“Apa ini?" tanya Mika memegang kotak pemberian Ray yang diberikan untuknya.
"Ini namanya kotak musik, aku pegang kuncinya kamu pegang kotaknya, nanti kalau kita udah dewasa kita buka kotaknya sama-sama," kata Ray membuat sebuah janji sambil memberikan kotak musik itu padanya. Mika lalu membukanya.
"Wah ini bagus banget Ray!" ucapnya begitu bahagia dengan pemberian Ray. Sebuah kotak musik berwarna merah muda dengan hiasan penari balet di dalamnya, saat kotak itu diputar, terlihat penari balet itu juga ikut berputar mengikuti melodi. Mika terkekeh senang. Ray lalu mengalungkan kuncinya di leher Mika.
"Tapi aku mau kamu yang jaga semuanya, kotak ini dan kuncinya" katanya.
" Lalu kamu?"'tanyanya
"Aku akan pegang janji kamu, kamu janji ya kalau nanti kita udah dewasa kita buka kotaknya sama-sama" sambil Ray mengacungkan jari kelingkingnya dan disambut dengan jari kelingking Mika yang menyatu. Mereka tersenyum satu sama lain.
Angel seperti mengingat masalalu yang tak ia ketahui muncul di kepalanya. Bahkan ketika Ray memperlihatkan kotak musik yang sama seperti kotak musik dari bayangannya.
Angel mencoba menyentuh kotak musik itu, tiba-tiba bayangan aneh kembali muncul dengan kotak musik yang sama.
Tawa, canda, tangisan, semua kembali
Kepingan puzzle mulai berbentuk dan saat Angel kembali menatap Ray, seakan laki-laki itu tak asing baginya.
"Ray!"
Angel menyentuh wajah Ray dengan tangannya.
"Mika!" teriak Leon dari kejauhan.
"Gue cariin lo dari tadi, ayo balik!" Leon menarik tangan Angel dari hadapan Ray.
"Leon!"panggil Ray.
Leon menoleh. "Tolong jaga Angel." Setelah mengatakan itu Ray tersenyum, ia memilih pergi.
Leon menarik tangan Angel meninggalkan Ray yang saat ini termenung diam di tempat, Angel kembali menoleh ke arah Ray, seakan enggan untuk meninggalkannya.
Sementara Ray hanya terdiam, ia mengukir senyum tipis sambil meremas kotak musik di tangannya.
***
Sepulang sekolah, Angel duduk melamun di sisi mobil sementara Leon menyetir di sampingnya. Leon menoleh pada Angel yang sejak tadi diam tak bersuara, bahkan sejak tadi mereka kembali ke kelas, wajah Angel tertekuk seperti menyimpan sesuatu.
“Mika!”
Angel tak bersuara saat dipanggil.
“Mika!”
Kembali, Angel tak menoleh. Ia masih termenung. leon pun memiliki ide untuk mengoda Angel yang melamun, ia mengarahkan jemari tangannya untuk menjitak dahi Angel hingga Angel berteriak kesakitan.
“Aw, Hans apaan sih!”
Leon tertawa, “Lo dari tadi melamun aja sih, mikirin apa?”
Angel masih cemberut, “Bukan apa-apa!”
“Mika!”
“Apa?” balasnya datar.
“Sikap lo jadi aneh setelah ketemu Ray, ada apa dengan kalian tadi?”
Angel mulai memposisikan duduk tegap seraya menoleh pada Leon. “Nggak ada apa-apa.” Angel seakan menutupi.
“Mika!” Leon menepikan mobilnya dan menghentikannya. ia kini menatap tajam pada Angel,” Ada apa tadi?”
“Pengen tahu banget sih!” Angel malah bercanda.
“Mika!” Leon dibuat kesal.
Angel kembali diam, “Hans!” panggilnya pelan.
“Apa?” Leon menoleh ke arahnya dengan raut malas.
“Gue boleh nanya sesuatu?”
“Nanya apaan?”
“Lo udah kenal Ray berapa lama?”
Leon mengingat, “Udah lama, saat masih kecil. Kenapa?” Leon menatap curiga
“Ray itu orangnya kaya gimana?” tanya Angel lagi.
Leon semakin dibuat penasaran, untuk apa tiba-tiba Angel menanyakan Ray padanya.
“Kenapa lo nanya soal Ray?” tanyanya balik.
“Nggak papa, gue cuma penasaran aja, apa hubungan gue sama Ray dulu?”
