"Hei Angel, eh salah, harusnya gue panggil lo Mika. Sampai kapan lo tidur, hah?" Leon menggerutu di samping ranjang tempat Angel tertidur.
Sudah hampir hari berlalu dan Angel masih di kondisi yang sama.
"Lo tahu? Pacar lo Ray udah nggak percaya lagi sama gue, padahal gue mau bantuin dia buat ketemu sama lo."
"Angel atau Mika? Gue lebih suka manggil lo Angel, karena saat gue panggil lo Mika, yang ada di pikiran gue lo itu nyebelin. Lo ingat pas kita masih kecil terus gue ngeledekin lo, lo semenyebalkan itu hahaha..." Leon berusaha terus mengobrol
"Ray beruntung banget Ngel, bisa dapatin lo padahal gue yang lebih dulu kenal sama lo."
"Kalau lo bangun nanti, gue akan ceritain semua sama lo. Oh ya, lo pasti lupa sama guekan?"
"Ini tempat kami, cepat pergi" usirnya.
Mika yang melihatnya dari balik semak akhirnya keluar dengan wajah kesalnya menghampiri ketiga orang yang sudah mengganggunya dengan Ray.
"Hans hentikan! " geram Mika seraya menyilangkan kedua tanganya kedada.
"Ini tempat kami, kami duluan yang ada disini," protes Mika tak mau kalah. Ia lalu mendekati Ray untuk membantunya berdiri.
"Tapi taman ini dibuat oleh Papaku, dia Gubernur di kota ini" kata Hans menyombongkan diri
"Oh ya, kalau papa kamu Gubernur dia pasti jahat , tidak memperbolehkan kami menggunakan tempat ini," tegas Mika dengan keberaniannya.
"Apa kamu bilang??" Hans terlihat kesal.
Leon tersenyum mengingat kejadian itu, dengan polosnya ia mengusir Angel dan Ray saat bermain di taman saat mereka kecil. Dan yang paling lucu lagi. Sejak kejadian itu Leon sangat suka menggoda Mika, melakukan apa saja untuk sekedar membuat gadis kecil itu marah bahkan saat boneka kesayangan Mika jatuh ke danau karena ulahnya.
Tanpa disadari kehadiran Mika mampu membuatnya semangat, sosok gadis yang selalu ceria dan tak pernah bersedih. Hanya saja, saat Leon ingin sekali untuk mendekat, Ray—laki-laki itu selalu ada di sampingnya.
Leon iri, tentu saja, karena itulah Leon sangat membenci kehadiran Ray. Puncaknya yang paling membekas di hidupnya saat kabar Mika akan pindah di sekolah.
"Hei Angel!" Panggilnya lagi
"Kapan lo mukul gue kaya dulu lagi? Kapan gue ngerjain lo lagi. Cepat sadar biar gue bisa kena pukulan lo, gue rela kok asal lo sadar Ngel."
Perlahan tangan Angel merespon mendengarnya, Leon yang awalnya tak menyadari tiba-tiba merasakan ada tangan yang menyentuh jemari tangannya. Spontan Leon langsung senang.
"Angel, Angel!"
Leon tampak begitu bahagia, namun rupanya itu hanya gerak refleks saja. Leon kembali murung dengan wajah ditekuk.
Sementara itu, Ray dengan nekatnya pergi ke rumah keluarga Wiliam seorang diri. Dengan berani Ray masuk walau para penjaga berjaga di depan.
"Ada perlu apa Anda ke sini?"
"Saya ingin bertemu dengan Angel."
"Maaf kalau tidak ada yang berkepentingan silakan Anda keluar dari rumah ini."
Ray tampak sedikit berontak. Ia memaksa ingin masuk ke dalam bagaimanapun caranya.
"Biarin saya menemui Angel. ANGEL...ANGEL, INI AKU RAY!"
Para penjaga langsung memerintahkan anak buahnya untuk menangani Ray, dan pasti Ray akan berontak.
"ANGEL ANGEL INI AKU RAY. AKU MAU KETEMU SAMA KAMU!"
"ANGEL...ANGEL..."
Leon yang tak sengaja mendengar suara keributan dari arah depan langsung mengenali itu suara Ray—dan benar saja, Ray nekat datang ke rumah ini seorang diri.
"Cepat pergi dari tempat ini!"
"ANGEL, ini aku Ray. Aku mau nemuin kamu Ngel. Angel!"
"Tidak ada yang bernama Angel di sini. Cepat Anda pergi atau kami terpaksa mengusir Anda dari rumah ini!"
Ray bersikukuh. "Saya nggak akan pergi sebelum ketemu sama Angel. Biarin saya bertemu dengan Angel."
Leon datang di tengah keributan yang terjadi. "Ini teman saya, biar saya yang urus!"
Para pengawal langsung turun tangan saat Leon datang dan membiarkan mereka.
