waktu menunjukkan pukul 07.30 Didi dan Dwi sudah siap untuk bekerja hari ini. Dwi yang mau bangkit dari meja rias tiba-tiba merasa ada yang sakit di bawah sana.
"aduh..." rintih Dwi yang merasakan perih di bawah sana.
sontak Didi pun menatap heran dengan Dwi. "kamu kenapa? kamu sakit" ucap Didi yang sedikit khawatir.
"perih mas" ucap Dwi yang seketika duduk kembali dan menundukkan kepalanya mengarahkan pandangan nya kebawah sana.
Didi yang melihat arah mata Dwi ke bawah mengerti apa yang di maksud oleh Dwi.
"maafkan saya wi, saya benar-benar tidak tau kalau ini yang pertama bagi kamu, aku menyesal telah melakukannya" ucap Didi dengan rasa penyesalan.
namun Dwi mengerti apa yang di rasakan pria di hadapannya itu.
"kamu gak salah mas, kamu juga udah meminta ijin kepadaku terlebih dahulu mas, kita ngelakuinnya atas kesepakan bersama, aku ngak papa kok mas. mungkin karena ini baru pertama jadi aku merasakan sakit seperti ini" terang Dwi yang berusaha untuk menahan rasa sakitnya.
"tapi kamu yakin ngak papa, atau kalau gak kamu Istirahat aja dulu gak usah kerja dulu gimana? kamu tiduran aja disini ya, nanti mas minta mika buat pesankan sarapan buat kamu" ucap Didi yang masih terus khawatir.
"ngak usah mas, aku ngak papa kok, sakitnya udah ilang sekarang, cuma kandang-kadang timbul lagi sakitnya" ucap Dwi yang berusaha menenangkan Didi agar tidak menghawatirkan nya.
Tok..tok..tok...
suara ketukan pintu terdengar. kedua saling melempar pandang ke arah pintu.
"siapa itu mas? jangan-jangan karyawan lain tau aku disini sama kamu mas" tanya Dwi dengan rasa takutnya.
Didi yang sedang duduu di tepi ranjang dan berhadapan dengan Dwi tertawa kecil melihat wanita nya ketakutan.
sambil mengusap kepala Dwi "paling juga mika, mau kasih tau jadwal mas hari ini" ucap Didi.
"oh gitu, ya udah mas aku ke ruangan aku dulu ya" ucap Dwi yang beranjak dari duduknya secara perlahan dan di bantu oleh Didi. Didi begitu telatennya membantu Dwi berjalan sampai pintu kamar terbuka yang memperlihatkan sosok mika yang telah menunggu nya.
mika bingung dengan sikap Didi yang memopoh Dwi berjalan.
"loh, mba Dwi kenapa? sakit?" tanya mika.
"saya ngak papa kok, tadi cuma kepeleset aja di dalam" bohong Dwi. karena ngak mungkin ia mengatakan kalau ia seperti ini karena ulah Didi tadi malam hingga tadi pagi.
mendengar hal itu, Didi berusaha menahan senyum nya namun terlihat oleh mika yang memicingkan matanya melihat rawut wajah Didi. mika pun melihat keduanya secara bergantian dan mengerti kenapa Dwi kesakitan seperti itu.
"ya udah kalau gitu saya bantu yuk mba, mba Dwi mau kemana sekarang" tanya mika.
" saya mau ke ruangan saya kok. ngak papa saya bisa sendiri kok. ngak enak dilihat yang lain nanti" ucap Dwi.
setelah meninggalkan ruangan CEO kini Dwi menuju lantai 8 dengan lift.
sesampainya di lantai 8 untung nya semua orang belum berdatangan. karena memang jam masuk kantor jam 9. jadi ia datang lebih awal dan bisa sedikit santai di meja nya dan mempersiapkan bahan buat metting nya hari ini. karena kekasih nya itu mau hari ini kontrak yang di tugaskan sama CEO itu haru selesai.
satu persatu yang lain datang dan tampak juga Siska juga baru datang.
