Angel duduk bersolek di meja rias, memandang dirinya di depan cermin. Malam ini akan diadakan pesta penyambutan sekaligus perkenalan untuknya sebagai bagian keluarga Wiliam sebagai Mika. Angel kembali teringat kejadian tadi saat di sekolah saat bertemu dengan Ray.
Kotak musik? Kenapa Ray bilang kalau kotak musik itu pemberian darinya. Apa sebelumnya mereka kenal dekat? Pertanyaan demi pertanyaan tak bisa ia jawab dengan mudah, memorinya berusaha mengingat lebih dalam—namun percuma, tak ada satupun memori tentang Ray di pikirannya.
Tok tok tok, lamunan Angel tersadarkan saat mendengar suara ketukan pintu dari luar.
“Nona, apakah sudah siap?” suara salah satu pelayan mengetuk pintu.
“Sebentar!” balas Angel.
Angel merapikan gaun putihnya dan kembali bersolek di depan cermin—sempurna, ia sangat cantik hari ini.
Sementara di luar, para tamu mulai berdatangan. Semua mengenakan gaun kebanggaanya dan tampak begitu elegan, satu persatu keuar dari mobil dan disambut dengan hangat di sana. Tak terkecuali dari keluarga Raveno. Kali ini Stefan bersama kedua anaknya datang sebagai tamu undangan.
Ray—akhirnya ikut setelah dibujuk untuk datang ke pesta itu. walau ia enggan untuk kembali bertemu dengan Angel lagi, ia takut perasaanya semakin sakit saat melihat Angel yang tak mengingatnya. Julian meyakinkan Ray kalau semua akan baik-baik saja, kita hanya perlu datang sebagai tamu undangan di sana.
Tak disangka Brian dan Shila juga ikut datang sebegai tamu undangan. Mereka semua bertemu di dalam sambil menunggu acara inti dimulai. Tak disangka, Shila yang sedang bersama Brian melihat dari kejauhan Gisele di san. Gisele rupanya melihatnya juga dan langsung berjalan menghampirinya.
Kedatangan Gisele tentu tak disambut Shila yang masih kesal padanya.
“Wah, rupanya kalian datang juga di sini!”
Shila memalingkan wajah seakan tak menghiraukan sapaannya. Sementara Queen yang baru datang langsung menghampiri Julian dan bergelayut manja dengan tangan Julian. “My Prince!”
Ray, seakan tak nyaman di tempat itu. ia mengedarkan pandangan mencari keberadaan Angel. Namun gadis itu tak muncul sampai Leon mendatanginya.
“Nyari Angel?”
Ray mengelak, “enggak!”
“Sebentar lagi Angel juga datang kok. Tungguin aja!” Ray tahu dirinya tak bisa membohongi perasaannya.
30 menit kemudian, suasana menjadi tenang, Yudha datang bersama Kakek Willy dan menyambut tamu undangan yang datang. Kakek Willy terlihat sangat berwibawa dengan setelan jas hitam dan kacamata kotaknya. Ia memberi salam untuk semua tamu undangan yang datang malam itu.
Suara tepuk tangan menggema di penjuru ballroom yang dipenuhi para tamu undangan. Angel keluar dengan gaun putih cantiknya, rambut tergerai bak putri dongeng. Semua tamu terkagum dengan kecantikannya, tak terkecuali Ray yang bahkan tak berkedip saat melihat Angel dari kejauhan.
“Angel cantik banget!” puji Shila.
“Sekarang dia Mika bukan Angel,” balas Brian.
“Tapi bagi gue dia itu Angel, Angel temen kita.” Shila tak mau kalah.
Kakek Willy kemudian memperkenalkan Angel dihadapan para tamu dengan bangganya. Angel hanya tersenyum manis di hadapan para tamu.
“Oh jadi itu cucunya, cantik sekali.”
“Dia Mika yang hilang itu?”
“Beruntung sekali dia bisa selamat dari kecelakaan.”
Bisika- bisikan yang didengar di sekitar Ray cukup mengganggunya. Selamat dari kecelakaan? Beruntung, kata itu seperti meremehkan. Ray berdecak kesal.
“Ada satu pengumuman penting malam ini.” semua para tamu nampak antusias.
