“Lakukan sekarang!” perintah Kakek Willy pada anak buahnya.
“Tuan yakin akan membawa nona kembali?” Yudha memastikan.
“Lakukan sesuai perintah Yudha!”ucapan telak kakek Willy yang langsung dimengerti Yudha, ia lantas memberi isyarat anak buahnya untuk melakukan pekerjaan sesuai perintah.
Namun, sebelum bertindak lebih jauh, Romi dan Leon datang menahannya.
“Tuan Willy!”
“Kakek Willy!”
Romi dan Leon datang bersamaan saat melihat Yudha sudah memerintahkan anak buahnya pergi ke rumah sakit dan membawa Angel.
“Apa yang akan kakak lakukan sama Angel?" Protes Leon menghalangi.
"Kamu jangan ikut campur Leon, ini sudah perintah."
Leon maju dengan lantang di depan kakek Willy. "Membawa Angel dengan cara paksa? Itu yang ingin kakek lakukan sekarang?"
"Leon, kamu tahu siapa gadis itu sekarang?' Yudha memperingatkan.
"Mika? Aku nggak peduli dia Mika ataupun Angel, yang jelas, aku nggak akan biarin kalian membawa Angel secara paksa dari rumah sakit itu."
"Tuan, tolong jangan seperti ini. Nona Angel belum sadar, dan membawanya ke rumah justru akan memperburuk keadaannya." Romi menambahkan. "Tuan tolong pertimbangkan kembali untuk membawa Angel dengan keadaannya yang sekarang."
Kakek Willy kembali berpikir.
"Membawa Nona secepatnya jauh lebih baik, kondisi Nona harus segera diselamatkan." Yudha tampak bersikukuh.
"Justru itu akan mengancam nyawanya Kak!" Leon geram dengan sikap angkuh kakaknya yang egois itu. "Apalagi keluarga Raveno, pasti mereka nggak akan mengijinkan."
"Mereka tidak punya hak untuk itu Leon."
"Lalu bagaimana dengan ayahnya, ayah Angel. Apa kakek akan memisahkan mereka lagi?"
"Leon benar Tuan, tolong pertimbangkan kembali tentang membawa Nona pulang, lagipula saat Nona nanti sadar, dia pasti akan sangat syok mengetahui ini bukan?"
Kakek Willy kembali berpikir, "10 tahun, hampir 10 tahun aku menunggu cucuku kembali. Cucu yang kuanggap sudah meninggal, dan aku percaya cucuku masih hidup. Mika ku masih hidup dan itu sebuah anugerah terbesar dalam hidupku."
"Dan kalian ingin memisahkan kami? Itu tidak akan kubiarka. Yudha, lakukan sekaranh!"
"Kakek!!!" Percuma saja Leon memohonpun, sikap Kakek Willy begitu angkuh soal keinginannya. Apalagi ini menyangkut tentang Mika—cucunya.
"Jangan menghalangi kami membawa Mika Leon!" Yudha mengancam.
Leon dan Romi tak bisa berbuat banyak , saat anak buah keluarga William yang sudah pergi menuju rumah sakit, kini Leon dihadapkan polemik yang besar. Bagaimana menyelamatkan Angel sekarang?
"Apa yang harus kita lakukan Romi?" Leon frustasi.
Arghhh, Leon memukulkan tangannya ke tembok. Seketika ia mendapat gambaran apa yang harus mereka lakukan untuk mencegah itu.
"Ray, Ray pasti bisa bantu gue!" Leon mengambil ponselnya dan mencari nama Ray di kontaknya.
"Halo!"
"Halo, ada apa?
"Ray, gue butuh bantuan lo."
"Bantuan apa?"
Leon menceritakan semuanya dari awal hingga akhir. Tentang siapa Angel, tentang kakek Willy, semuanya. Ray yang dari kejauhan mendengar dengan saksama hanya bisa melongo menerima sebuah kenyataan, yang bisa dibilang ini sebuah keajaiban tapi juga sebuah musibah.
"Lo nggak lagi bercanda kan Leon?" Ray memastikan.
"Ngapain di situasi kaya gini gue bercanda, gue serius," jawabnya. "Hanya lo yang bisa bantuin kita Ray."
"Tunggu Leon." Ray kembali mencerna setiap ucapan Leon tadi, soal Mika, soal Angel.
