer nya.
"kamu ngak perlu buru-buru. itu juga buat besok siang kok" ucap Siska.
"iya buk, soalnya saya abis ini mau lanjutin skripsi saya buk, kebetulan tinggal 2 Bab lagi" ucap Dwi.
"oh iya wi, saya ngak menyangka kamu sama pak Didi akan menikah" ucap Siska, seketika Dwi berhenti mengetik dan menatap Siska.
"kenapa buk? apa mas Didi punya wanita lain" ucap Dwi menyelidik.
siska langsung geleng kepala "ngak, bukan itu. ada rumor yang beredar kalau pak Didi tengah dekat dengan Gita manager keuangan, karena Gita kerap sekali sering ke ruangan CEO, makanya siang tadi kita semua kaget kalau kamu lah calon istri pak Didi yang selama ini di sembunyikan jatidirinya" ucap Siska.
"maksud ibu gimana? selama ini mas Didi udh pernah bilang kalau dia udah punya calon istri gitu?" ucap Dwi yang masih bingung.
"ia, karena beliau sempat cerita ke saya kalau ia risih melihat sikap Gita yang seakan-akan sudah menjadi calon istri Didi" terang Siska. "nah sejak saat itu rumor di kantor mengatakan kalau Gita adalah calon istrinya si bos" terang Siska.
"emang nya mas Didi sering jalan berdua sama buk Gita buk?" tanya Dwi kepo.
" ngak pernah sih, karena pak Didi kemana-mana selalu ajak Mika" ucap Siska.
"terus sekarang buk Gita gimana buk" tanya Dwi.
"sejak melihat kamu di tarik oleh pak Didi di loby kemarin, sejak saat itu ia cuti dari kantor, alasannya juga katanya sakit" ucap Siska. "tapi wi, saya justru senang melihat pak Didi sama kamu, keliatan banget aura pak Didi tu beda kalau sama kamu, dia lebih sering tersenyum" ucap Siska sambil tertawa kecil.
"ahhh...buk Siska bisa aja nih" ucap Dwi yang malu-malu.
"saya sama mas Didi emang awalnya sepakat ngak bilang dulu sampai hari pernikahan kita buk, tapi mas Didi sendiri yang ngak sabar tuh, tadi juga dia bilang kalau udah saat nya hubungannya dengan saya di publikasikan, saya sempat menolak, tapi kalau bos yang perintah saya bisa apa buk" ucap Dwi.
"saya sebenarnya ngak mau aja orang-orang menilai saya yang ngak-ngak buk. apalagi saya baru bekerja disini" ucap Dwi. "kamu tenang aja, kalau udah bos yanh berbicara ngak ada yang berani bicarakan kamu di belakang" ucap Siska.
"oh iya udah malam ni. kamu yakin disini sendirian? apa ngak pulang aja? kerjain di rumah aja gih" ucap Siska.
"ngak papa buk. udah mau kelar kok" ucap Dwi. "ya udah kalau gitu saya duluan ya wi" ucap Siska sambil berjalan meninggalkan Dwi.
"iya buk. hati-hati buk" sahut Dwi.
Siska yang menunggu lift dan akhirnya terbuka dan mendapati Didi yang bersiap-siap pulang. "loh pak Didi ngak bareng Dwi. Dwi masih di dalam tu pak" ucap Siska memberitahu.
"oh ya, belum pulang dia" ucap Didi.
"katanya masih mau keluarin dulu pak" ucap Siska.
" kalau gitu saya tunggu dia disini aja" ucap Didi yang keluar dari lift.
"kalau gitu saya duluan pak" ucap Siska sambil memasuki lift.
Didi merjalan menuju meja Dwi. kali ini Dwi tidak mengetahui kedatangan Didi.
Didi pun duduk di depan meja Dwi. tetap Dwi tak menyadari kehadiran Didi disana karena ia fokus dengan motitor di depannya.
sampai hitungan menit berlalu... "ahhhh akhirnya selesai juga"ucap Dwi sambil merentangkan tangannya yang pegal.
"aghhhh " jerit Dwi yang kaget melihat Didi duduk terdiam memandangnya.
"mas, sejak kapan mas disitu" ucap Dwi.
"udah dari tadi, kamu serius amat sampai gak liat mas datang" ucap Didi sedikit ngambek.
"hehe...aku ngeburuin laporan buat besok siang, biar aku bisa lanjutkan skripsi aku mas" ucap Dwi. kini Dwi pun mangambik ransel nya dan mengeluarkan laptop nya dari dalam ranselnya.
" udah jam 7 malam Loh, kita pulang yuk" ucap Didi. Dwi hanya diam sambil berpikir.
"kerjain di rumah aja. mas anter kamu pulang" ucap Didi. Dwi hanya mengangguk menyetujui.
sesampai di depan gang rumah Dwi kini Didi memarkirkan mobilnya, karena tidak bisa masuk mobil ke halaman rumah Dwi. semua mata tetangga tertuju melihat siapa yang turun dari dalam mobil mewah itu. Dwi dan Didi turun dan menuju rumah yang gelap karena ia lupa kemarin tidak pulang jadi lupa menghidupkan lampu. Dwi membuka pintu dengan lebar agar tidak menimbulkan fitnah dari tetangga.
"kok pintunya di buka lebar-lebar gitu" ucap Didi.
" ngak enak mas sama tetangga, entar di kira kita macem-macem lagi" ucap Dwi.
"mas mau kopi atau teh" tanya Dwi.
"kopi aja deh" ucap Didi yang duduk di sofa sederhana di rumah yang sederhana juga.
"ini mas" Dwi memberikan kopi buatannya kepada Didi.
menghembuskan secara perlahan dan meminum perlahan kopi buatan Dwi.
