"Karena nama kamu Angel, bukan Mika."
....
Angel?
Hei Angel!
Perlahan ingatan Angel kembali muncul, kali ini bayangan seseorang yang memanggilnya—terus memanggil namanya Angel.
Angel
"Mika!" Leon langsung menghampirinya saat melihat perubahan Angel yang aneh.
"Ayo masuk!"
"Hans!" Panggilnya.
Angel melihat Ray menjauh meninggalkan tempat itu. Bahkan Ray tak menoleh kembali kearahnya.
"Ayo masuk, kakek pasti nyariin." Leon menuntun Angel untuk kembali masuk ke dalam.
***
Sesampainya di rumah Ray langsung masuk ke kamarnya.
"Kalian sudah pulang rupanya!" Lara menyambut kedatangan mereka.
Ray tak menyapa mamanya dan langsung naik ke atas. Julian yang memang sudah tahu apa yang terjadi di pesta tadi tak bisa berbuat banyak. Perubahan Ray langsung diketahui Lara saat melihat Ray yang pulang dengan keadaan kesal.
"Julian, apa yang terjadi? Kenapa sikap Ray seperti itu?"
"Angel dan Leon tunangan. Kakek Willy tadi mengumumkannya di pesta."
Lara kaget, "apa?!"
Lara langsung menyusul Ray ke kamarnya. Mengetuk pintu kamar anaknya yang terkunci. "Ray buka pintunya sayang!"
"Ray!" Tak ada sahutan dari dalam.
"Ray, mama tahu kamu ada di dalam. Buka pintunya Ray!"
Lara mencoba mendobrak pintu, dan rupanya pintunya tak sepenuhnya terkunci. Lara berhasil masuk ke dalam kamar Ray dengan kondisi kamar yang gelap temarang. Lara mencari keberadaan anaknya.
"Ray!"
"Ray!"
Kondisi kamar Ray sangat berantakan, daat Lara menyalakan lampunya, beberapa barang berserakan dan kondisinya sangat memprihatinkan. Beberapa kaca pecah dan bisa dipastikan itu ulah Ray yang denfaja menghancurkan kaca itu.
"Ray!" Lara terus memanggil namanya
Dan betapa terkejutnya ia mendapati putranya tersungkur di pojokan dalam keadaan menangis. Lara langsung menghampirinya.
"Ray!" Lara langsung memeluknya.
Keadaan Ray benar-benar terpuruk sekarang.
"Ray sudah." Lara berusaha menenangkannya.
Kejadian ini pernah terjadi saat Lara juga menemukan anaknya Ray terpuruk saat kehilangan sahabatnya Mika dulu. Hampir satu minggu Ray tidak mau keluar kamar dan terus menangis di dalam.
"Mamah!" Ray memeluk erat Lara.
"Mama ada di sini sayang!"
Dari luar, Julian diam-diam melihat keadaan Ray. Ia merasa sangat bersalah tidak bisa berbuat apa-apa saat Ray terpuruk. Satu-satunya yang bisa ia lakukan adalah membawa Angel kembali pada Ray.
***
Hari berikutnya di sekolah. Sejak kejadian di pesta dan pertunangan Angel dan Leon yang sudah tersebar di sekolah. Shila dan teman-teman yang lain seperti tak terima apalagi sekarang Ray tidak masuk ke sekolah. Kondisi ini semakin memprihatinkan. Tak ada yang terima dengan keputusan malam itu. Biar bagaimanapun Mika adalah Angel yang selama ia kenal.
"Kita harus lakuin sesuatu." Shila memulai.
"Memulai bagaimana?" Brian menyahut.
"Kita harus kasih tahu Angel siapa dia sebenarnya."
"Gue juga setuju." Queen ikut menyahut.
"Pertanyaannya gimana caranya?"
Tiba-tiba Julia muncul, "gue ada ide."
Melihat kedatangan Julian, Queen langsung berdiri dan langsung menghampirinya dengan manja. "My prince kemana aja!"
"Gimana caranya?"
Julian duduk di antara mereka dan mulai menyusun rencana.
"Enggak, nggak setuju." Queen langsung menolak.
"Gue nggak setuju My prince deketin Angel. Kenapa harus my prince sih?"
Shila kesal, "ya karena saat ini Angel itu suka sama Julian."
"My prince!" Queen seperti memohon.
"Queen, gue nggak mau saudara gue terus-terusan terpuruk kaya gini."
"Tapi ini cuma pura-purakan?" Queen kembali memastikan.
"Ya iyalah Queen ya kali beneran."
"Oke deh, gue setuju."
Rencana Julian mendekati Angel pun dijalankan. Teman-temannya memantau, Brian dan Max bertugas untuk mengalihkan perhatian Leon untuk tak terus bersama Angel jadi Julian bisa melancarkan aksinya.
Pertama pendekatan.
