"Kakek boleh ya, bolehkan aku masuk sekolah lagi!" Mika merajuk saat mereka sedang sarapan pagi.
Leon yang saat ini diam di meja makan hanya bisa memandang Mika dengan perasaan datar.
"Mika, kondisi kamu masih belum pulih sayang!"
"Kakek, aku baik-baik saja. Aku mohon, biarkan aku sekolah lagi." Mika terus memohon.
Tetap saja, kakek Willy masih alot pendiriannya. Mika harus berusaha mencari cara untuk meluluhkan kakeknya itu dan ketika ia menoleh pada Leon, secara tak langsung ia memiliki ide.
"Ada Hans. Dia akan menjagaku di sekolah. Jadi boleh ya aku sekolah lagi?" Pintanya dan kali ini wajahnya tampak melas.
Leon yang tak tahu menahu harus ikut terlibat dari rencana Mika.
"Iyakan Hans?" Mika menghampiri Hans sambil mengedipkan matanya.
"I-iya Kek, aku akan menjaga Mika. Jadi kakek jangan khawatir."
"Tuhkan. Boleh ya Kek?"
Melihat keinginan cucunya, kakek Willy pun luluh. "Baiklah, kamu bisa kembali sekolah, tapi dengan satu syarat!"
"Syarat?"
"Akan ada orang yang mengawal kamu selama di sekolah."
"Kakek, aku udah besar, nggak perlu ada pengawal segala."
"Ini demi kebaikan kamu Mika."
"Hans ada. Dia akan menjagaku."
"Tidak Mika. Kamu akan tetap dikawal oleh orang suruhan kakek selama di sekolah."
Mika cemberut, tapi bagaimanapun juga ia ingin kembali ke sekolah dan bertemu dengan teman-temannya.
***
Sementara itu, kondisi sekarang di sekolah Galaxy. Shila yang biasanya sangat semangat latihan kini kembali murung. Ia merindukan Angel dan mereka berlatih band bersama.
"Shila sayang!" Brian datang membawa siomay kesukaannya dan duduk di sampingnya.
"Apa itu?"
"Makanan kesukaan kamu, aku ini pacar yang baik."
Shila muak, "najis. Sejak kapan gue jadi pacar lo?"
"Sejak—" Brian berpikir. "Sejak sekarang dan selamanya." Brian tersenyum puas.
"Briaaan!!!"
"Iya sayang?"
"Ih, lo tahu situasi nggak sih sama band kita?"
"Tahu, kita belum latihan. Bagaimana kalau kita latihan sekarang?"
Shila yang semakin kesal dengan kelolaan Brian langsung memukul kepalanya dengan tangannya hingga membuat Brian kesakitan.
"Aw, sakit...sakit Shila."
"Lo nggak lihat. Kita kehilangan vocalist utama."
"Kalau gitu kita cari vocalist baru aja."
Satu pukulan kembali diterima Brian dan kali ini lebih keras. "Seenaknya lo bilang cari vocalist itu gampang apa?"
"Sakit Shila. Jangan dipukuli terus napa. Disayang dong!"
"Ogah!"
Dave yang sejak tadi duduk dan melihat kedua temannya berantem hanya bisa geleng-geleng kepala. Ia memilih pergi dari ruang studio.
....
Tap
Tap
Tap
Saat Dave berhenti di papan mading untum melihat pengumuman, seketika pandangannya tertuju pada sebuah foto 2 bulan yang lalu, saat acara sekolah band mereka manggung dan acaranya cukup meriah.
Kemudian datang seorang gadis yang memakai seragam sekolah yang sama berhenti tak jauh dari tempat Dave kini berdiri.
"Dave!"
Dave menoleh, seorang gadis menyapanya. Senyum lebarnya membuatnya melongo tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Kaget sekaligus haru.
"Gisele?"
....
Di lapangan basket, Queen terus memberi semangat untuk Julian saat berlatih basket. Sebagai ketua tim, Queen memiliki porsi lebih di timnya.
"Huaa, my prince!"
Baik Julian ataupun Ray yang saat ini berlatih basket, mereka terlihat tampan dengan balutan kaos jersey dan celana pendek. Banyak sorakan juga terlihat di bangku penonton yang mendukung Julian maupun Ray. Melihat aksi penggemar Julian, Queen berdecak. Ia langsung berjalan masuk ke lapangan dengan membawa air mineral.
Beruntung saat ini para anggota sedang beristirahat. Kedatangan Queen menghampiri Julian membuat suara sorakan dari arah penggemar menjadi redup. Beberapa diantaranya terlihat iri melihat Julian dan Queen. Sementara Queen hanya tersenyum penuh kemenangan.