Leon mengerti, bagaimanapun juga hanya ingatan Angel yang lupa tentangnya, tapi tidak untuk perasaannya. “Menurut lo?” Leon kembali bertanya.
“Gue serius Hans, kasih tahu apa hubungan gue sama Ray dulu? Kenapa Ray bilang kalau gue pernah ngasih kotak musik yang bahkan gue sendiri nggak ingat sama sekali.”
“Kotak musik?” Leon tak tahu menahu.
….
“Ray!” Julian masuk ke kamarnya dan mendapati kamarnya kosong, ia mendengar suara air mengalir dari dalam kamar mandi, mungkin Ray saat ini sedang mandi.
Julian menunggu dan duduk di kasurnya sambil mengambil salah satu buku bacaan Ray yang tergeletak di kasurnya. Saat akan mengambil buku bacaan lain di sebelahnya, pandangan Julian terarah pada sebuah kotak musik yang dibuang di tumpukkan sampah.
“Kotak musik inikan?” Julian mengambilnya. “Kenapa Ray membuangnya?”
Kriet, suara dari balik pintu. Ray rupanya sudah selesai mandi dan kini hanya memakai handuk yang melilit di pinggangnya. Ray tekejut melihat Julian sudah masuk ke kamarnya. “Julian, ngapain lo masuk kamar gue?”
Julian langsung menyembunyikan kotak musik di belakang punggungnya. “Gue ada perlu sama lo!”
“Apaan?” Ray duduk di kasurnya sambil mengeringkan rambutnya yang basah menggunakan handuk kecil.
“Besok ada acara pesta di keluarga Wiliam, lo mau ikut?”
Mendengar nama keluarga Wiliam, Ray langsung teringat tentang Angel.
“Gue denger, kakek Willy akan mengumumkan soal cucunya Angel.”
“Untuk apa gue datang?”
“Gue nggak mungkin datang kesana sendirian.”
Ray bangkit dan melempar asal handuk itu di sembarang tempat, ia mengambil kaos oblong hitam dan celana pendek dalam lemarinya. Setelah memakainya Ray pun berbalik.
“Kan udah gue bilang, gue nggak akan datang.”
“Lo nggak pengen ketemu sama Angel?”
“Angel sudah lupain gue.”
“Angel hanya hilang ingatan, dia nggak sepenuhnya ngelupain lo.”
“Darimana lo yakin?”
Julian mengeluarkan kotak musik dari persembunyian tangannya. “Jadi ini alasan lo buang kotak musik ini?”
Ray kaget, bagaimana Julian bisa menemukan kotak musik yang sudah dibuangnya tadi.
“Lo buang ke tempat sampah, lo nyerah buat mertahanin Angel hanya karena Angel nggak ingat sama lo?” Julian ikut kesal.
“Lo ngapain ambil kotak musik itu, kembalikan!”Ray berusaha mengambil kotak musik itu dari tangannya, namun Julian enggan untuk memberikannya.
“Bukannya lo udah buang kotak musik ini di tempat sampah!”
Ray tertegun, benar kata Julian. Bukankah dia sudah membuangnya?
“Lo ingat Ray, saat lo kehilangan Mika, lo berusaha mertahanin kotak musik ini sampai dewasa dan menjaganya, tapi sekarang saat Mika sudah kembali, lo malah buang gitu aja benda berharga ini hanya karena dia nggak ingat sama lo?”
Julian memperlihatkan kotak itu di hadapan Ray. “Semudah itu lo menyerah Ray? Bahkan saat gue udah ngerelain Angel buat jadi milik lo. Harusnya lo berusaha buat dapetin Angel kembali, bukan malah menyerah kaya gini.”
Ray diam. Benar juga ucapan Julian, ia memang telah menyerah sekarang, tapi ia sadar hatinya tak mengizinkan itu.
“Angel hanya nggak ingat sama lo, bukan ngelupain lo!”
Lara masuk ke kamar Ray dan mendapati dua putranya sedang bersitegang. “Ray…Julian, ada apa ini?”
Julian memberikan kotak musik itu kembali pada Ray dan keluar begitu saja dari kamarnya. lara mendekati Ray. “Ray ada apa? Kenapa kalian berantem?”
“Mamah!” Ray langsung memeluk Lara erat dan menangis. “Aku melakukan kesalahan Mah!”
Lara menepuk punggung Ray berusaha menenangkan anaknya. “Melakukan kesalahan apa Ray?”
Ray masih terisak, ia semakin mengeratkan pelukannya sambil memandang kotak musik yang dipegangnya.