Tiba-tiba seseorang memukul tengkuk Leon hingga membuatnya pingsan juga. Ponsel miliknya kebetulan masih menyala dan terhubung dengan Ray dari seberang.
"Leon...Leon, lo di mana? Angel udah aman sama kita, sekarang dia di ruang rawat nomer 134."
Tut...tut...tut....
Ponsel pun tertutup.
***
Yudha memberi isyarat pada anak buahnya untuk kembali bertindak. Sementara itu, Ray dan yang lain yang merasa sudah aman terlihat baik-baik saja. Namun di luar dugaan, kesalahan memindahkan Angel berujung pada masalah yang lain, para dokter berdatangan saat mendapat informasi pasien dari kamar tempat Angel dirawat tiba-tiba menghilang, ditambah campur tangan dari Yudha dan anak buahnya.
“Ray gawat!” kedua temannya mendatanginya dengan raut muka tegang.
“Ada yang datang!” Queen yang mengawasi di depan mengetahui beberapa orang berjalan ke arah mereka.
Julian maju ke depan, “Biar gue yang urus!” Julian pun bergegas menghampiri para dokter itu seperti membicarakan sesuatu.
Sementara itu Ray dan Shila yang masih memakai atribut baju dokter kembali membawa Angel.
“Berhent di sana!” salah satu dokter merasa curiga dengan dua dokter yang asing di depan mereka.
“Dokter, apakah kondisi mama saya sudah membaik?” Julian mengalihkan pembicaraan.
“Nyonya Malika sudah bisa pulang hari ini, kondisinya sudah stabil …”
“Bisa saya berbicara berdua dengan dokter terkait mama saya?”
“Julian, kamu juga sudah tahu kondisi terkait nyonya Malika, selain itu saya harus mencari pasien bernama Angel yang menghilang.”
“Dia baik-baik saja sekarang!” ceplos Julian.
“Baik-baik saja?” dokter merasa curiga.
Julian mencoba mengalihkan pandangan dokter dan suster saat Ray dan Shila membawa Angel pergi. Queen datang membantu megalihkan pandangan mereka. Namun percuma, dokter yang merasa ada yang tak beres merasa curiga, apalagi ketika melihat seseorang yang asing yang mengenakan atribut jas dokter.
“Tunggu!”
Ray dan Shila berhenti. Keduanya tampak ketakutan. Dokter melewati Julian dan Queen dan langsung mengarah pada pasien yang dibawa oleh dua dokter tersebut. “Selamat siang, bisa tolong tunjukkan identitas kalian?”
“BERHENTI DI SANA!” Yudha berteriak dari kejauhan
Dokter itupun kebingungan apa yang terjadi.
“Mereka bukan dokter!” tuduh Yudha.
“Ada apa ini, siapa kalian?” dokter kebingungan
Ray tak bisa berbuat apa-apa, rencananya gagal.
“Ray, mau kamu kemanakan gadis itu!”
Ray diujung tanduk, ia pun menghalangi anak buah Yudha yang lebih dari tiga it untuk mengambil Angel darinya, dibantu kedua temannya yang juga ikut menghalangi mereka.
“Saya nggak akan biarin Angel dibawa oleh kalian!”
“Kamu harus menyerahkannya kepada kami Ray!”
“ENGGAK AKAN, Angel akan tetap dengan saya!” Ray bersikukuh.
Yudha memberi isyarat pada anak buahnya untuk mengambil alih.namun langsung dihadang oleh kedua teman Ray, Brian dan Max, tapi dengan mudah anak buah Yudha melumpuhkan mereka. Dokter itupun juga rupanya membantu Yudha. Ray berhasil ditangkap oleh salah satu anak buah Yudha dengan memelintir tangan ke belakang.
“Arghh, lepasin!”
“Kalian melakukan kesalahan besar dengan membawa pasien pergi.”
“Jangan bawa Angel!” Ray berontak
Yudha meminta para dokter membawa Angel kembali ke ruangannya. Teriakan Ray tak dihiraukannya. Teman-temannya yang lain tak bisa berbuat banyak saat melihat Angel telah dibawa Yudha dan anak buahnya pergi entah kemana.
Yudha rupanya tak membawa Angel ke ruangannya, melainkan pergi dari rumah sakit itu, memasukkan Angel ke mobil dan membawanya pergi. Sementara itu, Ray dan yang lain hanya bisa termenung. Rencana yang mereka lakukan gagal, Angel sudah dibawa pergi dan Ray tak bisa berbuat apa-apa.
“Arghhh!” Ray menonjokkan tangannya ke tembok cukup keras hingga menimbulkan suara yang membuat teman-temannya kaget.
Tak berlangsung lama, Romi dan Leon datang. Melihat teman-temannya dengan wajah murung apalagi saat melihat Ray yang begitu kesal. “Ray!”
Ray menoleh saat melihat Leon datang, tanpa basa-basi, ia langsung menghampiri Leon dan mendorongnya ke tembok.”Ini semua salah elo, Angel dibawa sama Yudha.”
Leon meringis kesakitan saat cengkraman tangan Ray yang semakin mencekik lehernya. “Ray dengerin gue dulu, gue bisa jelasin!”
Max dan Brian datang menarik Ray yang emosional. “Ray udah!”
Leon terbatuk, “Gue…gue dijebak sama kakak gue.”
“Lo pasti bersekongkol sama kakak lo kan buat bawa Angel?” Ray berteriak.
“Lo salah Ray, gue nggak pernah setuju kakak gue bawa Angel pergi.”
Ray tak percaya,”Alah alasan lo ajakan. Sekarang Angel pergi, gue pikir lo di pihak kita Leon!”
“Gue emang di pihak kalian, gue minta kalian buat bawa Angel pergi dari kakak gue. Arghhh sial!” Leon mengupat penuh emosi.
“Kalian tenang saja.” Romi mencoba bersikap positif. “Yudha nggak akan gegabah, dan kakek Willy nggak akan berbuat macam-macam dengan Angel karena dia adalah cucunya, tapi…”
“Saya tidak tahu apa yang kakek Willy rencanakan nanti kepada Nona Angel.” Yudha menambahkan.
“Lalu apa rencana kita selanjutnya? Apa kita cuma diam aja tanpa berbuat sesuatu?” Shila menyahut.
Leon kembali berpikir, “Gue ada ide, gue bisa bawa lo ke tempat Angel kalau lo mau."