"Lo masih suka sama Angel kan Jul?"
Julian diam.
"Jawab gue kalau lo suka sama Angel?"
Angel dan Lara menghampiri keduanya yang hampir terlibat perkelahian.
"Julian Ray!"
"Iya, gue suka sama Angel, gue cinta sama dia. Bahkan sebelum lo suka sama dia."
Angel dan Lara syok dengan ucapan Julian.
"Ju-julian?"
"Apa? Julian!" Angel syok.
Julian kini canggung, ia sangat malu dengan pengakuannya. Tanpa pikir panjang Julian langsung berlari menjauh dari tempat itu.
"Juliana!" Teriak Angel.
Angel spontan mengejarnya. Melihat Angel yang mengejar Julian, Ray ikut mengejarnya.
"Angel!"
Julian berlari keluar dari gedung rumah sakit.
"Julian tunggu!"
Julian tetap mempercepat langkahnya.
"Julian aku mau ngomong sama kamu."
"Julian!"
Julian berhenti, tapi masih membelakanginya. Tanpa disadari matanya sembab.
"Apa yang kamu bilang barusan itu benar?"
Julian tak menyahut.
"Sekarang kamu udah tahukan, jadi untuk apa kamu peduli?"
"Bukan begitu Julian."
"Aku tahu Ngel, aku nggak pernah bisa jadi Ray, bahkan untuk sekedar bilang aku..."
"Lo pengecut!" Tiba-tiba Ray muncul diantara mereka.
"Lo udah pernah bilang sama gue kalau lo suka sama Angel. Tapi bukan berarti lo harus ngalah sama gue."
"Udahlahh, udah nggak ada harapan lagi buat gue. Gue harap kalian bahagia!" Julian kembali melangkah menjauh dan berjalan ke jalan raya.
Tepat dari kejauhan sebuah mobil melaju k dengan kecepatan kencang, tampaknya mobil itu lengah karena sopirnya mengantuk. Awalnya Julian tak menyadari, sampai Angel yang melihat sinar dari mobil itu mengarah pada Julian. Spontan Angel berlari memperingatkannya.
"Julian awas!"
"Angel jangan!"
Angel berlari dan langsung mendorong Julian menjauh dari mobil itu.
Ciiiit, namun naas, Julian berhasil selamat dari mobil itu karena Angel mendorongnya.
"Angel!" teriak Ray histeris.
Julian syok dengan apa yang terjadi. Ia melihat Angel tergeletak di aspal dengan kondisi kepala yang mengalir darah segar.
"Angel!"
"Angel!"
Lara datang dan melihat kecelakaan itu, ia ikut terkejut.
Sementara di kediaman rumah keluarga Willian, kakek Willy yang sedang mengambil cangkir di meja tiba-tiba tak sengaja menyenggol sebuah vas di sebelahnya hingga pecah.
" Aku hitung sampai 10 ya ! 1...2...3...4...5...6..." seorang anak laki- laki tengah bermain petak umpet sementara sahabatnya bersembunyi dibalik semak semak.
"8...9...10...aku buka ya?" Anak itu memberi aba-aba membuka matanya.
.....
"Ini namanya kotak musik, aku pegang kuncinya kamu pegang kotaknya, nanti kalau kita udah dewasa kita buka kotaknya sama-sama," kata Ray membuat sebuah janji sambil memberikan kotak musik itu padanya. Mika lalu membukanya.
"Wah ini bagus banget Ray!"ucapnya begitu bahagia dengan pemberian Ray. Sebuah kotak musik berwarna merah muda dengan hiasan penari balet di dalamnya, saat kotak itu diputar, terlihat penari balet itu juga ikut berputar mengikuti melodi. Mika terkekeh senang. Ray lalu mengalungkan kuncinya di leher Mika.
"Tapi aku mau kamu yang jaga semuanya, kotak ini dan kuncinya" katanya.
" Lalu kamu?"'tanyanya
"Aku akan pegang janji kamu, kamu janji ya kalau nanti kita udah dewasa kita buka kotaknya sama-sama" sambil Ray mengacungkan jari kelingkingnya dan disambut dengan jari kelingking Mika yang menyatu. Mereka tersenyum satu sama lain.
***
"Angel... Angel bertahanlah!"
Suara dorongan troly pasien dari koridor rumah sakit menuju ke ruang unit gawat darurat. Angel langsung mendapat penanganan secepat mungkin. Ray menggenggam erat tangan Angel sambil menangis.
Julian ikut syok dan menangis, ia menyalahkan dirinya sendiri atas kecelakaan Angel. Lara berusaha menenangkan Julian.
"Julian sudah!"
"Angel celaka karena aku Tan, dia nyelamatin aku!' Julian menangis.
Lara paham ia langsung memeluk Julian erat. "Sudah Julian, Angel akan baik-baik saja. Percaya!"
"Mama kecelakaan juga karena aku, dan sekarang Angel. Aaaaaaa!!!" Julian berteriak histeris.