"selamat pagi..." sapa Siska
"pagi buk" ucap serentak semua.
" oh iya wi , bagaimana sudah selesai kontrak nya?" tanya siska.
"sudah Bu, tadi saya baru kirim ke email ibu" ucap Dwi.
"oh...baiklah saya cek dulu di dalam ya" ucap siska sambil tersenyum lega.
10 menit kemudian.
"guys...siap-siap ke ruang metting ya. kita akan metting bahas kontrak yang di buat oleh Dwi" ucap Siska.
"wi, kamu juga siap-siap untuk presentasi kan kontrak yang kamu buat yah" ucap Siska
"baik Bu" ucap Dwi sedikit melemah.
karena ia belum siap berdiri lama-la karena masih terasa perih.
setiba nya di ruang metting. siska memulai metting nya dengan para staf nya. karena CEO masih ada tamu yang datang nanti CEO akan datang agak telat.
Dwi pun menampilkan hasil kontrak nya di layar raksasa di hadapannya.
pasa-pasal dan ayat-ayat yang terdapat pada kontrak tersebut ia jabarkan secara terperinci. tak lama kemudian Didi masuk dengan Mika. Dwi pun membungkukkan badannya sedikit. Didi pun mempersilahkan Dwi untuk melanjutkan. dengan fokus Didi mendengarkan semua yang di ucapkan Dwi, Didi juga mendekatkan kepala nya ke arah mika untuk berbisik, "ngak salah kan pilihan gue kali ini, muda , cantik dan pintar tentunya" ucap Didi pelan.
mika yang mendengar nya hanya tersenyum sambil mennggukkan kepanya menandakan setuju dengan omongan Didi barusan.
di kampus Dwi memang seorang mahasiswi yang rajin, ia sama sekali tidak pernah peduli dengan pergaulan, nyatanya memang Dwi tidak memiliki teman banyak. hanya satu teman dekatnya di kampus yaitu Afifah. Afifah juga sama seperti Dwi bisa berkuliah karena beasiswa, dan mereka berdua selalu bersama saat berkuliah. karena kesibukan skripsi sehingga mereka Kini jarang ketemu. namun komunikasi mereka tetap Baik walaupun hanya dengan chat wa.
kurang lebih 1 jam Dwi menjelaskan di depan, kan kini kakinya mulai lemas karena menahan rasa sakit di bawah sana. melihat sikap Dwi yang berbeda, kalau Didi mengerti apa yang di rasakan wanitanya di hadapannya saat ini.
ia pun segera memotong presentasi Dwi.
" baiklah saya udah paham semua isi nya, kamu bisa duduk kembali" ucap Didi yang berusaha untuk mengentikan Dwi agar tidak melanjutkan presentasi nya.
"baik pak" ucap Dwi.
"buk Siska, saya rasa kontrak kali ini sudah cukup jelas dan terperinci, saya sangat suka dengan hasil kerja tim buk Siska" ucap Didi memuji.
"ini semua hasil kerja Dwi pak, sebelumnya saya juga udah periksa isinya dan saya juga sependapat dengan bapak bahwa kontraknya sudah sangat jelas pak, saya juga tidak menyangka punya staf yang masih mahasiswa yang otaknya udah seperti seorang ahli hukum pak" kali ini pujian di layangkan untuk Dwi. semua staf yang lain juga kagum dengan pekerjaan Dwi.
"selamat ya wi, gak salah kalau kamu mendapatkan nilai cumlaude dari dosen-dosen kamu" puji Siska kembali.
dan kali ini membuat mika dan Didi membulatkan matanya dan saling bertatapan. Didi gak menyangka kalau istrinya memiliki otak yang sangat jenius dan memiliki prestasi di kampus nya. apalagi Dwi seorang mahasiswi di salah satu kampur ternama di negri ini.
