Leon menarik Angel menjauh dari keramain tadi dengan sedikit paksa.
"Hans apaan sih, gue belum selesai ngomong sama tuh cewek. m**m narik-narik aja tangan gue." Angel kesal.
Leon melepas cengkraman tangan Angel. "Mika, hari ini hari pertama lo di sekolah ini, da lo mau cari gara-gara."
Angel mengelak."Hans, bukan gue yang cari gara-gara, tapi tuh cewek belagu. Siapa sih namanya?" Angel kesal.
Leon merasa sikap Angel yang sekarang sangat berbeda dengan Ange yang dulu, bahkan sekarang Angel bersikap kasar pada orang lain dan tak mau mengalah.
"Mika, udah. Kalau lo kaya gini terus, gue akan bilangin sama kakek," ancaman Leon mampu membuat Angel tunduk.
"Gue itu ditugasin buat jagain lo, jadi lo nurut sama gue, ngerti!"
"Iya."
"Jangan buat masalah di sekolah ini."
"Iya, bawel banget sih lo kaya pacar gue aja." Angel kesal dan memilih pergi.
"Mika!"
Angel kesal, ia memilih menghindar dari Leon. Saat melewati tangga yang mengarah ke balkon atap sekolah, Angel penasaran untuk naik ke sana.
Beruntung saat itu sedang sepi, Angel keluar yang mengarah ke atap gedung sekolah yang luas. Ia mengamati di sekitar, tak ada siapa-siapa kecuali-.
Angel melihat Ray berdiri di sana, lebih tepatnya berdiri di tepian seakan akan bunuh diri. Angel yang langsung berpikiran kalau orang itu akan bunuh diri langsung berlari menahannya.
"Hei, jangan lompat. Itu bahaya!"
Ray itu menoleh.
"Kalau lo ada masalah, bisa dibicarain baik-baik."
Ray malah tertawa. "Siapa yang lompat?"
"Terus ngapain lo berdiri kaya orang mau bunu diri?"
Ray semakin mendekat. "Gue cuma mau buang sesuatu, dan lo ngalangin itu."
"Gue nggak lihat lo bawa sesuatu."
Ray mengeluarkan sebuah kotak musik. "Barang ini yang mau gue buang."
Angel terpesona dengan kotak musik yang dipegang Ray. "Kenapa lo buang?"
Ray mengamati kotak musik itu lagi, "menurut lo kenapa gue harus buang?"
"Itu pasti barang berharga lo kan, kenapa harus lo buang." Angel menambahkan lagi.
"Barang berharga?" Ray tersenyum, rupanya Angel masih mengingat kata-kata itu tanpa sadar.
"Percuma, gue nggak bisa buka kotak ini. Jadi ini bukan barang berharga lagi buat gue."
Ray pun seketika melempar kotak musik itu ke angkasa. Entah kenapa Angel seperti tak rela saat barang itu mengundara dan jatuh ke bawah.
"Jangan!"
"Kenapa lo buang sih?" Angel marah.
Ray menatap Angel bingung, kenapa Angel seperti tak rela kotak musik itu dibuang?
Tiba-tiba tanpa disadari, Angel langsung turun ke bawah untuk mencari kotak musik itu.
"ANGEL!" panggil Ray kemudian, ia pun ikut berlari mengejarnya.
Angel telah turun ke bawah tepat tempat Ray tadi membuang kotak musik itu, nalurinya mengatakan kalau benda itu jatuh di sekitar tempat itu.
"Di mana... di mana?"
Ray berhasil turun dan mengejar Angel di bawah, terlihat Angel mencari-cari benda itu dengan penuh kekhawatiran.
"Angel!"
"Angel!" Ray terus memanggil namanya.
"Kenapa lo buang kotak musik itu sih?" Angel kesal.
"Memangnya kenapa? Itu bukan urusan lo kan?" Ray mulai ketus.
"Ray!"
Untuk pertama kalinya, Angel memangil namanya dengan lantang. Ray begitu terkejut. "Angel!" Ray menarik tangannya.
