"Kita mau ke mana?" tanya Angel sebelum naik motor Ray.
"Ke suatu tempat, kamu pastu tahu!"
Angel menurut, setelah memakai helm, ia naik ke atas motor.
"Pegangan yang kenceng!"
"Siap bos!" Angel pegangan erat saat Ray mulai menarik gas motornya pergi meninggalkan kafe itu.
***
Motor melaju kencang menyalip pengendara lain dengan lihainya, di belakang Angel mengeratkan pelukannya. Mereka berkeliling kota dengan perasaan bahagia, Ray bahkan sesekali mengelus punggung tangan Angel sambil menciumnya.
"Ray kita mau kemana?" tanya Angel dari belakang.
"Nanti kamu pasti tahu." Sepertinya Ray ingin memberi kejutan untuknya.
Dan benar saja, motor Ray mengarah ke perbukitan yang tak asing—tempat yang pernah mereka kunjungi dulu.
Angel tak menyangka Ray akan mengajaknya ke sini, tempat masa kecil mereka—lebih tepatnya bukit peri yang menjadi tempat persembunyian Ray dan Mika dulu.
Ray menggenggam tangan Angel erat dan menuntunnya naik ke atas, di atas sana terdapat ayunan dari papan kayu yang telah dihias sedemikian rupa dengan dedaunan dan bunga liar. Sangat berbeda dengan ayunan yang mereka kunjungi dulu. Ray lalu menuntun Angel untuk duduk di ayunan buatannya, dari belakang Ray mendorongnya pelan.
"Sekarang gantian." Angel berdiri dan meminta Ray yang duduk di ayunan.
"Enggak Angel." Ray berusaha menolak, namun Angel bersikukuh mendorong Ray untuk duduk di ayunan itu.
Mau tak mau Ray menurut, ia duduk di ayunan sementara Angel mendorong dari belakang. Tapi itu hanya akal-akalan Angel, setelah 3 dorongan dirima Ray, Angel memilih kabur. Merasa tak ada dorongan dari belakang, Ray menoleh—dan benar saja, Angel telah berlarian menjauh.
"Angel!"
Angel tertawa senang setelah mengelabuhi Ray. Sementara Ray geram.
"ANGEL!"
Angel terus berlari dan Ray mengejarnya, kejadian itu sama persis saat mereka berlarian dulu saat kecil, hanya saja kini mereka sudah dewasa.
"Angel berhenti!"
Angel berhenti saat melihat Ray terlihat kelelahan mengejarnya. "Gitu aja capek, masa kalah sama aku," ledeknya.
"Angel lihat di langit!" Angel langsung menengadah ke langit seperti yang diucapkan Ray.
Dan dengan sigap Ray berhasil menangkapnya. Angel berusaha berontak.
"Ray curang ah!"
Ray tersenyum puas. "Salah sendiri siapa yang mulai."
Angel cemberut namun justru Ray semakin suka, tangan Ray ditaruh di kedua pundaknya, menatap intens mata Angel yang menggemaskan saat marah. Pandangan Ray tertuju pada kalung yang dipakai Angel saat ini. Ray tersenyum melihatnya.
"Kemarilah!" Ray menarik Angel dan mereka duduk di atas rerumputan, Ray mengeluarkan kotak musik dari saku jaketnya.
Angel juga melepas kalung yang melingkar di lehernya. "Kita udah janjikan, akan membuka kotak ini saat sudah dewasa?"
Angel mengangguk, ia pun memutar kunci itu untuk membuka kotak musiknya, dan kotak itu langsung terbuka. Suara dari kotak musik itu masih terdengar dan boneka balerina itu masih bisa berputar-putar dengan indahnya. Baik Ray maupun Angel begitu bahagia.
Di kediaman keluarga Raveno. Lara yang baru pulang dari butik langsung masuk ke dalam, berniat mencari suaminya Stefanus tak disangka Lara melihat Stefan bersama oma tengah berbicara.
"Kamu tahu Stefan, perempuan itu hanya membawa kesialan di rumah ini, kamu tahu dari keluarga mana dia berasal? Bahkan ayahnya seorang pengedar narkoba."
