"Apa itu pertanda Mah, kalau Angel bakal ninggalin Ray juga sama seperti Mika?"
Lara berusaha menenangkan anaknya. "Ray, mimpi itu hanya bunga tidur. Tidak akan terjadi apapun dengan Angel. Dia nggak akan meninggalkanmu sayang." Lara memeluk anaknya erat.
***
Hari berikutnya
Kondisi Malika perlahan membaik, ia pun sudah dipindahkan ke ruang rawat. Julian tampak begini senang melihat perkembangan mamanya yang semakin membaik. Bahkan sekarang mamanya sudah bisa tersenyum seperti sedia kala.
Hari itu, Julian menyuapi mamanya bubur. “Julian senang mamah bisa sehat kembali,” ucapnya.
Saat Julian sedang bersama mamanya, datang Queen mengetuk pintu dan masuk ke dalam.
“Selamat siang Tante!” kata Queen dengan membawa kantong kresek di tangannya.
“Queen?” Julian kaget melihat kedatangan Queen.
Tampak Queen malu-malu masuk ke dalam. Malika hanya mengulas senyum melihat kedatangan Queen.
“Queen, apa kabar kamu sayang?” tanya Malika.
“Baik Tante, oh ya saya bawakan buah-buahan segar buat Tante.”
“Tidak perlu repot-repot Queen.”Queen mengeluarkan isi dari kantong kresek yang dibawanya. Tak lupa ia mencari pisau untuk mengupas buah itu. Malika yang melihat Queen mengupas sendiri meminta Julian untuk membantu.
“Julian!”
Julian langsung tanggap dan berjalan menghampiri Queen. Awalnya Julian mengamati apa yang dilakukan Queen dengan buah itu, terlihat Queen tak pernah mengupas buah, kulit buah terceceran kemana-mana. Bahkan kupasannya bisa dibilang asal-asalan.
“Aw!” jarinya tak sengaja kena pisau buah, darah mengalir cukup deras.
“Aw, sakit!” Queen mengipas tangannya dan malah tetesan darahnya mengenai pipi Julian saat ia berbalik arah. “J-julian!” Julian mengusap noda darah yang mengotori pipinya.
“Biar aku yang mengupasnya!” kata Julian mengambil alih pisau dan buahnya. Berbeda dengan Queen yang acak-acakan saat memotong buah, Julian terlihat lebih terampil dalam memotong buah. Queen yang mengamati cukup takjub dibuatnya.
“Wow!”
“Eh, aku juga ingin mencobanya.” Queen kembali mengambil alih pisau yang dipegang Julian, tampaknya gadis itu tak mempedulikan luka goresan pisau yang dibuatnya tadi.
“Queen, lihat dulu tanganmu masih luka!” kata Julian
Spontan Queen yang melihat ada darah menetes di jemarinya langsung melepas pisau itu sembarangan. “Ada darah Julian, ada darah. Sakit!” Queen meperlihatkan sifat aslinya yang cengeng dan centil.
Julian langsung mengambil sesuatu dari laci—sebuah handsaplast, lalu menarik tangan Queen sambil menempelkan handsaplast itu di jemari telunjukknya yang terkena pisau. “Lain kali hati-hati!” ucapnya.
Queen yang merasa tersentuh dengan perlakuan Julian, tersenyum diam-diam. Malika yang sejak tadi memperhatikan mereka ikut tersenyum.
….
Ray kembali menemui Angel di rumah sakit, gadis berlesung pipi itu masih setia tidur tanpa ada pergerakan. Walau dama tidur, Ray dapat merasakan kehangatan dari tangannya. Beberapa kali Ray mengusap punggung tangan gadis itu dan menciumnya, berharap respon itu bisa diterima Angel dalam tidurnya.
Kedua temannya Max dan Brian yang melihat dari kejauhan hanya bisa berharap sahabatnya itu kembali pulih. Shila yang melihat ikut merasakan kesedihan, bagaimanapun Angel adalah sahabatnya.
“Apa yang harus kita lakukan?” tanya Max
“Apa yang bisa kita lakukan?” Brian malah balik bertanya. “Kalau Angel belum sadar, Ray akan seperti ini terus.”
“Oh ya, Julian. Di mana dia sekarang?”
“Di ruangan sebelah, mamanya sudah sadar, gue lihat dia bersama Queen,” jawab Brian.
“Queen?” Shila menunjukkan ekpresi terkejut. “Gadis manja itu?”
....
