"Hans, cowok tadi namanya siapa?" Angel bertanya di sela-sela mereka pulang naik mobil.
"Kenapa?"
"Kalau nggak salah, tadi kamu bilang Julian?" Ucapnya.
"Iya, emang kenapa?"
Angel diam-diam tersenyum. Leon yang melihatnya tampak risih. "Lo kenapa sih?"
"Eh Hans, dia ganteng ya?"
Leon tepuk jidat. Bisa-bisanya Angel bilang seperti itu tiba-tiba. "Astagahh Mika. Gue kirain ada apa."
"Tapi benerankan dia ganteng?"
"Iya ganteng, tapi lebih gantengan gue."
Angel mencibir. "Dih pede!"
Angel diam-diam kembali memanggil nama Julian dalam hati. "Julian?"
Leon diam-diam memperhatikan Angel yang tersipu malu, bahkan senyum-senyum sendiri. Apa Angel menyukai Julian sekarang?
"Lo suka sama Julian?" Spontan Leon bertanya.
Angel langsung mengelak. "Enggak, gue nggak suka—"
Leon tertawa, sangat jelas kebohongan di mata Angel saat ini. Leon tak bisa dibohongi. "Bilang aja lo suka sama Julian. Iyakan?"
"Memangnya kenapa kalau gue suka sama dia? Nggak boleh?" tanya ketus.
"Nggak boleh." Leon menatapnya serius.
"Kenapa?"
"Karena—" Leon menggantungkan kalimatnya. Ia tahu Angel hanya suka sesaat, dan karena juymga sebenarnya orang yang disukai bukan Julian.
"Kenapa gue nggak boleh suka sama Julian? Apa dia udah punya pacar?"
"Menurut lo?" Leon sinis.
Angel bungkam. Tadi saat bertemu dengan Julian, laki-laki bersama seorang perempuan. Apa mungkin itu pacarnya?
Malam harinya. Di rumah kediaman keluarha Stefanus diadakan makan malam. Semua anggota keluarga datang untuk makan di tempat yang sama. Oma Ria juga datang mempersiapkan semua.
Untuk pertama kalinya, Lara, Malika, dan Stefanus berada di meja makan bersama anak-anak mereka. Rasa canggung mungkin terlihat di diri Lara, tapi ia begitu bahagia melihat kebahagiaan ini termasuk Malika dan Stefan.
"Mama, saya ambilkan ikannya ya!" Lara mencoba ramah pada mertuanya itu dengan mengambilkan piring dan lauk pauk.
Oma tampak memperlihatkan wajah datarnya. "Tidak perlu!"
Lara pun duduk di mejanya, menatap sekelilingnya. Stefan hanya menyunggingkan senyum tipis sambil mengisyaratkan 'baik-baik saja'
"Kapan kamu keluar dari rumah ini?" Tiba-tiba ucapan sarkas terdengar di telinga oma.
Lara dan yang lain kaget.
"Mah, apa yang mama katakan" Stefan mulai buka suara.
"Siapa lagi, perempuan ini. Kapan keluar dari rumah ini?"
Ray yang langsung tahu siapa wanita yang ditunjuk omanya, mencoba menahan amarahnya.
Suasana yang harusnya harmonis di depan meja makan seketika menjadi canggung satu sama lain.
"Gadis itu juga sudah pergi rupanya. Rumah ini kembali seperti semula!" Rupanya oma juga tak terlalu menyukai kehadiran Angel saat di rumah ini.
"Mah!" Malika membela. "Sudahlah, kita sedang makan, nggak baik berdebat saat sedang makan. Lebih baik kita menikmati makan malam ini." Malika mencoba mencairkan suasana.
"Oma, Julian ambilin ikan kesukaan oma ya!"
Saat berhadapan dengan cucunya Julian. Wajah Oma jadi luluh. "Tentu Julian, kamu yang paling mengerti oma!"
Ray masih diam bahkan tak menyentuk makanannya. Ketidakadilan apa yang ia lihat sekarang. Oma jelas sangat membedakan mamanya dengan Julian.
"Hemm, ikannya sangat enak. Siapa yang memasaknya?" Oma bertanya, "pasti kamu ya Malika?"
Malika mengelak, "bukan Mah, tapi Lara!"