"Tadi lo manggil gue?"
Angel menatap bingung padanya.
"Tadi lo manggil gue Ray, iyakan?"
"Bukannya nama lo emang Ray, aneh lo!"
Ray kecele, ia pikir saat Angel memanggilnya tadi, ingatan Angel kembali. Rupanya salah.
Angel masih mencari kotak musik yang jatuh tadi di semak-semak. Namun tak kunjung ketemu.
"Nggak perlu dicari, kotaknya nggak gue buang kok." Angel berbalik.
"Maksud lo?"
Ray mengeluarkan kotak musik tadi, rupanya saat akan membuang kotak musik itu dan Angel berteriak 'jangan' Ray langsung menoleh. Saat itu Angel berpikir Ray telah membuang kotak itu.
"Lo nyari inikan?"
Angel tersenyum lega. "Lo nakutin gue tahu nggak sih?"
Angel tersadar, sejak tadi Ray memanggil nama 'Angel' padanya.
"Tunggu, kenapa lo terus manggil gue Angel?"
"Karena nama lo Angel," jawab Ray mantap.
"Nama gue itu Mika." Angel mengelak.
"Iya gue tahu, tapi gue suka manggil lo Angel."
"Aneh lo!"
Angel menatap bingung pada Ray yang terus memperhatikannya.
"Oh ya, kenapa lo mau buang kotak musik itu?"
"Kan udah gue bilang, gue nggak bisa buka kotak ini tanpa kuncinya."
"Ya udah, lo cari kuncinya di mana?"
"Di elo!"
Angel kaget, "Hah?"
"Iya, kuncinya ada di Lo."
Angel tertawa. "Nggak mungkin lah, itu mustahil."
"Kenapa mustahil?"
"Eh, masa kunci kotak itu ada di gue sih, ada-ada aja. Emang siapa yang ngasih tuh kotak?"
"Elo!"
Deg!
Angel terdiam
Apa ini?" tanya Mika memegang kotak pemberian Ray yang diberikan untuknya.
"Ini namanya kotak musik, aku pegang kuncinya kamu pegang kotaknya, nanti kalau kita udah dewasa kita buka kotaknya sama-sama," kata Ray membuat sebuah janji sambil memberikan kotak musik itu padanya. Mika lalu membukanya.
"Wah ini bagus banget Ray!" ucapnya begitu bahagia dengan pemberian Ray. Sebuah kotak musik berwarna merah muda dengan hiasan penari balet di dalamnya, saat kotak itu diputar, terlihat penari balet itu juga ikut berputar mengikuti melodi. Mika terkekeh senang. Ray lalu mengalungkan kuncinya di leher Mika.
"Tapi aku mau kamu yang jaga semuanya, kotak ini dan kuncinya" katanya.
" Lalu kamu?"'tanyanya
"Aku akan pegang janji kamu, kamu janji ya kalau nanti kita udah dewasa kita buka kotaknya sama-sama" sambil Ray mengacungkan jari kelingkingnya dan disambut dengan jari kelingking Mika yang menyatu. Mereka tersenyum satu sama lain.
Angel seperti mengingat masalalu yang tak ia ketahui muncul di kepalanya. Bahkan ketika Ray memperlihatkan kotak musik yang sama seperti kotak musik dari bayangannya.
Angel mencoba menyentuh kotak musik itu, tiba-tiba bayangan aneh kembali muncul dengan kotak musik yang sama.
Tawa, canda, tangisan, semua kembali
Kepingan puzzle mulai berbentuk dan saat Angel kembali menatap Ray, seakan laki-laki itu tak asing baginya.
"Ray!"
Angel menyentuh wajah Ray dengan tangannya.
"Mika!" teriak Leon dari kejauhan.
"Gue cariin lo dari tadi, ayo balik!" Leon menarik tangan Angel dari hadapan Ray.
"Leon!"panggil Ray.
Leon menoleh. "Tolong jaga Angel." Setelah mengatakan itu Ray tersenyum, ia memilih pergi.