“Leon kemarilah!” panggil Kakek Willy.
Leon pun maju ke depan dan berdiri di samping Angel. Semua tak sabar menunggu pengumuman apa yang disampaikan kakek Willy malam ini.
“ Malam ini juga ada kabar bahagia untuk cucuku Mika karena hari ini bertepatan dengan acara pertunangan cucuku Mika dengan putra keluarga Aprilio—Leonidas Hans Aprilio.”
Semua tamu yang berada di sana bertepuk tangan cukup meriah, tapi tidak dengan teman-teman Angel yang begitu syok mendengarnya, termasuk Ray yang sangat keberatan mendengarnya.
“Pertunangan?” Shila menoleh pada Brian.
“What? Angel mau tunangan sama Leon. Ini gila!” Queen juga sepertinya tak terima dengan keputusan itu.
Julian menoleh pada Ray yang tak bisa berkutik apapun. siapa yang tak terkejut saat mendengar orang yang kita sayangi bertunangan dengan orang lain di depannya. Angel dan Leon yang berada di depan juga sama syoknya.
“Tunangan?” Angel menoleh pada kakeknya, ia berharap kakeknya saat ini sedang bercanda soal tunangan ini.
Leon, ia juga sama terkejutnya. Walau dalam hati ia senang dengan keputusan kakek Willy, tapi baginya ini keputusan sepihak yang justru akan merugikan pihak lain, termasuk soal Ray dan Angel nanti. bagaimana nanti saat Angel kembali ingatannya dan mengetahui soal ini, pasti ia sangat sedih.
“Kakek, kakek nggak lagi bercandakan?” Leon memastikan.
“Harusnya kamu senang Leon.”
“Kakek!”
Saat pandangan Angel justru mengarah pada Ray, laki-laki itu malah memilih pergi. “Ray!” teriak Angel turun dari podium dan mengejarnya.
Tunangan, benarkah yang ia dengar ini. Angel akan bertunangan dengan orang lain. Hancur sudah harapan Ray untuk mempertahankan Angel kembali saat Angel berada di pelukan orang lain kelak. Pada akhirnya dialah yang akan kalah.
Arghhhh, teriak Ray saat berada di luar gedung. Ray bahkan memukulkan tangannya ke tembok hingga berdarah. Dari kejauhan Angel menemuinya.
“Ray!”
Ray menoleh. “Angel!”
“Apa yang kamu lakukan?” Angel melihat darah mengalir di sela-sela jemari Ray akibat pukulan yang diterimanya.
Angel mengeluarkan sapu tangan dan membalutkan luka di tangan Ray. Ray sendiri bingung dengan sikap Angel yang berubah.
“Apa yang kamu lakukan?” Ray bingung
“Ray sedikit lagi!” Angel selesai mengingat sapu tangan itu di tangan Ray agar darah berhenti mengalir.
Leon rupanya menyusul kepergian Angel, menyadari Leon ada di belakang. Ray langsung mendorong pelan tubuh Angel untuk menjauh. “Pergilah, calon tunanganmu menjemput.”
Angel menoleh dan melihat Leon berdiri di sana.
“Ray!” Angel menahan kepergiannya. “Aku nggak tahu soal kakek yang mengumumkan pertunangan itu, jangan salah paham.”
“Angel sudah!” Ray berteriak. “Mulai sekarang, jangan pernah muncul lagi dihadapanku.”
Ray memilih pergi. Namun tiba-tiba Angel berteriak, “Jangan pergi Ray. Aku memang nggak ingat tentang masa laluku, tapi aku butuh keyakinan tentang siapa aku di masa lalu, terutama soal kamu. Kenapa kamu muncul terus Ray, siapa kamu sebenarnya?”
“Aku?” Ray tersenyum, “Aku bukan siapa-siapa kamu.”
“Nggak mungkin, kamu pasti tahu sesuatu, tentang kotak musik itu. Ray!”
“Kotak musik itu sudah nggak ada gunanya lagi Angel.” Ray berteriak. “Sudah nggak ada artinya!”
“Angel?” Angel mengulang namanya lagi, seketika bayangan kembali muncul di ingatannya. “Kenapa kamu terus memanggilku Angel?”
“Karena nama kamu Angel bukan Mika.”
Deg!