"Mah, Lara bukan perempuan seperti itu, dia itu istriku."
"Mamah tidak pernah merestui hubungan kalian. Tidak akan pernah."
"Sudah cukup dia di rumah ini, bawa dia keluar dari rumah ini."
Lara yang mendengarnya sakit hati, sudah hampir 17 tahun lebih sikap ibu mertuanya yang keras tak pernah berubah, ia pikir dengan hadirnya Ray di rumah ini bisa meluluhkan hatinya. Namun percuma, Ray justru bernasib sama dengan dirinya. Terasingkan bahkan tak diharapkan di rumah ini. Haruskah mereka keluar saja di rumah ini?
Tidak, Ray tidak bersalah dengan apa yang menimpanya. Ray harus di sini, di rumah ini dan mendapat kebahagiaan.
Lara langsung pergi ke kamarnya, ia mengambil koper dan mulai memasukkan baju-bajunya ke dalam. Suara ketukan pintu dari luar tak dihiraukannya, suaranya terdengar tak asing baginya.
"Lara bukakan pintunya, aku mau bicara sama kamu." Stefan terus mengetuk pintu
Lara tak menyahut, ia terus memasukkan baju-baju ke dalam koper. Termasuk bingai fotonya bersama Ray.
"Maafkan mamah sayang." Lara memeluk bingkia itu dan memasukkan ke dalam koper
"Lara, aku mau bicara sama kamu."
Rupanya pintunya tak dikunci, Stefan langsung masuk ke dalam dan betapa terkejutnya melihat Lara sudah berberes pakaian dan memasukkan ke dalam koper.
"Kamu mau ke mana?"
"Aku mau balik ke Singapure, aku nggak bisa terus-terusan di sini Stefan."
"Lara apa yang kamu bicarakan, jangan pergi. Ini rumah kamu."
Lara menggeleng. "Bukan, ini rumah kamu, aku nggak pantas di sini." Lara tetap bersikukuh.
"Sayang, kamu kenapa sih?"
"Aku akan pergi dari rumah ini, aku nggak akan kembali lagi ke sini."
"Kamu nggak bisa pergi begitu saja, aku melarangmu."
"Stefan!" Tiba-tiba air mata Lara jatuh. "Aku mohon biarkan aku pergi."
"Enggak Lara, aku nggak akan biarin kamu pergi, kamu udah janji kita bakal sama-sama terus."
"Kamu udah punya Malika, jadi kamu nggak perlu aku lagi."
"Lara, aku mohon jangan pergi!"
Lara tetap teguh pendiriannya. "Aku tak pernah diharapkan di rumah ini Stefan."
Stefan langsung tahu apa masalah Lara ingin pergi dari rumah ini, semua tak lain karena percakapan dirinya dan ibunya tadi.
"Aku akan pergi."
Stefan berusaha menahannya. "Lara kita bisa menyelesaikan masalah ini sama-sama. Apa kata Ray nanti saat tahu kamu pergi meninggalkannya lagi."
"Aku titip Stefan, tolong jaga dia."
Lara keluar dengan membawa koper, saat membuka pintu, Malika sudah berdiri di sana.
"Lara, kamu mau ke mana?" tanyanya cemas.
"Aku akan pergi!"
"Lara..." Malika berusaha menahannya.
Lara memegang tangan Malika, "kita sama-sama perempuan Malika, aku berhutang banyak padamu, tapi kali ini aku minta tolong sekali lagi... tolong jaga Ray, dia satu-satunya harta berhargaku."
"Kita bisa membesarkan Ray sama-sama Lara, untuk apa kamu pergi?"
"Lara aku mohon tetaplah tinggal di sini. Biar mamah aku yang selesain. Aku akan bicara sama dia dan menyuruh kamu untuk tetap tinggal di sini."
Lara tersenyum kecut, "nggak perlu Stefan, kalian bisa merawat anak kita, Ray Julian, tolong jaga mereka."
Lara tak bisa dicegah, tekatnya sudah bulat. Ia telah meminta salah satu orang kepercayaannya untuk membeli tiket pesawat untuk penerbangan besok. Ray belum tahu soal ini.
