"Gue balik karena sesuatu hal yang harus gue selesain.”
“Brian lo disini ternyata, gue cariin dari tadi!” Shila tampak ngos-ngosan sejak tadi berlarian mencari cowok itu.
Gisele tersenyum, ia berbalik ke belakang. “Oh hai Shila, apa kabar? Lama tak jumpa!”
***
Shila terpaku di tempat, ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Gisele? Kembali?
"Gisele?"
Gisele berjalan mendekati Shila dan langsung memeluknya. "I miss you!"
Shila risih dan langsung mendorong Shila menjauh." Lo ngapain ada di sini?"
"Gue kembali, gue kangen sama kalian semua."
"Kangen?" Shila tertawa. "Lo bilang kangen setelah lo ninggalin kita semua."
"Shila. Kok lo gitu sih. Kita inikan teman?"
"Teman? Buang kata teman di hidup lo. Gue bukan temen lo lagi." Shila yang kesal memilih pergi dari tempat itu.
"Shila!" Panggil Brian mengejarnya.
Gisele berdecak kesal.
***
Hari berikutnya, sesuai permintaan Angel pada kakeknya untuk mengijinkan sekolah lagi. Hari ini untuk pertama kalinya Angel menginjakkan kaki di sekolah. Diikuti Leon di belakangnya. Mereka memakai seragam yang sama di sekolah itu—SMA Galaxy.
Angel tampak berseri-seri melihat pemandangan sekolah yang membuatnya takjub. "Wow, sekolah ini keren."
Leon mendengus, ia sudah beberapa kali datang ke sekolah ini, jadi bukan pemadangan baru untuknya.
"Hans. Cepetan, lo tuh lelet banget jalannya."
Max dan Brian yang berjalan dari kejauhan tak sengaja melihat Angel bersama Leon di sana.
"Max, itu Angel sama Leon kan?"
Keduanya saling berpandangan. Brian langsung mengingat Ray, ia harus tahu soal ini. Brian langsung berlari menemui Ray di kelasnya.
"Brian!" Teriak Max ikut mengejarnya dari belakang.
Rupanya, saat ini Ray sedang berlatih basket di lapangan, kedatanga Brian dan Max mengejutkannya.
"Ray... Ray!"
Ray menoleh, "kalian kenapa?"
Brian tampak ngos-ngosan, "itu...ada Ang-angel di luar!"
"Angel?" Kejut Ray yang langsung melepas bola basketnya.
Tanpa pikir panjang, Ray langsung berlari keluar lapangan dengan tergesa-gesa. Hampir ia menabrak siapapun di depannya. Ray langsung menuju ke gedung depan—dan benar saja, Angel ada di sana.
"Angel!" Ray menyunggingkan senyuman, namun saat ia akan menghampirinya, langkahnya terhenti ketika melihat ada Leon di sampingnya.
"Leon!" Ray meredup. Ia tak suka pemadangan yang barusan dilihatnya. Kenapa harus Leon yang selalu bersamanya.
Kedatangan Angel cukup menyita perhatian, bahkan awal kedatangannya, Angel langsung bisa berbaur dengan teman-temannya. Langsung saja Angel akrab dengan mereka.
Brian dan Max rupanya ikut mengejar Ray. "Itu Angel!" Tunjuk Brian.
Max langsung memberi isyarat untuk Brian diam, karena sekarang yang dilihat Ray adalah Angel dan Leon.
Angel mengedarkan pandangan, dan langsung tertuju pada sosok yang pernah ditemuiny dulu. Langsung saja, Angel melambaikan tangan padanya—dan itu tepat ia melambaikan tangan di depan Ray dengan senyuman. Angel mendekat.
Awalnya Ray begitu senang, ia mengira kalau lambaikan tangan itu untuknya, rupanya salah, saat Angel mendekatinya, ia malah berbelok ke sebelah Ray yang tak lain adalah Julian.
"Halo!" Angel menyapa Julian dengan ramah.
Brian dan Max bingung, termasuk Ray.
"Ternyata lo sekolah di sini juga, kita bisa jadi teman sekolah."
Julian hanya menyinggung senyum tipis, dan malah menoleh pada Ray yang sepertinya tak menyukainya.
Dengan geram, Ray pergi dari tempat itu.
"Ray!" Panggil Julian mengejar Ray yang menjauh.