Julian mendekati Angel dan duduk di sebelah Angel yang sedang sendirian. Melihat kedatangan Julian, Angel pun sangat senang dengan kedatangannya.
Julian pun mengajak Angel makan siang bersama dan mengobrol banyak di kantin sekolah.
Dan endingnya Julian mengajak Angel untuk makan malam di rumahnya. Angel langsung menyetujuinya, tapi bagaimana dengan Leon yang akan melarangnya nanti. Julian memastikan Leon tak akan melarangnya pergi. Angel pun mengiyakan ajakannya.
Sebenarnya alasan Julian membawa Angel ke rumah agar ia bisa bertemu dengan Ray. Untuk urusan Leon, Julian sudah meminta kedua temannya mengurusnya.
Namun rencana tak semulus itu. Yudha tiba-tiba datang untuk menjemputnya dan mengajaknya pulang. Angel tak bisa menolak dan harus pulang ke rumah bersamanya.
Rencana pertama gagal.
....
Hari berikutnya, giliran Shila yang mendekati Angel untuk mengajaknya pergi ke studio. Mungkin dengan mengajaknya ke studio, perlahan ingatan Angel bisa kembali.
"Wah, kalian ngeband ya? Gue dari dulu suka musik, tapi kakek selalu melarang." .
"Angel—maksudnya Mika, mau ikut latihan bersama kita?"
Angel ragu. "Nggak papa nih?"
"Nggak papa."
Shila mulai menampatkan Angel di posisi vocal. Dave dan Briab sudah siap di posisi.
"Tunggu, nanti kalau vocalistnya datang gimana?" Angel takut.
"Tenang aja, vocalistnya lagi nggak ada. Lo bisa nyoba jadi vocalist di grup ini."
"Oh, okee." Angel mengangguk setuju.
Saat Angel menyentuk mic, seketika ingatan masalalunya muncul. Ia seperti tak asing dengan alat musik dan suasana tempat ini."
"Ayo Mika!" Shila memberi semangat.
Bahkan tak hanya itu rencana teman-teman Angel untuk membantunya mengingat. Angel pernah dipertemukan dengan Ray di perpus dan mereka dikunci di dalam. Saat itu Angel merasa kesal harus terkunci di dalam, namun saat ia tahu ia tak sendirian di dalam karena ada Ray, Angel mulai tenang. Mereka menunggu sambil duduk.
Bahkan teman-teman Angel sengaja mematikan lampu hingga membuat Angel berteriak karena takut gelap, sontak saja ia langsung memeluk Ray di sampingnya. Ray dan Angel sama-sama canggung saat itu. Hanya saja sikap Ray biasa-biasa aja.
Namun tak berlangsung lama penjaga perpus datang dan membukakan pintu. Angel dan Ray selamat.
Julian terus berusaha mendekati Angel dan bisa dibilang diam-diam Julian mengajak Angel kencan berdua di taman malam ini. Angel langsung mengiyakannya.
***
Malam itu, Julian meminta Angel menunggu di pasar malam. Angel datang dengan pakaian santainya tanpa ditemani pengawal.
Angel juga diminta untuk menunggunya di depan bianglala di sana. Angel sudah tak sabar untuk kencan pertamanya dengan Julian. Ia bahkan beberapa kali bersolek merapikan anak rambutnya agar tampak sempurna malam ini.
"Angel!"
Angel tersenyum senang saat ada yang memanggil namanya di belakang, bisa dipastikan itu Julian. Namun saat ia menoleh, sosok lain dengan jaket hitamnya muncul di sana.
"Ray!" Angel justru melihat Ray berdiri di belakangnya. "Kamu di sini juga?"
Ray mengangguk. "Julian memintaku ke sini."
"Julian? Lho kebetulan Julian juga memintaku ke sini. Kok kebetulan gitu ya?" Ange bertanya-tanya.
"Kamu ada urusan apa sama Julian?" Tanya Ray lagi
Angel nampak tersipu malu. "Emmt, kita mau jalan-jalan."
"Jalan-jalan?" Ray bertanya lagi.
"Mungkin sebentar lagi Julian datang, aku akan menelponnya. Angel mengeluarkan ponselnya untuk menelpon Julian.
"Julian, kamu di—"
"Mika, aku minta maaf, hari ini aku nggak bisa datang, ada urusan mendadak."
Tut tut tut...
Suara panggilan telepon ditutup. Angel terlihat kecewa, padahal ia sudah datang dan dandan cantik malam ini. Kenapa tiba-tiba Julian mendadak tidak bisa datang begitu saja.
"Huft!" Angel mengembuskan nafas panjang.
"Kenapa?" Ray masih memperhatikannya.
"Aku pulang aja deh. Julian nggak datang."
"Dia nggak datang?" Ray memastikan ponselnya dan mendapatkan pesan dari Julian.
