Hal pertama yang kulihat ketika membuka kedua mataku adalah wajah Seika yang sangat dekat. Perlahan-lahan aku duduk di tepi kasur berusaha untuk tidak membangunkan Seika yang masih tertidur pulas. Kemudian aku baru ingat kalau Seika seseorang yang sulit bangun.
Bingung kenapa Seika yang berakhir tidur di atas kasurku, aku melihat ke arah kasur di mana seharusnya Seika tertidur di sana. Entah bagaimana ceritanya, Michiru, Yusuke dan Kaji berakhir tidur di atas kasur itu seperti tumpukan sarden dalam kaleng.
Melihatnya membuatku tidak bisa menahan tawa, suara ‘pfft’ pelan keluar dari sela-sela mulutku. Yusuke yang wajahnya terlihat paling jelas olehku langsung mengernyit, kedua matanya perlahan-lahan terbuka.
“Selamat pagi, Yusuke,” sapaku d