Kondisi Wijaya yang masih kurang baik, akhirnya dia memilih untuk kembali ke Jakarta. Dia juga paham, tidak semua orang punya solusi yang sama, walaupun permasalahan yang sama. Wijaya merasa, pergi dari rumah justru membuatnya semakin memperburuk keadaan. Dia hanya membutuhkan seseorang yang bisa mengerti akan dirinya. Wijaya hanya membutuhkan seseorang yang bisa mendengarkan cerita, dia tidak membutuhkan sebuah solusi akan permasalahannya. Dengan bercerita, sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk menenangkan diri. Tapi, pergi ke psikiater ataupun psikolog tidak cukup dengan uang yang sedikit.
“Jaya, kamu pulang juga. Kamu ini pergi ke mana, sih?”
“Iya.” Wijaya masuk ke dalam kamar.
Wijaya merasakan rasa sakit yang hebat di lambung. Saking sibuknya dengan tekanan yang menyebabkan Wijaya