Wijaya telah duduk di sebuah ruangan bersama dokter Shindy. Seorang dokter kejiwaan yang menjadi langganan dia selama menjalani konsultasi dalam menghadapi pahitnya hidup. Matanya masih sibuk mencari sesuatu yang ada di dalam ruangan itu. Padahal, jelas tidak ada sesuatu miliknya di sana. Sorot matanya pun menjadikan dokter shindy mengajukan pertanyaan kepadanya.
“Apakah ada sesuatu yang sedang kamu cari?” tanyanya.
“Tidak, tapi saya merasa ruangan ini sedikit berbeda, suasananya.”
“Oh iya, memang, Mas. Beberapa waktu lalu, saya menata ulang ruangan ini, sebab sudah terlalu banyak cerita menyedihkan yang menjadikan tempat ini sebagai saksi.”
“Mungkin, sejauh ini cerita saya yang paling menyedihkan.”
“Tidak, banyak cerita yang jauh lebih berat. Oh iya, bagaimana apakah masih sering had