Beberapa jam kemudian, malam telah menyapa. Wijaya duduk di balkon sejak kepergian kedua temannya. Masih berkutat dengan laptop dan puluhan halaman naskah skripsi yang masih harus di revisi. Di depan Wijaya terdapat segelas teh lengkap dengan penutup gelas warna merah muda di atas meja. Selain itu, di sana juga terdapat kerupuk rambak dua bungkus. Wijaya merasakan kenyamanan dipeluk oleh dinginnya malam. Hal itu jauh lebih baik daripada dipeluk kehangatan, tapi terdapat rasa luka yang akan membekas di dalam hati.
Sekitar pukul delapan malam, Wijaya merasa lelah dengan beratus ribu kata yang ada di depannya. Mematikan laptop lalu berdiri dengan membawa gelas itu untuk menemani menikmati panorama malam. Menatap ke arah langit untuk mencari bintang, akan tetapi malam ini langit terlihat bers