Hubungan Queen dan Julian perlahan membaik, apalagi sejak Queen sering mendatangi mama Julian di rumah sakit, perlahan juga sikap ketus Julian menjadi luluh pada gadis itu. berbeda dengan Ray yang semakin hari bersikap cuek, ia seing menghabiskan waktu sendiri dan terkadang bersama Brian dan Max. beberapa anak gadis mencoba mendekatinya, namun tak digubrisnya. Semua tertolak begitu saja.
Ssmentara itu, gadis yang tadi mendatangi Dave kini berjalan masuk ke lapangan basket. Ia mengamati sekitar tempat itu yang tak berubah, ia melihat ada banyak anak basket di sana. Pandangan Brian langsung tertuju padanya, soosk gadis yang tak asing baginya.
“Gisele?” lirihnya.
Max merespon, “Siapa?”
Rupanya gadis bernama Gisele mengenal anak-anak basket termasuk Julian dan Ray. Saat ia berjalan mendekat Ray untuk menyapa, terlebih dahulu Brian mendekat.
“Gisele!”
Ray menoleh diikuti anak lain yang langsung menyadari.
Gisele menyungging senyum, “Halo apa kabar Brian!”
“Kok lo ada di sekolah ini?” tanyanya
“Kenapa, sekolah ini kan sekolah gue juga!”
Queen mendekat, ia memang tak terlalu mengenal Gisele, tapi ia tahu kalau dulu Gisele adalah mantan vokalis di grup Brian dan Shila. Beberapa tahun yang lalu Gisele memutuskan pindah sekolah ke luar negeri. Namun sekarang gadis itu kembali lagi ke Indonesia dan kembali lagi ke sekolah ini?
“Hai Ray!” sapa Gisele
Ray tak merespon dan memilih pergi, ia tak begitu peduli Gisele muncul atau tidak, tapi berbeda dengan Brian yang mungkin sedikit syok dengan kedatangannya lagi.
“Wah, kayaknya ada banyak perubahan di sekolah ini ya. Udah hampir 1 tahun gue ninggalin sekolah ini.”
Brian maju ke depan, “ Kenapa lo balik lagi?”
“Kenapa Brian, gue ke sini karena gue kangen sama kalian semua. Oh ya, gimana kabar Shila?”
“Ikut gue!” Brian menarik Gisele menjauh dari lapangan basketm mereka keluar dari gedung. Saat Brian menarik tangan Gisele, hal itu dilihat langsung banyak orang di tempat itu.
“My Prince, cewek tadi itu…”
“Salah satu vokalis band d Venue, sebelum Angel masuk menggantikannya.”
“Cewek tadi bisa nyanyi juga rupanya.”
“Brian pasti kesal dia balik lagi ke sini.”
“Lho kenapa?”
“Ada kejadian sebelum Gisele pindah dari sekolah ini. grup band mereka pernah mengalami kekacauan gara-gara Gisele.”
Queen mengumpat, “Aish, pasti cewek itu menyebalkan.”
…
Gisele yang merasa ditarik paksa oleh Brian dengan kasar melepaskan cengkraman tangannya. “Brian sakit!”
Brian terpaksa melepas cengkraman gadis itu, “Kenapa lo balik lagi?”
“Udah gue jawab tadi, gue kangen sama kalian semua.”
“Kangen?” Brian tak percaya
“Kenapa sih lo kaya kesel banget sama gue, kenapa? Nggak ada yang bisa gantiin gue ya di grup?” Gisele tertawa kecil. “Gue emang nggak tergantikan Brian!”
Brian mendecak kesal, “Sayangnya lo salah, grup band kita udah bangkit bahkan tanpa lo!”
“What??? Siapa yang bisa gantiin posisi gue jadi vocalis?”
“Yan pasti dia lebih baik dari lo.”
Gisele tak percaya, “Itu nggak mungkin Brian, d Venue tanpa gue nggak mungkin jalan.”
“Sayangnya lo salah besar Gisele.” Gisele kalah telak.
….
Semenatar itu, Shila mencari keberadaan Brian, ia sudah mencari di kelas, lapangan basket, namun laki-laki itu tak ada. Kata Max Brian pergi ke belakang sekolah. Shila pun mencarinya di sana.
“Gue pastiin, orang yang gantiin gue nggak lebih baik dari gue.” Gisele penuh percaya diri.
“Kenapa lo begitu yakin? Bukannya elo yang udah hancurin grup kita. Jadi apa apa rencana lo balik lagi ke sini?” Brian menatap sinis.
“ Gue balik karena sesuatu hal yang harus gue selesain.”
“Brian lo disini ternyata, gue cariin dari tadi!” Shila tampak ngos-ngosan sejak tadi berlarian mencari cowok itu.
Gisele tersenyum, ia berbalik ke belakang. “Oh hai Shila, apa kabar? Lama tak jumpa!”
tbc