Kakek Willy dengan ditemani suster yang mendorong kursi rodanya masuk ke kamar, Yudha telah menunggu ditemani Dokter yang nantinya akan merawat Angel.
"Selamat datang Tuan!"
Wiliam memandang sosok perempuan yang saat ini tertidur di ranjang. Terlihat rapuh dengan alat medis yang terpasang di tubuhnya.
"Tinggalkan aku sendiri dengan cucuku Yudha."
"Baik Tuan!" Yudha dan orang-orang yang ada di dalam segera keluar dari kamar itu, meninggalkan kakek Willy dan suster yang masih tetap di sana.
Suster itu kembali mendorong kursi rodanya dan perlahan mendekati Angel.
"Mika!"
"Maafkan kakek baru menemukanmu, padahal kamu selalu dekat selama ini."
Kakek Willy mengingat pertama kali ia bertemu dengan gadis ceria bernama Angel ini, sosoknya yang selalu tersenyum mampu membuatnya kembali menaruh harapan hidup. Tak disangka takdir yang justru membawanya kembali gadis ini.
Cucunya yang menghilang 10 tahun telah kembali, ia kini telah pulang ke rumah bersamanya.
"Kakek tidak akan membiarkanmu pergi lagi."
Di rumah Raveno.
Ray dan yang lain berkumpul membicarakan strategi yang akan membawanya bertemu dengan Mika lagi, mereka tahu keluarga Wiliam tidak akan dengan mudahnya menerima tamu asing, apalagi penjagaan di rumahnya cukup ketat dengan dikawal beberapa pengawal yang ada di setiap tempat.
Leon dan Romi mungkin tahu jalan masuk ke sana, tapi tidak dengan mudahnya mereka bisa masuk ke rumah utama, apalagi kalau sampai berhadapan dengan Yudha.
Disaat kebingungannya, Leon mendapat telepon dari kakaknya Yudha.
"Halo!"
"Kamu di mana Leon?"
Leon diam-diam sedikit menghindar saat ia menelpon, tak ada yang menaruh curiga sedikitpun darinya.
"Pulanglah bersama Romi."
"Dimana kakak bawa Angel sekarang?"
"Kamu ingin bertemu dengan gadis itu?"
"Kak membawa Angel dengan kondisinya yang masih belum stabil, apa kak Yudha gila, hah?"
"Aku hanya menjalankan perintah Leon. Kamu jangan khawatir, Angel berada di tempat yang aman sekarang."
Romi yang sejak tadi kelihat gerak-gerik Leon yang mencurigakan, diam-diam mengikuti saat Leon pergi untuk mengangkat telepon dari seseorang.
"Pulanglah dan kamu akan bisa bertemu dengannya."
Tut tut tut, telepon tertutup, Yudha memutus sambungan secara sepihak. Leon mengupat kesal.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang Ray!" Julian bertanya.
Ray yang masih terdiam dengan tatapan kosongnya tak bisa berbuat apa-apa, ia kembali berpikir bagaimana dirinya bertemu dengan Angel lagi.
"Ray!" Muncul Lara mengejutkan semuanya yang tampak begitu kalut.
"Mamaaa!"
"Mama dengar Angel dibawa pergi oleh keluarga Wiliam, bagaimana bisa ini terjadi. Kenapa keluarga Wiliam membawanya Ray?"
Semua diam tak bersuara, sampai Romi datang memberitahu semuanya, tentang siapa Angel dan hubungannya dengan keluarga Wiliam. Lara tentu syok mendengarnya dan yang pasti ia lebih khawatir dengan keadaan Ray nantinya.
"Ray!"
Ray tiba-tiba menghilang dari ruangan itu tanpa diketahui yang lain, rupanya Ray kini berada di belakang rumah tepatnya di lapangan basket.
Ia kembali teringat saat malam itu, Angel memghampirinya, sikap Ray begitu angkuh dan seakan menutup hati pada orang lain.
Diambil bola basket miliknya, dengan sedikit perasaan kesal, Ray melempar bola itu hingga masuk ke ring.
Suara teriakan Ray yang marah terdengar sampai ke telinga mamanya. Lara dan yang lain mendengarnya juga, dan ketika Lara melihat Ray menangis, trenyuh hatinya melihat anaknya begitu terpuruk kehilangan orang yang ia cintai lagi untuk kedua kalinya.
Teriakan Ray seakan terhubung dengan Angel yang saat ini masih tak sadarkan diri. Namun perlahan tangannya mulai bergerak dan terlihat ada air mata dari sisi kiri yang menggambarkan kesedihan.
***
Hari berikutnya
Leon telah kembali ke rumah keluarga Wiliam, saat ini ia berhadapan dengan kakek Willy yang ingin bicara empat mata dengannya.
"Kakek mencariku?"
"Leon, apa kamu masih berhubungan dengan mereka?"
Leon langsung tahu maksud 'mereka' itu tak lain adalah Ray dan teman-temannya.
"Putuskan hubungan dengan mereka, mulai sekarang aku memintamu untuk melindungi cucuku, Mika."
"Aku mempercayakanmu Leon!"
Ucapan itu menjadi telak kalau kakek Willy yang berkuasa di rumah ini yang meminta, tak mudah untuk menolak setiap ucapannya. Melindungi Mika? Lalu bagaimana nanti dengan Ray.
Angel masih belum sadar saat Leon masuk ke ruangannya. Gadis itu masih terlelap dengan begitu tenang. Leon—mungkin bisa melihat Angel seperti sekarang, keluar masuk dari rumah William, tapi ketika ia ingin melibatkan yang lain termasuk Ray, ini sangat beresiko. Mungkin, ia harus cari cara mempertemukan Ray dan Angel.
Kriet, salah satu suster dan dokter pribadi yang ditugaskan untuk melihat perkembangan Angel masuk ke dalam. Dokter itu berniat akan memeriksa kesehatan Angel. Leon mempersilahkan sebentar Dokter dan Suster itu menangani Angel.
Dokter?
Suster?
Leon tiba-tiba memiliki ide brilian. Selagi Angel diperiksa, Leon keluar dari ruangan itu untuk menelpon Ray.
"Ray, gue ada cara biar lo ke sini!"
Tut...tut...tut, telepon tertutup. Leon kesal.
"Eh Ray, dengerin gue dulu, Ah sial!" umpatnya
"Telepon dari siapa Ray?" tanya Julian saat mereka berkumpul bersama teman-temannya yang lain.
"Leon."
"Kok lo nggak angkat?"
"Buat apaan?"
Brian menyahut, "mungkin aja Leon mau ngabarin sesuatu soal Angel, bisa aja pentingkan?"
"Udahlah, gue males berurusan sama dia lagi. Biar gue sendiri yang cari cara buat ketemu Angel, gimana pun caranya.