Sebuah kenyataan yang memang mengatakan kalau Angel adalah Mika, dialah Mikanya.
"Lo bilang Angel adalah Mika?"
"Dan lo bilang, kalau kakek Willy bakal bawa Angel kembali?"
"Iya Ray, kakek Willy akan membawa Angel kembali."
Ray setengah tak percaya. Namun dugaan yang selama ini ia ragukan menjadi kenyataan. Tentang siapa Angel, alasan kenapa Angel memiliki kalung yang sama dengan Mika memperkuat dugaan itu.
Tapi apa ini sebuah keberuntungan untuknya, bagaimana bisa takdir dengan begitu kejam mengatakan kalau Angel adalah Mika padahal dulunya Mika dinyatakan sudah meninggal.
Kecelakaan pesawat? Apa mustahil untuk seseorang bisa selamat?
Angel adalah Mika
"Ray, Ray lo bisa dengar nggak sih?" Leoj yang diseberang tampak begitu kesal.
"Oh, sorry-sorry. Gue hanya sedikit syok soal lo bilang Angel adalah Mika."
"Gue akan ceritain detailnya, tapi yang jelas sekarang, lo harus bantuin kita nyelamatin angel."
Ray mengangguk. Kali ini ia setuju dengan musuhnya itu. "Oke, demi Angel!"
"Jadi apa rencana lo?"
***
Ray mengajak teman-temannya untuk ikut membantunya, awalnya mereka syok mendengar kenyataan kalau Angel adalah Mika. Namun mereka percaya kalau itu ucapan dari Ray pasti ada benarnya.
Sementara Julian tampak bersikap netral mendengarnya. Ia tak berkomentar apa-apa.
"Julian lo ikut?" Tawar Ray
Julia maju ke depan. "Lo mau nyelamatin dia kan?
Ray tersenyum senang, teman-temannya pun mendukung. Sambil berkomunikasi dengan Leon dari jauh. Mereka menjalankan misi.
Misi pertama: mengalihkan perhatian.
Max dan Brian mengawasi di depan dan memonitor kalau Yudha dan anak buahnya datang, dan ketika Yudha dari kejauhan muncul dengan beberapa anak buahnya, Brian menyalurkan ke Queen yang saat ini bersama Julian.
"Oke Brian!"
Sementara Ray dan Shila menyamar menjadi petugas Nakes dengan mengenakan jas putih dan memakai masker
"Angel, maafin gue!"
Tak ada kecurigaan dari perawat lainnya. Ray mendorong ranjang pasien milik Angel dan membawanya keluar dari ruangan itu.
Misi kedua:
Memindahkan kamar Angel
Leon dan Romi datang di belakang sambil terus berkomunikasi melalui telepon oleh Ray.
"Gimana?"
"Gue udah bawa Angel ke ruangan lain."
"Oke, gue akan ke sana."
Leon melihat kakaknya Yudha beserta anak buahnya berjalan memasuki kamar. Diam-diam mereka bersembunyi di balik tembok mengamati.
"Apa Nona baik-baik saja?"
"Ray melakukan pekerjaan dengan benar, Kak Yudha nggak akan berhasil menemukan Angel."
"Lalu dimana nona sekarang?"
"Di tempat yang aman, lo tenang aja."
Yudha masuk ke dalam ruang rawat dan mendapati ruangan itu kosong.
"Bos, Nona nggak ada."
"Sial!" Yudha mengupat. "Pasti Leon di balik semua ini."
Ray tampak senang dengan rencananya dan membuat kakaknya kebingungan.
Leon saling bertos ria dengan Romi, baru kali ini melihat kakaknya dengan mudah dikelabuhi.
"Sekarang, ayo ke tempat Angel!"
Saat akan melangkah, dari belakang seseorang memukul Romi hingga pingsan, Leon sontak terkejut melihat beberapa anak buah Yudha dalang dari semua ini.
"Apa yang kalian lakukan? Romi!"
"Ini perintah Bos besar."
Tiba-tiba seseorang memukul tengkuk Leon hingga membuatnya pingsan juga. Ponsel miliknya kebetulan masih menyala dan terhubung dengan Ray dari seberang.
"Leon...Leon, lo di mana? Angel udah aman sama kita, sekarang dia di ruang rawat nomer 134."
Tut...tut...tut....
Ponsel pun tertutup