"Lo lupa nama panjang gue siapa?"
"Leonidas Hans Aprilion. L hans Aprilion, itu nama gue dulu."
**
"Hans?" Mika mengulang nama itu di depan Leon saat ini. Laki-laki itu mendekati Mika secara intens.
"Baru kali ini lo manggil gue Hans." Leon tersenyum senang.
Mika mengernyit, "memangnya selama ini gue manggil lo siapa?"
Leon menyentuh puncak kepala Mika sambil melempar senyum tipis. "Gue seneng lo panggil gue Hans."
Leon berjalan mundur dan duduk di kursi berdekatan dengan Mika yang masih di ranjangnya. Leom memposisikan senyaman mungkin duduk sambil memandang ke arah Mika.
"Oh ya, ngomong-ngomong mmm, cowok yang sama lo tadi ke mana?"
"Ray?" ucapnya Leon
"Oh namanya Ray." Mika seakan mengenal nama itu sekilas. "Apa dia udah pulang?"
Leon mengangguk, ia sedikit ingin mengetes ingatan Mika soal Ray. "Lo beneran lupa sama dia?"
"Hah?" Mika ragu, saat ia ingin mengingat nama itu lagi, kepalanya terasa sakit.
"Kepala gue sakit. Hans, sebenarnya apa yang terjadi. Apa yang terjadi sama gue, dan kenapa gue bisa ada di rumah sakit?" Pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan Mika padanya.
"Lo mengalami kecelakaan, dan kata dokter ingatan lo hilang sebelum kecelakaan itu."
"Kecelakaan?"
...
"Angel mengalami amnesia?" Teman-temannya kaget tak percaya saat Ray memberitahu kabar itu.
"Jadi artinya dia nggak kenal sama lo?" Brian menambahkan.
"Yang namanya amnesia berarti dia nggak ingat Brian." Max menyahut.
Julian yang tak sengaja menguping obrolan mereka dari balik dinding sangat merasa bersalah. Karenanya, Angel kecelakaan, karena keegoisannya Angel menjadi korban.
"Angel pasti akan sembuh Ray, kamu harus percaya sama dia. Angel nggak akan meninggalkan kamu." Lara mencoba menenangkan anaknya.
"Gue harus ketemu sama Angel, dia nggak boleh lupain kita gitu aja." Shila beranjak bangkit dari tempat duduknya dan bergegas pergi untuk menemui Angel di rumahnya, namun hal itu dicegah Brian.
"Shila, kita nggak bisa ketemu sama Angel sekarang!" Tahannya.
"Tapi gue mau ketemu sama Angel. Dia harus tahu kalau kita ini temen-temennya, dia nggak boleh lupain kita."
"Kondisi Angel belum pulih sepenuhnya."
"Shila benar, gue nggak mau Angel kenapa-napa lagi. Gue udah cukup senang kok Angel sudah sadar dan gue ketemu sama dia, itu udah cukup." Ray menyela, terlihat ia tegar namun ia berpura-pura untuk kuat sekarang.
"Dan satu lagi, ingatan dia sebagai Mika kembali."
"Mika?" Teman-temannya kaget.
"Mika? Bukannya Mika itu sahabat masa kecil lo, jadi itu artinya??" Brian mencoba menerka. "Mika itu Angel?"
Ray mengangguk. "Iya, dia Mika. Mika masih hidup."
Hari demi hari berlalu, kondisi Mika semakin hari semakin membaik. Ia juga sudah mulai bisa berjalan dan berkeliling di rumahnya. Untuk sementara Leon mendapat tugas untuk menemani Mika setiap saat.
"Hans, apa gue boleh keluar?"
"Kakek belum ngizinin keluar!"
"Hans, gue bosan di rumah sebesar ini, gue pengen jalan-jalan ke luar. Hans plis!"
"Mika, gue bisa dimarahin kakek kalau ngajak lo keluar."
Mika terus membujuknya. "Hans, gue udah sembuh, lo lihat. Gue baik-baik aja. Mungkin dengan gue keluar, gue bisa mengingat sesuatu."
"Bahaya Mika!"
"Hans, plis!" Angel manyun di depannya.
Leon yang merasa jengkel sendiri mau tak mau menuruti keinginanan Mika yang sedikit manja. Beda dengan karakter Angel.