Ketika Ray sudah pulang dan langsung mencari keberadaan mamanya, Ray tamlaj begitu bahagia.
"Mamah!"
"Ray kamu sudah pulang sayang!"
Ray duduk di samping sofa mamanya dan bermanja dengannya. "Coba tebak tadi aku pergi sama siapa?"
Lara seperti berpikir." Emm siapa ya? Julian? Brian?"
"Bukan mereka Mah, ayo dong!"
Lara tersenyum."Siapa lagi yang bisa membuat anak mama ini tersenyum bahagia kalau bukan karena Angel, benarkan?"
Ray tersenyum, tebakan mamanya tepat.
"Ray nggak mau kehilagan Angel lagi Mah, Ray sangat sayang sama dia."
"Iya Mamah tahu Ray."
"Mamah restui kami kan?"
"Tentu saja, Mamah akan selalu berdoa untuk kebahagiaan kamu dan Angel. Ray sekarang nggak ada yang bisa memisahkan kamu dan Angel lagi, Mamah percaya Ray bisa bahagia bersama Angel."
"Ray sangat bahagia, ada Mamah, ada Angel, Ray nggak butuh siapa-siapa lagi. Mamah akan selalu bersama Ray kan?"
Mendengar permintaan anaknya, hati siapa yang tak runtuh, keinginan kecil yang tak pernah bisa ia lakukan, walau sekedar untuk membersamai anaknya. Sudah lebih dari 10 tahun mereka berpisah apakah mereka akan kembali dipisahkan lagi?
"Mamah akan selalu bersama Ray, Mamah nggak akan pernah ninggalin Ray."
Ray tersenyum puas. "Ray sayang sama Mamah."
"Mamah lebih sayang sama kamu sayang!"
Stefan duduk di meja kerjanya, pikirannya kalut, bagaimana mengatasi masalah ini, bagaimana membuat Lara untuk tetap tinggal bersamanya. Bagaimanapun mereka sudah berpisah lama, kehilangan Lara membuatnya kehilangan atas separuh hidupnya selama ini.
Lara adalah gadis yang sangat ia cintai, ia pikir setelah kedatangan Ray di rumah hati mamahnya bisa luluh untuk kembali nenerima kehadiran Lara—tapi dugaannya salah, hati keras mamahnya telah tertutup.
Brak, pintu tiba-tiba terbuka lebar memperlihatkan Malika yang langsung masuk begitu saja.
"Stefan aku ingin bicara!"
"Bicaralah!"
"Apa kamu mau menyerah sekarang sekarang, kamu rela membiarkan orang yang kamu sayang pergi lagi?" Malika seakan kesal.
"Malika, kamu tahu bagaimana sifat Mamah selama ini. Dia sangat keras, aku tidak bisa berbuat apa-apa."
"Dan membiarkan Lara pergi lagi?"
"Malika, kamu tidak mengerti!"
"Kamu yang tidak mengerti Stefan, jangan biarkan penyesalan kembali terulang untuk kedua kalinya, kamu harus tegas sekarang."
"Aku sudah mencoba membujuk Lara, tapi sia-sia, dia akan pergi besok."
"Stefan, aku tahu bagaimana perasaan Lara selama ini, dia terluka. 10 tahun bukan waktu yang sedikit, itu sudah menderita selama ini."
Stefan bungkam.
"Stefan, kamu mencintai Lara kan?"
"Sudah aku katakan berulang kali Malika. Aku sangat mencintainya."
Malika mendekat, "Stefan kesalahan kita di masa lalu, jangan kamu ulangi lagi, sudah cukup membuat Ray dan Julian menjadi korbannya."
"Pertimbangkan lagi Stefan sebelum kamu menyesa untuk yang kedua kalinya kehilangan Lara lagi."
Malika menutup pembicaraannya dan langsung keluar dari ruangan Stefan—tak disangka suara mereka didengar langsung oleh Ray yang tak sengaja lewat dan mendengarnya.
"Mamah akan pergi?"