Gue titip Angel ya, jagain dia :)
Sial, ternyata ini rencananya. Ray ingin mengupat kesal. Namun di balik itu semua ia berterimakasih pada saudaranya itu. Karenanya ia bisa bertemu dengan Angel.
"Aku pulang aja deh Ray. Julian nggak datang!"
"Angel!" Ray menahannya.
"Sudah jauh-jauh ke sini. Mau jalan sebentar?" Tawar Ray
Angel menimba-nimba ajakan Ray, ia ragu tapi sudah kepalang tanggung sampai tempat ini dan tidak mendapat apa-apa.
"Suka lihat bintang?"
"Hah?"
"Aku tahu tempat yang bagus buat lihat bintang, ikut aku!" Ray menggandeng tangan Angel dan membawanya pergi.
Di tempat lain, Julian yang sedang bersama Brian tersenyum puas dengan rencananya. Rencana kali ini cukup berhasil, sekarang tinggal Ray yang beraksi.
Terlihat dia gadis membawa nampan menghampiri mereka, wajah keduanya berkerut dan langsung duduk dengan murung.
"Kenapa harus kita sih yang pesen makanan?" Shila protes.
"Iya nih, nggak gentlemen banget." Queen menambahkan.
Julian dan Brian hanya tersenyum puas.
"Sekali-kali cewek nggak papa kan?"
Shila mengerucut bibirnya—kesal. Berbeda dengan Queen yang langsung tersenyum saat Julian tersenyum padanya.
"My prince, aku pesenin jus. Nih!"
"Makasih Queen." Queen tersipu malu.
"Shila, kok jambu sih, kan tadi aku pesennya jus alpukat bukan jus jambu." Brian protes.
"Ih sama aja, mau jus jambu jus alpukat, sama-sama jus kan?" Shila tak mau kalah.
"Beda dong Shila."
"Arghh, yaudah pesen lagi sana!" Shila ngambek.
Melihat Shila yang cemberut justru membuat Brian gemas. "Gitu aja marah!"
"Oh ya kira-kira Ray sama Angel ngapain ya sekarang?" Shila bertanya
"Yang pasti mereka lagu happy happy kaya kita." Brian berasumsi.
"Dih, kepedean. Siapa yang lagi happy?"
Malam itu Ray mengajak Angel pergi kr menara tower, di sana mereka lebih leluasa melihat langit malam penuh bintang.
"Angel lihat ke atas!" Ray menengadahkan kepala ke atas. Taburan bintang sangat banyak di sana.
Angel takjub, "Wow, ini indah banget Ray." Angel terlihat senang.
"Lihat, ada bintang jatuh!" Tunjuk Angel kemudian.
"Apa kamu percaya dengan permohonan bintang yang bisa mengabulkan keinginan?" Tanya Ray
Angel langsung menutup mata seperti memohon sesuatu, Ray melakukan hal yang sama, hanya saja ia lebih melihat ke arah Angel sambil memohon.
Setelah saling memohon. Angel berkeliling tempat itu yang saat ini sepi pengunjung. Bangunan menara tower yang di desain cukup tinggi layaknya menara Namsan Tower Seoul, Angel sangat menikmati temoat yang tak pernah ia kunjungi itu.
"Ray!" panggil Angel padanya.
Ray menoleh.
"Ucapan kamu kemarin di pesta, apa itu benar?"
"Yang mana?"
"Kamu bilang... kamu nggak mau lihat aku lagi, apa itu benar?"
"Menurutmu?"
"Apa sebegitu bencinya kamu sama aku?"
"Menurutmu?"
"Ray!"
"Aku pikir kamu nggak benar-benar membenciku."
"Kenapa kamu begitu yakin?"
"Nyatanya kamu ajak aku jalan dan pergi ke tempat seindah ini. Aku pikir kamu nggak benar-benar membenciku kan Ray?" Angel memastikan kembali.
Ray menoleh."menurutmu?"
Angel kesal, setiap ucapan panjang lebarnya hanya dibales pendek. "Ray!"
"Angel!" Wajah Ray berubah serius. Ia memberi jeda sedikit untuk melanjutkan kalimatnya.
"Apa kamu benar-benar nggak ingat aku?"
Angel menggeleng. "Kenapa kamu terus memanggilku Angel?"
"Karena nama itu sangat berarti di hidupku, termasuk orang yang memiliki nama itu."
"Dia Angel?"
Ray mengangguk, "dia adalah orang yang sangat berarti di hidup gue. Waktu kecil dia nenghilang... dan saat dewasa dia kembali lagi. "
Angel mendengarnya dengan saksama.
"Sekarang dia di mana? Di mana Angel?"
"Dia??" Ray tersenyum.
Ray langsung mengangkat tangannya dan langsung menjatuhkan telunjuknya di depan Angel.
"Dia di sini!"