Di ruangan mamanya, Julian melihat dua perempuan di dekatnya sama-sama tertidur, mamanya terlelap untum beristirahat. Sementara Queen entah kenapa jadi ikut-ikutan tidur dengan posisi kepala tersandar di sofa sambil memeluk bantal kecil. Tak ingin membangunkan keduanya, Julian memilih keluar dari ruangan itu diam-diam.
Huaaa, Queen menguap lebar, saat ia tersadar sambil mengucek matanya, ia melihat Julian keluar dari ruangan itu.
"My prince mau ke mana?" Queen meletakkan bantal itu di tempatnya, ia lalu bangkit untuk sekedar mengikutinya.
Tak disangka, tanpa sepengetahuan Julian. Queen yang mengendap-endap dari belakang mengekorinya melihat Julian berjalan menuju ke ruangan Angel dirawat.
"Angel?"
Julian masuk ke dalam, sepertinya saat itu sedang sepi jadi dengan mudahnya Julian masuk begitu saja.
Benar saja, Angel sedang sendirian saat Julian masuk ke dalam. Wajah gadis itu masih tenang dalam tidurnya.
"Angel!"
"Gue...gue..."
Tap tap tap, suara langkah seseoranh mendekati tempat itu. Julian langsung waswas.
"Queen, lo ngapain di situ?" Kejut Ray yang baru saja keluar sebentar membeli minuman, ia melihat Queen mengintip di ruangan Angel.
"Ray?" Kejutnya membuatnya salah tingkah. "Elo dari mana?"
"Beli minuman, lo sendiri ngapain berdiri di ruangan Angel?"tanyanya lagi.
"Eumm.. aaa, gue-gue mau jenguk Angel. Iya!"
"Yaudah masuk aja!" Ray mendorong pintu ruangan itu dan masuk ke dalam, dan betapa terkejutnya lagi saat yang bersamaan Julian ada di dalam. Wajah Julian gelagapan.
"Julian" Ray kembali dikejutkan dengan Julian yang ada di dalam.
"Lo ngapain di sini?"
Julian benar-benar canggung. "Gue gue..."
Spontan Julian yang tak bisa meneruskan kalimatnya, langsung keluar dari ruangan itu. Ray semakin bertambah bingung dengan perginya Julian yang tiba-tiba.
"Julian!"
"Julian!"
Ray bergegas mengejarnya. Queen yang bingung harus bagaimana memilih tetap di sana menunggu Angel.
Ray terus mengejar Julian, bahkan saat laki-laki itu berusaha menjauh darinya.
"Julian!" panggil Julian lagi.
"Julian kenapa lo lari sih? Lo mau nemuin Angelkan?" tanyanya.
"Julian!"
"Julian!" Saking geramnya, Ray menarik bahu Julian untuk menghentikan langkahnya.
"Julian, kenapa lo menghindar dari gue?"
Julian bingung. "Gue...gue...."
"Lo mau jenguk Angel kan? Kenapa lo jadi takut gini?"
"Gue.. gue..." suara Julian seakan tertahan sesuatu. "Gue harus pergi!"
Bukan ini jawaban yang ingin didengar Ray, dengan geram Ray menahan Julian yang sepertinya akan menjauh.
"Kalau lo mau nemuin Angel, lo harus temui dia. Nggak perlu sembunyi-sembunyi," teriak Ray di hadapannya.
"Lo nggak bakal ngerti Ray, gue penyebab kecelakaan ini terjadi. Gara-gara Angel nyelamatin gue, dia jadi koma sekarang."
Ray tahu soal itu. Ingin marah—tentu saja. Tapi yang terpenting sekarang bukanlah egonya. "Gue tahu soal itu. Ini kecelakaan, lo nggak perlu merasa bersalah soal Angel."
"Kalau dia nggak ngejar gue, dia nggak mungkin kecelakaan Ray. Ini semua salah gue." Julian semakin menyalahkan diri sendiri.
"Julian!" Ray mendekatinya dan memegang bahunya. "Bukan karena kesalahan siapa kecelakaan itu terjadi, gue juga nggak mau kecelakaan ini terjadi, tapi..." Ray menggantungkan kalimatnya.
"Kesembuhan Angel lebih penting sekarang. Kalau lo datang buat jenguk Angel, lakukan itu! Gue nggak ada larangan buat lo deket sama Angel."
Julian takjub dengan ucapannya, tak seperti biasa Ray bersikap bijak dan lebih dewasa seperti sekarang.
"Gue yakin Angel pasti bakal seneng lo jenguk dia."