Oma yang mendengar nama 'Lara' disebut menjadi enggan untuk makan masakannya.
"Semua ini Lara yang memasaknya lho Mah!" Stefan menambahkan.
"Masakan sampah apa ini, sangat buruk!" Ucapan tiba-tiba keluar dari mulut oma yang pedas mengomentari masakan Lara, padahal jelas tadi wanita tua itu memujinya.
"Maaf Mah!" Lara menunduk.
Ray yang sejak tadi diam, mulai tak tahan dengan sikap sewenang-wenang oma pada mamanya. Tiba-tiba ia berdiri dan mendobrak meja.
"Kalau oma nggak suka, nggak usah makan. Mamah udah masak sebanyak ini untuk Oma!" Teriak Ray membuat semua menatapnya.
"Ray, di mana sopan santun kamu."
"Apa itu perlu?"
"Keluarga Raveno menjunjung tinggi sopan santun dan tata krama, bukan pemberontam sepertimu!"
Ray tertawa keras. "Sayangnya aku bukan bagian dari keluarga ini!"
"Ray!" Stefan bangkit, situasi semakin memanas.
"Mah, sudahlah. Kita sedang makan!"
"Ajari anak ini sopan santun dan tata krama Stefan agar tidak mempermalukan kelurga Raveno lagi. "
"Mah, Ray sudahlah! Jarang-jarang kita bisa makan bersama seperti ini. Aku mohon Mah!"
Percuma, ucàpan Stefanus tak digubrisnya.
"Ray, cepat duduk!" Perintah mamanya. Ray pun luluh dan duduk kembali.
Suasana makan kembali tanpa ada suara, hanya terdenfar garpu dan sendok. Benar-benar canggunģ sekarang. Julian yang melihat apa yang dialami keluarganya merasa sedih.
....
Setelah makan malam, Ray kembali ke kamarnya. Sebelum laki-laki itu masuk ke kamarnya, Julian mendatanginya.
"Ray!"
"Iya!"
"Jangan dimasukin hati ucapan oma tadi. Lo tahu sendirikan gimana sikap oma?"
Ray hanya tersenyum tipis. "Kenapa lo khawatir. Udah seringkan oma bersikap kaya gitu sama gue?"
"Gue akan coba bicara sama oma."
"Buat apa?" Ray bertanya. "Udahlah, lo nggak perlu khawatir sama gue."
Julian tahu, dibalik sikap 'baik-baik saja' Ray menyimpan sesuatu yang mengatakan lain seperti "gue sedang nggak baik'
"Tadi siang, gue ketemu sama Angel." Belum sempat Ray masuk kamarnya, ia membali berhenti dengan masih membelakangi Julian.
"Lo bener. Angel nggak ingat apapun. Bahkan dia nggak ingat gue."
Ray tak menggubris ucapannya. Ia langsung masuk ke kamarnya dan menutupnya pelan.
....
Ray berjalan dan langsung merebahkan diri di kasur, menatap langit-langit kamar yang didominasi warna hitam dan putih.
"Angel, aku rindu sama kamu!"
Ray menutup matanya sambil membayangkan senyum Angel yang selalu melekat di pikirannya.
Ia kembali teringat saat Angel salah masuk kamarnya dulu dan memecahkan kotak musik, bagaimana ekpresi Angel yang ketakuta waktu itu. Ray begitu marah dan mengusir gadis itu keluar dari kamarnya. Namun kejadian tak terduga justru membuatnya berciuman dengan Angel.
Ray kembali tersenyum. Bahkan ketika malam itu Angel masuk ke kamarnya, Ray mengalami mimpi buruk dan ketika ia melihat Angel masuk ke kamarnya. Ia sadar waktu Angel sudah keluar dari kamarnya karena malu.
"Sedang apa kamu sekarang?"
"Sekarang, aku harus panggil kamu siapa?"
"Mika atau Angel?"
"Mika!" Ucapan Ray seperti sebuah perantara tak terlihat yang dikirim pada Angel malam itu.
Saat Angel akan tidur, ia seperti ingat sesuatu.
"Ada yang manggil gue?"
Angel tak bisa tidur, ia beberapa kali bergulingan memposisikan dirinya senyaman mungkin. Namun tetap saja, matanya tak mau terpejam.
"Ahh, gue nggak bisa tidur!"