Kamu disini rupanya, aku mencarimu!"
Julian masih di posisi yang sama dan tak menghiraukannya.
"Semua mengkhawatirkanmu my prince!"
....
Queen berjalan mendekat, kemudian duduk di sampingnya sambil membuka bekal yang dibawanya. "Kali ini aku buat sandwich spesial, ad isi telur, ada daging, terus ada sosis, kamu mau yang mana?"
Julian bangkit, "aku nggak lapar Queen,"ucapnya dengan nada datar.
"Tapi ini enak kok, aku udah belajar, mama juga bantuin aku masak. Aku tahu kamu seharian belum makan." Queen memasang wajah cemberut.
Melihat ekpresi yang ditunjukkan Queen membuat Julian tak tega. Lagipula ia memang belum mengisi perutnya hampir seharian. "Baiklah!" Julian mengambil satu sandwich dengan isi daging.
Queen yang melihat Julian akhirnya mau memakan masakannya ikut senang. Julian memakan dengan lahapnya.
Sebelum meninggalkan tempat itu, Queen bertanya pada Julian.
"Julian!"
Julian menoleh padanya, dengan sedikit malu-malu Queen akhirnya mengutarakan perasaanya. "Aku menyukaimu."
Julian menatapnya dengan nada datar tanpa ekrpesi, sudah hampir setiap hari Queen mengatakan itu. "Aku tahu!"
"Apa kamu punya waktu lusa depan?"
"Untuk apa?"
"Aku ingin mengajakmu jalan-jalan, kalau kamu—" Julian lebih dulu mendekat.
"Queen, sudah cukup. Jangan lakukan ini lagi."
"Maksud kamu?"
"Kamu akan sakit hati, jadi jangan lakukan ini lagi."
"Aku memang menyukaimu, aku sangat menyukaimu Julian!" Queen berteriak keras di hadapannya.
"Queen, kamu nggak tahu apa-apa soal cinta."
"Aku tahu."
"Kalau kamu tahu, berhentilah mulai sekarang. Aku nggak akan menyukaimu."
Deg!
Setelah mengucapkan itu, Julian langsung pergi dari tempat itu dan meninggalkan Queen yang menangis. Tanpa disadari seseorang dari balik tembok melihatnya. Sosok yang sejak tadi mengintipnya. Setelah Julian pergi, orang itu keluar dan mendekati Queen yang menangis di sana.
"Julian memang benar-benar kasar dalam memperlakukan cewek. Queen sudahlah!"
Queen tetap menangis, bahkan ia sampai histeris. "Briannn, aku sudah mengikuti ucapanmu, tapi kenapa Julian tetap menolakku."
Brian—laki-laki itu merasa bersalah. Ia pikir membantu Queen untuk mendekati Julian dan mengutarakan perasaannya akan membuat laki-laki itu luluh.
"Sudahlah Queen, lo tahu sendiri gimana sikap Julian selama ini. Sudah jangan menangis lagi!" Tiba-tiba Queen memeluk Brian dan menangis tersedu-sedu di pelukannya. Mau tak mau Brian membiarkan gadis itu menangis.
....
"Wah, ini sangat enak. Kamu yang membuatnya sendiri?" Brian mencicipi sandwich buatannya.
Queen mengangguk."Julian hanya makan satu doang, dia bahkan nggak komentar apa-apa soal rasanya,"kata Queen.
"Ini beneran enak, serius enak!" Kata Brian.
Queen yang mendengar pujiannya sangat senang. "Benarkah?"
Brian bahkan mengambil sandwichnya lagi dan melahapnya dengan rakus. "Hemm, ini sangat senang. Shilla aja nggak pernah membuat masakan seenak ini."
Queen tertawa.
"Brian, apa lo sangat menyukai Shila?" tanyanya tiba-tiba.
Mulut Brian yang penuh hanya bisa mengangguk.
"Apa yang lo suka dari Shila?"
"Semuanya."
"Shila beruntung banget ya?"
"Beruntung kenapa?"
"Ada seorang laki-laki yang sangat menyukainya, bahkan melakukan apapun untuknya."
"Emm, tentu. Apapun akan gue lakukan untuk Shila."
Tiba-tiba wajah Queen murung."kenapa Julian nggak bisa kaya lo?"
"Karena Julian bukan gue."
Queen terkekeh. "Lo lucu Brian."
"Queen, lo tahu nggak, Julian pasti menyesal sudah nolak lo. Yah, walaupun dulu lo itu menyebalkan setengah mati."