"Sikap lo nyebelin kaya dulu!"
"Iya Hans, iya iya!"
Hans pun pasrah." Iya iya, gue akan nemenin lo, tapi dengan satu syarat!"
"Apa syaratnya?"
"Jangan bilang sama kakek."
"Siap bos!"
Leon tertawa kecil melihat keluguan Mika yang jarang ia temui. Justru sifatnya benar-benar seperti Mika yang ia kenal 10 tahun yang lalu, yang menyebalkan dan kadang membuatnya kesal.
Leon membawa Mik naik ke mobil sport miliknya dan keluar dari rumah. Mika begitu senang bisa menghirup udara bebas sekarang, bahkania begitu bahagia melihat jalanann yang tampak asing.
"Hans, apa ada tempat yang bagus yang bisa kita datangi?"
"Ada, kamu mau ke mana?"
Angel berpikir, "ayunan!"
Leon tersentak, bagaimanapun juga walau Mika mengalami hilang ingatan, tetapi ia masih ingat tempat yang menjadi favoritnya itu. Sebuah ayunan.
"Baiklah, kita ke taman!"
Tak disangka, saat Angel sampai ke taman, ia begitu senang. Apalagi saat melihat banyak orang berlalu lalang di tempat itu. Saat Angel mengedarkan pandangan di sekeliling, bayanga Angel perlahan mulai pudar seperti pernah ke tempat ini sebelumnya.
Flash
Mika melihat bayangan diri sendiri yang didorong oleh seseorang saat bermain ayunan.
Mika melihat ayunan yang sama persis di ingatannya. "Leon!"
Leon hanya mengamati Mika sambil terus mengikuti Mika kemana pun dia berjalan.
"Hans, dorong!" Pintanya, dan Leon menuruti permintaannya.
Mika begitu senang saat naik ayunan itu. Namun dorongan yang diberikan Leon sangat berbeda dengan bayangannya, artinya bukan Leon yang mendorongnýa waktu itu.
"Berhenti Hans!" Leon menurut dan menghentikan dorongan dari ayunan itu. Mika berdiri.
Mika merasakan ada sesuatu yang hilang di hidupnya, bisa dikatakan Mika merasa hampa dengan hidupnya sekarang.
"Mika!"
Mika berjalan sambil berusaha mengingat sesuatu. Namun sia-sia, dan ketik Mika tak sengaja melihat ada segerombolan anak muda yang tengah berkerumun di sana membuat Mika merasa kejadian itu pernah dialaminya dulu.
Sementara itu di sebuah kafe, terlihat Brian, Max, dan Ray berkumpul tanpa Julian. Ray bilang Julian sedang ada urusan penting jadi dia tak bisa ikut berkumpul. Akhir-akhir ini pun sikap Julian seperti menjauh entah apa sebabnya. Ditambah sekarang Ray yang selalu semangat menjadi lebih tertutup tak seperti biasanya.
"Ray, halo!" Brian mencoba menggodanya, namun gagal. Laki-laki itu justru bangkit dan pergi meninggalkan tempat itu.
"Ray, lo mau ke mana?" Teriak Brian.
Ray tak menyahut, ia keluar melalui pintu depan, dan bersamaan saat ia akan menarik knop pintu itu, tak disangka Leon dan Mika datang. Mika berhadapan dengan Ray secara lebih dekat. Namun yang dilakukan Mika hanya senyum tipis seakan tak mengenalnya. Leon yang di belakangnya ikut terkejut bertemu dengannya.
"Ray!"
Mika menatap keduanya secara bergantian dengan wajah bingung. "Leon? Lo kenal dia?"
"Angel!" Panggil Ray kemudian.
Diikuti kedua teman Ray yang ikut terkejut melihat Angel bersama Leon. Mereka saling berpandangan secara bergantian.
Mika menatap Ray bingung. "Angel?"
Tak disangka Ray akan bertemu dengan Angel di situasi seperti ini bahkan sekarang kondisinya Angel sama sekali tak mengenalnya.
Dan ketika Mika akan melangkan, sebuah cengkraman tangan dari belakang mengejutkan Mika, ia menoleh ke belakang. Rupanya Ray lah yang menahan tangannya.
"Jangan pergi, aku mohon!"