"Lo gila ya!" ucap Leon.
"Biarin gue ketemu sama Angel, Leon. Plis!"
Leon mendecih kesal, "bukan gini caranya! Lo bisa kena masalah kalau datang ke sini seorang diri Ray."
"Gue cuma mau ketemu sama Angel, Leon. Gue mau ketemu sama dia."
Leon paham. Beruntung saat ini di rumah tidak ada kakaknya ataupun kakek William.
"Ikut gue!"
Ray menurut dan mengikuti Leon masuk ke rumah itu diam-diam. Beruntung tidak ada kecurigaan pada pengawal-pengawal tadi pada mereka berdua.
Rumah keluarga Wiliam begitu besar dan luas, ada banyak kamar dan pelayan yang lalu lalang lewat dan beberap diantara bersih-bersih. Kedatangan Ray tak cukup dicurigai pelayan yang lain, mereka pikir laki-laki yang bersama Leon adalah temannya.
Namun saat akan menemui kamar Angel, di sana telah dijaga dua orang pelayan yang selama 24 jam menjaga kamar itu. Hanya orang tertentu yang bisa masuk termasuk Leon.
"Di sana, Angel ada di dalam!"
Ray yang begitu senang bergegas menuju ke sana sampai Leon menahannya. "Lo nggak lihat, ada dua pengawal di sana. Mereka pasti akan menangkap lo."
"Terus gue harus gimana?"
Leon kembali berpikir. "Gimana caranya biar lo bisa masuk ke sana tanpa dicurigai."
Leon melihat ada salah satu dokter dari kejauhan, ia pun memiliki ide. "Gue ada ide, ikut gue!"
Ray menurut. Leon menghampiri dokter yamg tengah berjalan dan tiba-tiba ia memukul dari belakang, hal itu diketahui secara langsung oleh Ray.
"Leon ngapain lo mukul dokter ini?"
"Nggak usah banyak nanya, cepet bantuin gue!" Leon menyeret tubuh dokter yang pingsan itu masuk ke ruangan lain. Di sana Ray diminta untuk berganti pakaian dengan dokter itu. Tak lupa kacamata yang menjadi ciri khas dari dokter itu.
Ray dan Leon keluar bersamaan dengan menjalankan rencana mereka untuk bisa masuk ke kamar Angel. Keduanya berjalan menuju kamar Angel.
"Biarin kami masuk!"
Dua pengawal yang berjaga awalnya merasa asing dengan sosok asing di sampingnya.
"Cepet buka, ini sudah jamnya Nona Mika checkup oleh dokter."
Kedua pengawal itu mengangguk percaya dan membiarkan mereka berdua masuk ke dalam. Namun saat Ray masuk, salah satu pengawal justru mencurigainya.
"Tunggu!"
Glek, apa Ray ketahuan. Ia sangat waswas.
Rupanya benar, pengawal itu mencurigai Ray. Namun saat ia ingin menanyai dokter lebih lanjut, Romi meneriaki. "Beni, bisa ke sini sebentar!"
Pengawal bernama Beni itu langsung melupakan kecurigaan saat dipanggil oleh Romi—atasannya.
Romi menyimpulkan senyum pada Leon. Rupanya dari awal Romi memergoki mereka berdua masuk ke rumah itu.
Selanjutnya, Leon dan Ray masuk ke dalam. Keduanya bernafas lega akhirnya bisa masuk ke kamar itu.
Pandangan Ray langsung tertuju pada gadis yang tertidur di ranjangnya. Ada banyak alat medis yang menempel di tubuhnya.
"Ange!" Ray menatap haru.
"Angel!" Ray berjalan mendekat.
Ray melepas kacamatanya dan duduk di sebelah, Leon tetap berdiri dari kejauahan membiarkan Ray menemuinya.
"Angel!" Ray duduk di samping tubuh Angel dan memegang jemari tangannya.
"Angel ini aku Ray. Aku udah datang, aku nggak bakal ninggalin kamu lagi. Aku mohon buka mata kamu sayang."
"Angel, aku mohon bangunlah!"
Suara mesin EKG merespon, genggaman tangan Ray rupanya mampu membuat pergerakan di tangan Angel. Sedikit demi sedikit jemari Angel bergerak.
"Angel?" Ray tersenyum melihat pergerakan tangan Angel.
"Angel, Angel ini aku Ray!"
Leon yang melihat pergerakan Angel ikut senang.
"Angel, ini aku Ray!"
Perlahan mata Angel mulai merespon dan membuka matanya sedikit demi sedikit.
"Angel!"
"Angel!"
Angel tersadar sepenuhnya. Wajah sumringah terlihat dari diri Ray maupun Leon melihat Angel akhirnya tersadar.
"Angel!"
Angel mengernyit keheranan melihat dua orang laki-laki di sampingnya.
"Kalian siapa?"
Deg!