"gila, emaknya dulu ngidam apa ya ngelahirin anak yang pinter begini" gumam mika pelan namun terdengar oleh Didi. Didi mendengarkannya Tampa tersenyum puas, karena kali ini ia mantap untuk mempersunting Dwi sebagai istri nya.
"baiklah, sebagai rasa terima kasih saya kepada Team departement Legal, saya akan traktir kalian semua makan siang hari ini" ucap Didi dengan senyum nya mengarah ke Dwi.
melihat Didi tersenyum begitu ada rasa bahagia, karena kali ini ia berhasil membahagiakan orang yang akan menjadi teman hidupnya sebentar lagi.
"wah... terima kasih banyak pak, bapak emang bos paling the best" ucap Widya.
"mika kamu atur restoran tempat biasa ya" ucap Didi kepada mika.
"baik pak.saya akan received tempatnya" ucap mika.
"kalau begitu kita sudahi metting kali ini, terima kasih semuanya" ucap Didi sambil meninggalkan ruang metting yang di ikuti oleh mika di belakang nya.
"cie...cie... senang banget Lo kyknya" goda mika.
"ka, gue ngak nyangka Dwi bisa secerdas itu, kalau kayak gini gue gak akan bisa lepasin dia dari perusahaan ini ka, kalau perlu gue angkat dia buat gantiin Siska sekarang" ucap Didi yang masih membanggakan Dwi.
"hei Lo harus sabar, Lo kan tau sendiri Dwi itu anak baru. dan jangan sampai omongan orang nanti membuatnya ngak nyaman bekerja disini. dan Lo jangan pernah pilih kasih juga sama departement lain. entar dampaknya ke Dwi juga" ucap mika yang mencoba menjelaskan situasi kantornya.
"Lo benar ka, Dwi juga bilang ke gue dia mau profesional stelah menikah nanti" ucap Didi.
"kali ini gue setuju sama pola pikiran Dwi, gue pengen banget punya anak yang otaknya kyk Dwi nantinya" ucap mika.
"dan Gue bakal cetak banyak anak nanti biar otaknya kayak mama nya" ucap Didi yang masih merasa bangga dengan kepintaran calon istrinya.
sesampai di ruangan ceo, mika juga meletakkan beberapa dokument yang harus di tanda tangani oleh Didi.
"oh iya, by the way kapan Lo mau umumkan soal pernikahan Lo ke karyawan yang lain?" tanya mika.
"hari ini gue akan umumkan" ucap Didi.
***
setiba nya di restoran , Didi tak melihat Dwi ada disana, "loh Dwi kemana?" tanya Didi kepada staf yang lain.
"lagi ke toilet pak, soalnya Dwi tadi pagi jatuh dari kamar mandi pak, jadi agak susah jalan mungkin bentar lagi kembali pak" ucap Widya.
mika diam-diam menyikut Didi. " Gila Lo, abis main berapa ronde tadi malam sampai begitu anak orang" ucap mika pelan namun terdengar oleh Didi.
"cuma 2 ronde, tadi malam 1 ronde, tadi pagi 1 ronde di kamar mandi" ucap Didi jujur. karena ia emang ngak bisa bohongi mika. "gue ngak nyangka perdana gue lepas segel nya ka" ucap Didi kembali dan kali ini mika memukus pundak sahabat sekaligus bos nya itu. "aww.." rintih Didi sambil mengelus pundak nya.
semua mata beralih menatap Didi dan mika.
"eh...maaf pak tadi ada nyamuk di situ pak" ucap mika yang berusaha mengalihkan pandangan semua orang.
"wah bahaya pak, kalau ada nyamuk siang bolong begini, bisa DBD entar pak" kali ini Dito yang bersuara. mika berusaha menahan tawa nya.
"kalau begitu saya ke toiler dulu ya" ucap Didi kepada semua staf.
sebenarnya ia tidak ingin ke toilet. cuma khawatir sama Dwi yang belum kembali dari tadi.