Ray tak bisa berbuat apa-apa, ingin menyalahkan Julian pun percuma, ini demua murni kecelakaan. Ray hanya merutuki dirinya yang tak sigap untuk menyelamatkan Angel.
Angel sudah ditangani dokter di dalam ruang IGD. Kini mereka hanya bisa menunggu dari luar dengan sabar.
Stefanus dan Ardiandra yang mendengar kecelakaan Angel datang bersamaan setelah mengunjungi Malika. Ardiandra sangat syok mendengar Angel kecelakaan.
"Di mana anakku?" Ardiandra sangat terpukul.
Beruntung Angel segera mendapat penanganan dari dokter dan nyawanya bisa tertolong, ia mendapat luka yang cukup serius di kepalanya dan kini ia sudah dipindah ke ruang rawat pasien.
Ardiandra berjalan mendekati Angel yang terbaring tak sadarkan diri di ranjang dengan beberapa alat medis menempel di tubuhnya. Ia duduk dan menggenggam erat tangan Angel.
"Angel, jangan tinggalkan Ayah nak. Kamu satu-satunya harapan Ayah!"
"Bangun Nak, buka mata kamu Angel!"
Sementara Ray dan yang lain memilih menunggu di luar membiarkan Ardiandra menemui anaknya terlebih dulu.
Hari berganti hari, kondisi Angel masih sama dan belum sadarkan diri. Sementara Malika telah sadar dan kondisi berangsur membaik, mendengar pengakuan dan permintaan maaf dari Ardiandra terkait Angel anaknya yang telah meninggal membuat Malika syok. Namun ia tak bisa sepenuhnya menyalahkan Ardiandra dan juga Angel.
"Aku minta maaf Malika, aku minta maaf!"
Malika memang menangis saat itu, tapi ia mencoba untuk ikhlas dengan apa yang ia rasakan kini. Kehilangan anaknya membuat hatinya benar-benar terpukul.
Lara yang selalu disampingnya hanya bisa menenangkannya.
"Aku ingin menemui Angel, bawa aku menemuinya Ardi."
Ardiandra mengangguk, setelau kondisi pulih kembali, Ardiandra berjanji akan mempertemukan dengan Angel—anaknya.
Lara yang masih penasaran dengan Angel sekarang dan identitasnya kenapa menggunakan nama kakaknya Angel yang telah meninggal, walau Ardiandra sudah mengungkap kebenarannya. Ia masih penasaran siapakah Angel sekarang?
"Mah, aku lihat dari tadi mama melamun."
"Ray, kamu rupanya. Bagaimana kondisi Angel sekarang?"
Ray menggelengkan kepala, tanpa kondisi Angel masih sama dan tak ada perubahan. "Masih sama seperti kemarin."
"Mah? Kalau dia bukan Angel, lalu dia siapa?" Ray ternyata memikirkan itu.
"Itu yang mama pikirkan, siapa dia?"
"Tapi siapapun dia, aku tetap menyukainya. Aku nggak mau pisah dengannya."
Lara terkekeh. Sebegitu cintanya Ray pada gadis itu. "Kamu sudah melupakan gadis masa kecil kamu itu? Emm siapa namanya Mi—"
"Mika Mah," jawab Ray.
"Iya, Mika."
Ray terdiam. "Dia udah nggak ada, aku nggak bisa terus-terusan terpuruk dengan masa lalu tentang Mika. Lagipula kenangan Mika di masa lalu akan selalu kuingat, dan kotak musik itu..." Ray tersenyum. "Biarkan itu jadi kenangan."
"Kamu sudah lebih dewasa lebih dari yang mama perkirakan Ray. Mama bangga sama kamu sayang!"
"Dia yang sudah merubahnya."
Lara tersenyum. "Oh ya, di mana Julian. Kenapa mamah belum melihatnya dari tadi?"
"Nggak tahu, udahlah."
"Ray, kalian kan saudara, kamu juga harus peduli sama Julian. Saat mama nggak ada, Julian yang menggantikan posisi mama di sisi kamu. Saat ini Julian sedang sedih, kamu harus menghiburnya."
"Bagaimana aku menghiburnya, aku aja nggak tahu apa kesukaannya."
"Kamu nggak tahu kesukaan Julian? Kamu keterlaluan Ray."
"Jangan salahkan aku, Julian nggak pernah bilang apa yang dia sukai."
"Ini, ini keegoisan kamu yang mendarah daging dari papah kamu."
"Mamah!" Ray kesal.
"Cepat temui Julian sekarang!"
"Aku nggak tahu Julian di mana." Ray beralasan.
"Ray, temui Julian sekarang!" Pinta Lara dengan sedikit paksaan.
***
Sementara Julian kini berada di salah satu balkok atas sebuah gedung, ia tengah tiuran sambil menengadah kepalanya ke langit.
Langkah seseorang berjalan mendekat. Tampak seorang gadis dengan membawa sebuah bekal mendekatinya.
"Kamu disini rupanya, aku mencarimu!"
Julian masih di posisi yang sama dan tak menghiraukannya.
"Semua mengkhawatirkanmu my prince!"