"kopi buatan kamu enak wi saya bakalan minta buatin terus nih tiap pagi" ucap Didi memuji.
Dwi pun hanya tersenyum.
"oh iya wi, kalau kamu pindah ke apartement mas aja gimana, lebih dekat ke kantor dan kampus kamu juga loh" ucap Didi. Dwi mengerutkan keningnya.
"maksud mas, apartement itu gak ada yang nempati jadi dari pada kosong mending kamu tempati sekalian ajak ibu dan Rio juga" terang Dwi.
"ngak usah mas, yang ada aku makin ngerepotin kamu mas" ucap Dwi. "kamu ngak pernah ngerepotin mas wi, mas beneran tidak merasa pernah di repotkan sama kamu" ucap Didi sambil mengelus rambut panjang Dwi yang halus di sebelah nya.
seketika terdengar suara orang memanggil Dwi dengan sarkas.
"Dwi ..keluar kamu" ucap para tetangga sekita. mendengar itu Didi dan Dwi kaget lalu mereka keluar bersama.
"kamu itu ngapain bawa laki-laki dan cuma berduaan di dalam rumah, kamu mau berzinah di sini ya" ucap salah satu tetangga Dwi yang brontak tidak senang.
"saya ngak ngapain-ngapain di dalam buk sumpah, dan saya juga buka pintu lebar-lebar buk" ucap Dwi mencoba menjelaskan.
"maaf ibu-ibu bapak-bapak, nama saya Didi Mahardika Setiadi saya calon suami dari Dwi. insyaallah kami akan menikah 5hari lagi, jadi saya hanya berkunjung kesini tanpa maksud apa-apa" ucap Didi menjelaskan.
"Halah ...ngomong doang mau menikah, Dwi kan bakal nikah sama bang Joko karena keluarga nya banyak hutang" ucap tetangga yang sarkas.
"kami ngak mau tau, kamu harus pergi dari kampung ini Dwi. kami tidak mau kamu mengotori rumah orang tua kamu dengan perzinahan kamu" ucap para tetangga.
mendengar hal itu Dwi benar-benar ngak bisa menahan air matanya. hatinya hancur di fitnah oleh tetangganya.
Didi segera masuk dan mengambil handbag nya dan tas Dwi. segera Didi menutup pintu dan mengunci nya dan meraih tangan Dwi untuk pergi dari sana.
Dwi tidak bisa menolak ajakan Didi karena mendengar ucapan para tetangga yang sudah sangat keterlaluan.
di dalam mobil Dwi pun tidak juga berhenti menangis. hingga tiba mereka di sebuah apartement mewah. setelah memarkirkan mobilnya kini Didi pun mengajak Dwi untuk naik ke apartemennya.
apartement Didi di lantai 12, kini Dwi dan Didi memasuki apartement mewah milik Didi. ada 3 kamar tidur dan 1 kamar untuk ART. Dwi pun masuk dan duduk di sofa besar yang menghadap ke arah tv yang besar di depan nya.
Didi mengambilkan air putih dari arah dapur dan memberikan nya ke Dwi.
"maaf ya mas cuma punya air putih disini" ucap Didi.
"makasih mas" sahut Dwi.
"wi, kamu tinggal di sini aja ya sampai pernikahan kita, mas ngak mau kamu jadi bulan-bulanan tetangga kamu itu. mas mohon tinggallah disini" ucap Didi memohon.
tanpa ada jawaban dari Dwi dan Didi pun bersiap mengajak Dwi ke kamar.
"kamu diam artinya setuju" ucap Didi sambil meraih tangan Dwi.
" mas kita mau ngapain" ucap Dwi yang bingung ketika di ajak ke kamar.
lalu mendudukkan Dwi di ranjang berukuran king size itu.
"kamu sekarang mandi dulu, handuknya ada di toilet, dan baju ganti kamu ada di dalam lemari, abis mandi kita pergi ke mall buat belanja kebutuhan di sini" ucap Didi sambil mengacak kepala Dwi.
"kenapa kamu natap mas begitu? jangan bilang kamu pikir mas mau ajak kamu gituan ya" ucap Didi menggoda. dan membuay pipi Dwi merona merah.
setelah melihat Dwi yang sudah masuk ke kamar mandi handphone Didi bergetar dan segera ia meraih ponsel pintar nya. terlihat nomor telphone rumahnya disana. segera ia mengangkat telphone itu. " hallo" ucap Didi.
"papa... kok papa ngak pulang, nginap di kantor lagi ya" ucap azkia putri sulung Didi.
"ia sayang kerjaan papa lagi banyak banget. besok papa pulang ya. sekalian mau kenalkan bunda baru buat kalian" ucap Didi.
"bunda baru? pa kami cuma butuh papa ngak perlu bunda baru, kalau nantinya akan menyakiti papa lagi" ucap azkia yang kini sudah mulai mengerti.
" kali ini bunda baru nya baik kok sayang, papa yakin kalian pasti pada suka, besok papa kenalin yah" ucap Didi.
"iya pa, kalau gitu sampai ketemu besok ya pa, Miss you papa" ucap azkia yang mengakhiri telphone nya.
"Miss you to honey" sahut Didi.
tak lama kemudian Dwi keluar dari kamar dan sudah rapi menggunakan baju dress maron selutut dengan lengan balon pendek. pakaian sederhana namun tampak mewah di kenakan Dwi.
"mas, ngak mandi?" tanya Dwi.
"ia mas mandi dulu ya. udah gerah juga sih" ucap Didi. tak lama kemudian Didi keluar dari kamar dengan stelan santai juga. baju kaos polo shirt maron dengan celana jeans panjang. Didi sengaja memilih warna senada dengan baju Dwi.
"yuk kita berangkat.." ucap Didi.