Didi pun menunggu di depan pintu toilet wanita. tak lama kemudian Dwi keluar dari toilet dan terkejut melihat Didi sudah berdiri di depan pintu.
"kamu ngak papa sayang?" ucap Didi khawatir.
"stttss.... mas, jangan panggil kayak gitu. malu di dengar orang" ucap Dwi sambil mengarahkan jari telunjuknya ke bibir Didi agar pelan-pelan.
"mau sampai kapan ngumpet-ngumpet begini, pernikahan kita tinggal 5hari lagi loh, dan mas mau mengumumkan soal pernikahan kita di kantor hari ini" ucap Didi.
" mas yakin mau umumkan hari ini" tanya Dwi.
"ya iya. mas udah mantap kok" ucap Didi. "kamu kenapa kayak ngak senang gitu" tanya Didi menyelidik.
" ngak mas, bukan gitu. aku cuma khawatir kalau staf yang lain akan memandang aku beda mas apalagi aku baru 2 hari bekerja" terang Dwi dengan wajah cemberutnya.
"hei... hei.. kamu lihat saya, tidak ada yang berani menggap kamu seperti itu, karena mas akan katakan kenapa kamu bisa bekerja disini, Karena kamu bisa bekerja disini emang hasil jerih payah kamu sendiri, dan itu semua sudah kamu buktikan tadi kan" ucap Didi sambil menangkup wajah Dwi dan berusaha untuk meyakinkan Dwi.
Didi membantu Dwi berjalan ke arah meja mereka. dan tanpa mereka sadari semua staf memandangi mereka yang terlihat mesra.
sesampainya di meja, Didi menarik kursi untuk Dwi agar ia bisa duduk dengan pelan. semua orang disana ngak menyangka dengan sikap manit seorang Didi yang terkenal dengan sikap dinginnya selama ini.
lalu Didi pun duduk, dan kali ini ia langsung buka suara.
"baiklah...sepertinya kalian sudah melihat semuanya. dan kali ini saya tidak akan menutupinya lagi. ya apa yang kalian lihat baru saja memang benar adanya. saya dan Dwi memang ada hubungan selama ini. tidak hanya kalian saja. bahkan keluarga juga sudah tau dengan hubungan kami yang tidak hanya seorang atasan dan pegawai. namun saya juga ingin menjelaskan kepada semuanya. bahwa Dwi masuk ke perusahaan itu semua tidak ada campur tangan saya sedikitpun. kalian bisa tanya dengan buk siska.karena beliaulah yang menerima Dwi saat interview nya. dan saya sama sekali tidak tau kalau kekasih saya ini ternyata diam-diam melamar kerja di perusahaan saya. selama ini kita emang menyembunyikannya karna kita ngak mau ada omongan aneh yang terdengar oleh kita di belakang. dan kali ini saya juga mau mengumumkan bahwa saya dan Dwi akan melangsungkan pernikahan 5hari lagi dan itu semua sudah ijin orang tua dan keluarga kita" ucap Didi. " saya berharap tidak ada yang bersikap tidak enak hati terhadap Dwi Karena ia calon istri saya, Dwi juga meminta kepada saya untuk bersikap profesional selama kami berdua di ruang lingkup perusahaan" ucap Didi.
sejenak semua terdia....
"ya ampun wi, kok ngak pernah cerita sih ke kita" ucap widya dengan senyum tulusnya.
"wi, kamu belum kenal tim di divisi saya ya, kalau di lantai 8 saya pastikan kamu tidak salah memilih teman. Karna saya tau hafal dengan karakter mereka masing-masing, saya bekerja dengan mereka sudah bertahun-tahun. insyaallah mereka orang-orang hebat juga seperti kamu wi" ucap Siska.
mendengar itu semua ada rasa lega di hati Dwi saat ini. karena ia yakin kali ini ia tidak salah melangkah.