Perlahan mata Angel mulai merespon dan membuka matanya sedikit demi sedikit.
"Angel!"
"Angel!"
Angel tersadar sepenuhnya. Wajah sumringah terlihat dari diri Ray maupun Leon melihat Angel akhirnya tersadar.
"Angel!"
Angel mengernyit keheranan melihat dua orang laki-laki di sampingnya.
"Kalian siapa?"
Deg!
***
"Ini aku Ray!"
Angel menatap Ray bingung. "Ray?"
"Ngel, lo nggak inget kita? Gue... gue Leon, lo juga nggak ingat gue?"
Angel menggelengkan kepala. Tiba-tiba terdengar suara dobrakan dari pintu luar. Kakek Willy datang.
"Kakek!" Angel tersenyum melihat kakeknya muncul.
"Mika?"
Kakek Willy tampak begitu senang melihat Angel akhirnya bisa sadar kembali.
"Mika, kamu ingat kakek sayang?"
"Tentu saja, kenapa aku harus melupakan kakek."
"Kamu ingat siapa nama kamu?"
"Aku Mika Kek, kenapa kakek nanya gitu?"
Leon dan Ray saling berpandangan bingung.
"Kakek mereka siapa, apa mereka temanku?" Angel yang kini sudah mengingat tentang masalalunya justru sekarang mengenal dirinya sebagai Mika bukan Angel.
"Apa yang kalian berdua lakukan di sini? Leon, kenapa kamu membawa Ray ke rumah ini?"
Ray, Mika memanggil namanya. Ia seperti samar-samar mengenal nama itu. Ia merasakan ada bayangan yang tiba-tiba muncul di kepalanya terkait nama itu. Namun semakin Mika mengingat masa lalunya, semakin pula ia merasakan sakit di kepalanya.
"Arghhh!"
"Mika!"
"Angel!" Ray juga ikut khawatir dan tak sengaja justru memanggil nama Angel padanya.
"Angel?" Mika menatap laki-laki itu dengan sedikit asing.
"Apa kamu yang bernama Ray?"tanyanya
Ray mengangguk.
"Kenapa kamu memanggilku Angel?"
"Karena nama kamu Ang—"
"Leon, cepat suruh anak itu keluar dari rumah ini, kedatanganya justru membuat Mika menderita. Pengawal!" seru Kakek memerintahkan pengawal yang berada di luar untuk menyeret Ray keluar dari tempat ini.
"Lepas, lepasin!"
Baik Ray maupun Leon sama-sama dicekal oleh para pengawal itu, Ray dibawa untuk keluar dari tempat itu, walau dia memberontak.
Leom juga ikut memberontak, "kenapa kalian juga memegangku, lepaskan!"
Rupanya Leon juga disuruh untuk keluar dari ruangan itu. Meninggalkan kakek Willy dan Mika dan beberapa dokter di sana.
Pemeriksaan dilakukan lagi, kali ini, Mika mendapat penanganan dan beberapa cek di kepalanya terkait ingatannya.
"Nona Mika mengalami amnesia Anterograde, dimana penderita hanya dapat mengingat peristiwa yang sudah berlalu yang artinya Nona Mika hanya bisa mengingat kejadian dan peristiwa sebelum dia mengalami amnesia. Mika pernah mengalami amnesia dan melupakan dirinya sebagai Mika. Ini disebabkan karena adanya peradangan pada jaringan otaknya."
"Jadi Mika hanya bisa mengingat masa lalu sebelum kecelakaan itu? Apakah ini berbahaya untuk cucuku Dok?"
"Mengingat kondisinya yang belum stabil, Nona Mika diharapkan tidak terlalu keras mengingat masa lalunya, karena jelas akan mempengaruhi kesehatannya."
***
Di luar, Ray masih tak percaya dengan apa yang baru dialaminya. Kenapa Angel tak mengingatnya? Bahkan saat ia mengatakan kalau dirinya Mika. Bukankah mereka sudah mengenal sejak masih kecil. Lantas kenapa Mika tak mengenalnya.
Leon juga tak kalah syok, gadis itu juga tak mengingatnya.
"Ray, gue lagi nggak mimpikan? Angel nggak kenal sama kita?" Leon masih tak percaya.
"Nggak mungkin. Angel nggak mungkin nggak kenal sama gue."
"Lo lihat sendiri kan tadi. Bahkan gue juga nggak dikenali. Seharusnya dia ingat kita kalau dia bilang dia adalah Mika. Kita pernah satu kelas dulu."
Ray menautkan alis menatap Leon tajam. "Pernah satu kelas? Maksud lo?" Ray tak mengerti.
Penyamaran Leon terbongkar terkait siapa dirinya dulu.
"Lo bilang apa tadi Leon. Satu kelas? Sejak kapan kita pernah satu kelas?"
Leon berusaha mengelak namun percuma, bagaimanapun menutupi identitas aslinya dulu, semua bakal terkuat.
"Gue...gue..."
"Ya, kita pernah satu kelas dulu. Gue, Elo Mika."
"Kok gue nggak ingat, yang gue tahu kita kenal waktu SMP."
"Oke..oke, gue jujur. Gue orang yang dulu pernah ngusir lo. Gue yang bilang lo nggak boleh main di taman bermain waktu itu, dan Mika datang ngelindungi lo."
Ray kembali mengingatnya. Kini ia paham siapa Leon sebenarnya.
"Hans? Itu Elo?"
Leon mengangguk. "Iya, gue Hans."
Ray setengah tak percaya dengan ucapannya. "Kenapa nama lo jadi Leon?"
"Lo lupa nama panjang gue siapa?"
"Leonidas Hans Aprilion. L hans Aprilion, itu nama gue dulu."