Angel sendiri bingung kenapa Julian malah pergi saat ia menghampirinya. Ia justru menoleh pada dua teman Ray—Brian dan Max.
"Kenapa?" tanya Angel bingung.
Brian dan Max tak menjawab dan segera menyusul Ray dan Julian. Angel semakin bingung dengan mereka.
"Mereka kenapa sih?" Gerutu Angel kesal.
Leon tahu apa yang terjadi, tapi ia enggan untuk ikut campur. "Nggak usah dipikirin. Ayo gue tunjukkin kelasnya!"
Angel menurut dan langsung mengabaikan kejadian tadi.
Angel berada di kelas yang sama dengan Leon, dan kebetulan juga satu kelas dengan Ray dan Julian. Baru pertama kali masuk, Angel sudah mendapat pandangan mengerikan dari Ray—laki-laki yang duduk di pojokan. Angel terus terganggu olehnya.
"Eh, cowok yang di sana, kenapa ngelihatin gue terus ya?" Angel risih.
"Oh Ray, bukannya kalian akrab?" Balas teman sebangkunya.
Angel bingung, akrab, dengan laki-laki itu? Itu tidak mungkin, tapi saat ia kembali menoleh Ray masih terus melihatnya. Dan ketika ia menoleh ke arah lain, justru pandangan Julian yang begitu tenang sedanf menulis catatan di papan tulis.
Angel diam-diam terpesona. Ray tahu pandangan Angel mengarah ke siapa.
....
Suara sorakan menggema di lapangan basket saat anggota basket saling bertanding. Tapi kali ini posisinya Ray dan Brian berada di satu tim. Sementara Julian dan Max berada di satu tim yang sama. Pertandingan kali ini cukup seru, walau itu hanya sebuah permainan.
Ray unggul dari Julian dengan skor: 10‐7 poin. Siapa yang bisa mengalahkan Ray kalau soal basket. Brian cukup puas dengan hasilnya. Angel masuk ke lapangan untuk melihat pertandingan itu dari arah penonton. Suara sorakan semangat dari Angel terlihat langsung oleh Ray yang tak sengaja menoleh. Diam-diam ia ikut senang Angel melihatnya.
Ray semakin bersemangat untuk menang. Namun ketika ada suara teriakan Julian yang dilontarkan Angel, semangat Ray pudar.
Julian? Kenapa harus Julian yang disebut namanya?
Queen yang juga berada di sana ikut menyemangati Julian, dan ketika ada orang lain meneriaki namanya yang tak lain ada Angel, Queen datang menghampirinya—tak terima.
"Tadi lo sebut siapa?"
Angel menatap bingung pada Queen. "J-julian!" Dengan polosnya ia menjawab.
"What??" Queen seperti tak percaya.
"Eh, lo tahu siapa Julian?"
Angel mengedikkan kedua bahu. "Enggak!"
"My prince is mine, you know?" teriak kesal Queen di depan Angel.
"My prince?" Angel menaikan sebelah alis.
"Iya, Julian itu my prince GUE, PAHAM!"
Angel tertawa, "Apa? Pacar lo?"
"Harusnya lo itu dukung Ray bukan Julian."
Mendengar nama Ray, Angel menatap gadis itu lagi, dan kini lebih dekat. "Ray?"
"Iyq, Ray."
"Kenapa harus Ray?"
Queen mendengus, ia harus sabar menghadapi Angel yang saat ini tak ingat masalalunya.
"Angel dengerin gue, yang harus lo dukung itu Ray, bukan Julian. Jangan pikir lo bisa rebut Julian dari gue."
Angel makin tak paham." Tunggu...tunggu..., kenapa gue harus dukung Ray? Memangnya dia siapa?"
"Dan tadi... lo manggil gue apa? Angel?? Nama gue Mi—" belum sempat meneruskan kalimatnya, Leon datang.
"Mika!"
Queen mendengus mengetahui kedatangan Leon yang mengganggunya.
"Bilangi sama Angel, jangan godain Julian Leon!"
Angel membantah, "gue nggak godain Julian, emang gue nggak boleh kalau suka sama Julian?"
Queen kaget, "lo suka sama Julian? Heh, Angel, gue tadi udah bilang kan. Julian itu milik gue."
Angel tak peduli, ia tetap menyukai Julian bahkan saat ada perempuan lain mendekatinya.