"Sekarang dia di mana? Di mana Angel?"
"Dia??" Ray tersenyum.
Ray langsung mengangkat tangannya dan langsung menjatuhkan telunjuknya di depan Angel.
"Dia di sini!"
Angel tertegun dengan ucapan Ray, tatapannya kini serius, tapi sedetik kemudian Ray tertawa nyaring.
Hahahaha...
Angel benar-benar tak mengerti apa maksudnya. Bahkan tawa Ray seakan dibuat-buat olehnya.
"Kenapa kamu seserius itu?" Ray masih menahan tawa.
Angel masih diam, ia tak mengerti untuk apa Ray harus bercanda seperti sekarang ini. "Kenapa kamu sangat suka becanda. Ini nggak lucu!" Angel kesal dan memilih pergi.
"Hei tunggu!" Ray mengejarnya.
"Mika... Mika gue bercanda." Ray terus mengejarnya.
Entah kenapa saat ini Angel begitu kesal dengan candaan Ray, apa tadi lucu? Pikirnya. Tanpa sadar Angel menitihkan air matanya. Ia terus berjalan tanpa mempedulikan Ray yang terus memanggilnya.
"MIKAAA!" teriaknya lebih lantang, dan saat itu Angel berhenti.
Angel berhenti tepat di tengah jalan, dan saat Ray akan mendekat, sebuah sepeda mini dengan kecepatannya mengarah padanya. Ray yang langsung mengetahui sepeda itu mengarah pada Angel langsung sigap dan menarik Angel dari bahaya.
Grep, satu pelukan berhasil mendarat dengan sempurna, Angel tentu kaget saat mendapat pelukan dari Ray.
"Woi, hati-hati kalau naik sepeda."
Tes...
Tes...
Tes...
"Mika, kamu nggak papa?" Ray melonggarkan pelukan dan menatap Angel lebih dekat.
"Mika!" Ray menggoyangkan bahu Angel dan ketika melihat Angel menangis, Ray langsung melepas tangan itu.
Apa dirinya berbuat salah pada Angel sampai membuat Angel menangis.
"Kenapa kamu nangis?" Ray cemas.
Angel menggelengkan kepalanya dan masih terdiam.
"Mika!" Panggilnya lagi.
"Ini namanya kotak musik, aku pegang kuncinya kamu pegang kotaknya, nanti kalau kita udah dewasa kita buka kotaknya sama-sama."
"Wah ini bagus banget Ray!"ucapnya begitu bahagia dengan pemberian Ray. Sebuah kotak musik berwarna merah muda dengan hiasan penari balet di dalamnya, saat kotak itu diputar, terlihat penari balet itu juga ikut berputar mengikuti melodi. Mika terkekeh senang. Ray lalu mengalungkan kuncinya di leher Mika.
"Tapi aku mau kamu yang jaga semuanya, kotak ini dan kuncinya."
"Lalu kamu?"'
"Aku akan pegang janji kamu, kamu janji ya kalau nanti kita udah dewasa kita buka kotaknya sama-sama."
Angel tanpa sadar menggenggam sesuatu di dadanya—sebuah kalung.
"Akan aku antar pulang, ayo!" Ray menarik tangan Angel.
Angel menurut saja saat tarikan Ray melekat dengan tangannya. Ia masih bungkam tak bersuara sambil terus memegangi kalung itu.
Sekarang ia ingat itu, siapa orang yang memberikan kalung dan kotak musik itu. Orang yang selama ini ia tunggu-tunggu.arti mimpi dan seseorang yang menangis di dalam mimpinya. Ia ingat semua.
Genggaman tangan itu, senyum itu, semua muncul satu persatu di depan matanya. Angel terus menangis saat tarikan erat Ray melemah.
"Ray!"
Ray menghentikan langkahnya saat Angel memanggilnya.
"Ray!"
"Ray maaf!"
Kini Ray berbalik menghadap ke arah Angel yang masih menangis, bahkan tangisan kini lebih kencang.
"Ray maaf!"
Ray tak mengerti kenapa Angel terus meminta maaf padanya.
"Mika?" Panggilnya pelan, "kamu—"
Grep, satu pelukan diterima Ray secara tiba-tiba, Angel memeluknya lebih dulu dan saat itu, tangisan kembali pecah.
"Ray, aku minta maaf baru ingat, aku minta maaf Ray!"
Deg!
Apa yang didengar barusan? Ingat? Angel mengatakan baru ingat.
"Aku minta maaf udah lupain kamu Ray, aku minta maaf."
"Ang—" Ray memastikan kembali.
Angel melonggarkan pelukannya, ia mengangguk. "Angel, aku Angel!"
Tanpa sadar air mata Ray menetes saking bahagianya, ia tak percaya dengan apa yang di dengarnya. Apa ini artinya ingatan Angel telah kembali.
Angel mengangguk memberi isyarat 'ya', iya Ray, Angel ingat.
Pelukan kini diterima Ray bahkan Ray malah memeluknya lebih erat lagi. "Angel... Angel!" Ray menangis.
***
"Cisss, hari ini merayakan kedatangan Angel kembali!" Brian dan yang lain saling bersulang dengan minuman jusnya saat anak-anak yang lain bertemu di sebuah kafe .
"Emang Angel kemana?" Shila menyela
"Yakan selama ini Angel itu Mika, Mika itu Angel.. ah, bingung!"
"Angel itu Mika tau!" Queen menambahkan.
"Kita seneng lo bisa ingat lagi Ngel!" Max ikut nimbrung.
"Jangan lupain kita, kamu tahu, gue hampir stress buat ngadepin tuh anak satu." Julian menatap pada Ray.
Angel hanya bisa tersenyum. "Maaf, aku jadi lupain kalian."
"Angel, ini beneran lo kan?" Shila memastikan lagi.
"Shila, apaan sih!"
Tawa begitu renyah, semua tampak begitu bahagia. Angel kembali dan sekarang semua kembali normal. Tapi dibalik kebahagiaan mereka, ada satu orang yang terlihat iri dengan mereka.
Gisele menatap dari kejauhan dengan tatapan kesal. "Angel, awas ya lo!"
"Jadi artinya band kita bakal tampil lagi." Brian sangat bersemangat.
"Pasti dong, jadi Angel harus jadi vocalistnya. Iyakan Ngel?" Shila menambahkan.
"Siap!" Angel bersemangat.
Setelah acara berkumpul bersama selesai, mereka berpisah satu sama lain, tak terkecuali Angel dan Ray yang pamit akan pulang. Hari ini Ray akan mengajak Angel pergi jalan-jalan ke suatu tempat.
"Kita mau ke mana?" tanya Angel sebelum naik motor Ray.
"Ke suatu tempat, kamu pastu tahu!"
Angel menurut, setelah memakai helm, ia naik ke atas motor.
"Pegangan yang kenceng!"
"Siap bos!" Angel pegangan erat saat Ray mulai menarik gas motornya pergi meninggalkan kafe itu.