Queen yang kesal langsung menjitak kepala Brian dengan tangannya hingga membuat Brian meringis. "Sakit tahu."
Walau Queen barusaja ditolak secara sepihak oleh Julian tadi, namun kedatangan Brian cukup menghiburnya. Yah, laki-laki penuh tawa itu telah membuat senyumnya kembali.
Brian, kenapa bukan elo yang gue suka?" Batin Queen sambil tersenyum.
***
Sementara itu di kediaman keluarga Wiliam. Yudha datang membawa informasi.
"Tuan Willy!" Yudha menyerahkan data-data yang sudah dikumpulkannya selama ini.
Kakek Willy mengecek berkas-berkas yang dibawa Yudha. Ada dua foto anak kecil, salah satu diantaranya adalah anak kecil yang tak asing.
"Ini Mika! Ini cucuku Yudha."
"Benar Tuan, anak yang sama dalam foto itu." Yudha kemudian memberikan foto Angel. "Sepertinya perkiraan tuan tentang gadis bernama Angel itu benar, dia memang Mika, cucu Tuan yang selamat dari kecelakaan itu."
"Angel? Benarkah dia?"
"Dia Mika?"
"Nona Mika mengalami amnesia setelah kecelakaan itu, kemudian dia ditemukan oleh seorang laki-laki yang kemarin kita sandera bernama Ardiandra."
"Gadis yang bersama nona Mika tak lain adalah Angel yang sebenarnya. Dan nona Mika menggunakan namanya untuk bisa masuk ke keluarga Raveno."
Kakek Willy langsung bangkit dan mendobrak meja dengan kasar, "laki-laki itu sudah menipu kita Yudha. Dia berusaha menyembunyikan identitas cucuku."
Diam-diam Romi yang menguping dari belakang ikut syok. Memang benar kenyataan itu kalau Angel memang nona Mika yang asli.
"...dan ada dua orang pengkhianat di keluarga ini yang sengaja menyembunyikan kenyataan itu."
"Pengkhianat?"
"Romi!"
Suara dobrakan pintu mengejutkan kakek Willy saat Romi ditarik paksa oleh beberapa bodyguard masuk ke dalam.
"Lepaskan, lepaskan saya!"
"Dialah pengkhianat itu Tuan."
"Yudha, siapa yang kamu bilang pengkhianat?"
Yudha menatap sinis Romi. "Bukankah itu kamu? Dan adikku terlibat denganmu."
"Romi kamu!"
"Tuan, saya bukan pengkhianat, percayalah dengan saya!"
"Pembohong!" Yudha berusaha memperkeruh suasana. "Tuan, dialah pengkhianat itu."
"Romi, aku mempercayaimu sebagai pengawal pribadi cucuku, apa begini caramu membalas budi?"
"Mulai sekarang, KELUAR DARI RUMAH INI, DAN JANGAN PERNAH KEMBALI LAGI!"
"Tuan, Tuan Willy!"
Yudha menyuruh para bodyguard membawa Romi keluar dari rumah itu. Leon yang saat itu tak ada di rumah sedikit terselamatkan dari pengusiran itu. Romi diusir secara tidak terhormat dari keluarga itu.
"Yudha, aku ingin membawa cucuku kembali ke rumah ini lagi. Di mana dia sekarang?"
"Tuan, ada sedikit kabar buruk tentang nona Mika. Saat ini Nona ada di rumah sakit dan mengalami koma."
Deg!
***
Sementara itu di ruangan, Angel masih terbaring di sana. Angel berhasil melewati masa kritisnya namun kondisi belum memungkinkan untuk dijenguk banyak orang, jadi teman-temannya hanya bisa menunggu di luar.
Ray yang setia menunggu dan bahkan tak beranjak untuk keluar dari ruangan Angel.
"Angel, kumohon sadarlah!" Ray terus mengusap punggung tangan gadis itu dan bahkan menciumnya.
"Kumohon jangan tinggalkan aku Angel!"
"Angel!"
Teman-teman yang berada di luar tak bisa berbuat apa-apa. Termasuk Lara—ibu kandungnya, ia sudah membujuk Ray, namun rupanya tak mempan.
Dari balik tirai, Julian diam-diam melihatnya, ia yang menyebabkan Angel saat ini terbaring di sana.
"Maafin aku Angel!"
"Maafin aku!" Tubuh Julian merosot ke bawah, ia merasakan sesak di dadanya, beberapa kali ia memukul mukul kepalanya, menyesal.