“Kenapa lo nggak pernah cerita sama gue soal mama Ray?” Julian geram. Saat ini mereka telah kembali ke rumah.
“Lo peduli apa soal Mama? Dan untuk apa gue harus cerita sama lo!”
“Gue ini saudara lo Ray, kalau lo ada apa-apa lo bisa cerita sama gue.”
Ray bangkit, “Apa yang bisa lo lakuin kalau gue cerita sama lo? Apa lo bisa bantui gue? Apa lo bisa buat mama tetap tinggal di sini.” Ray marah.
“Gue akan yakinin oma buat ngerubah keputusan dia. Gue akan buat mama Lara tetap di sini.”
“Kalau begitu lakukan, lakukan apa yang bisa lo lakuin sekarang.”
Ray pun meninggalkan Julian yang masih berdiri di sana. Saat ini pikiran Ray benar-benar kacau. Ia tak tahu harus berbuat apa.
Malam itu, Ray tak langsung tidur. Pikirannya melayang ke mana-mana, ia bingung harus bagaimana sekarang. Meminta oma dan bahkan bertekuk lutut di depannya tak membuat wanita itu merubah keputusannya. Ia pasrah dengan keadaan sekarang.
Drrrrt, suara getaran handphone tak membuat Ray beranjak untuk mengambilnya, ia mengabaikan padahal di layar hp jelas tertulis nama Angel di sana. Sementara Angel yang di seberang merasa gelisah, kenapa Ray tak mengangkat teleponnya, ia pun kembali menelpon Ray untu kedua kalinya, namun tak ada jawaban padahal teleponnya tersambung dari sana.
Angel pun mencari cara lain, ia mengirimkan pesan pada Ray berharap laki-laki itu membukanya. Namun tak ada jawaban pesan yang dibalas Ray saat ini. Semua pesan yang dikirim Angel sia-sia.
“Apa Ray udah tidur?” Angel melirik jam dinding, masih menunjukkan pukul 21.09 WIB. “Nggak biasanya dia udah tidur jam segini, apa Ray sibuk?” pikirannya melayang kemana-mana antara khawatir dan takut.
Terpaksa Angel menelpon Julian untuk menanyakan keadaan Ray.
“Ray? Dia ada kok di rumah. kenapa Ngel?”
“Ah enggak kok, nggak papa, yaudah kalau gitu. Maaf ya Julian ganggu kamu.” Angel langsung menutup teleponnya.
Kenapa Ray nggak balas pesanku?
Hari berikutnya di sekolah, saat di kelas, Angel berharap Ray sudah masuk duluan. Namun justru laki-laki itu tak menampakkan diri di kelas, Angel hanya melihat Julian di sana sementara bangku Ray kosong.
Ray kamu di mana? Bolos lagi ya? pesan terkirim pada Ray
Benar saja, Ray tak mengikuti pelajaran pertama di kelasnya. Di sela-sela pelajaran berlangsung Angel terus melihat ke arah hp yang disembunyikan di bawah lacinya berharap Ray akan membalasnya. Setelah menunggu beberapa jam pesan dari Ray pun dijawab.
Maaf Angel!
Hanya dua kalimat yang dibalas Ray saat ini, bahkan tak ada jawaban lain yang mengatakan di mana laki-laki itu sekarang.
Rupanya saat ini Angel telah berdiri di depan perusahaan Raveno Group dengan masih mengenakan seragam sekolah yang ia balut jaket denim miliknya. Ray masuk ke dalam tanpa dicurigai, ia bahkan dipersilakan masuk begitu saja tanpa penghalang dari penjagaan yang ketat di perusahaan itu.
“Tuan Ray!”
“Nyonya besar sudah menunggu anda di ruangannya, silakan ikut saya!”Ray pun digiring mengikuti salah satu asisten dari perusahaan itu untuk masuk ke dalam lift menuju ke lantai atas tempat omanya saat ini berada.
Di Kantin
Semua anak-anak berkumpul bersama mulai dari Julian, Angel, Brian, Max, Shila dan Queen berada di satu meja bersama sambil mendiskusikan sesuatu.
“Gaes, gaes, gimana kalau kita buat pesta kejutan buat Ray?” usul Brian antusias.
Minggu depan adalah ulang tahun Ray yang ke 18 tahun, dan rencana surprise party untuk Ray tentu disetujui semua anak-anak di sana.
“Ide yang bagus, pasti bakal ramai sekarang, apalagi sekarang kita rayainnya nggak cuma berempat doang,” sahut Max.
“Gimana Jul? lo setuju?” tanya Brian pada Julian yang sejak tadi bersikap santai.
“Gue sih setuju-setuju aja, kenapa enggak?” jawabnya.
“Tempat yang cocok kira-kira di mana? Café? Rumah?”
“Pantai!” celetuk Queen tiba-tiba yang langsung mendapat tatapan dari semua anak di sana.
“Pantai pala lo? Ngapain jauh-jauh ke pantai segala?” Shila sepertinya tak setuju.
“Gue setuju!” Brian menambahkan. “Kita ke pantai aja!”
Shila semakin kesal karena Queen mendapat pembelaan dari Brian, “Kok lo malah setuju sih?”
“Mending kita nggak ke pantai dulu, lagiankan sebentar lagi ada ujian kenaikan kelas, kita adain pesta kejutannya di kafe aja, nggak kalah seru kan?” usul Angel kemudian disertai anggukan teman-temannya.
“Kalau udah Angel yang minta, kita bisa apa?”
“Kita siapkan dekorasinya, gue nanti yang minta Ray buat datang.”
“Oke siap, serahin sama kita. Gue sama Max bakal nyari tempatnya.”
Semua setuju, pesta kejutan ulang tahun Ray yang akan diadakan di kafe. Hari itu sepulang sekolah, Angel menunggu Ray, ia sudah mencoba mengirimkan pesan singkat padanya, namun sejak tadi pagi tak ada balasan dari laki-laki itu. bersamaan saat Julian pulang, mereka melihat Angel duduk sendirian sambil menatap layar HPnya. Julian pun menghampiri Angel.
“Angel, kamu ngapain sendirian di sini? Nggak pulang?” tanya Julian
Angel hanya menggelengkan kepala, “Aku menunggu Ray, dari pagi dia nggak balas pesanku.”
“Ray? Dia belum juga muncul? Kemana tuh anak!” gerutu Julian kesal.
Melihat Angel yang tampak sedih, Julian hanya bisa menghela napas panjang, ia lalu duduk di sebelahnya, berusaha menenangkannya. Laki-laki itu menepuk bahu Julian, dan tanpa sadar Angel bersandar di bahu Julian. Bersamaan saat itu Ray yang berencana untuk menemui Angel ke sekolah. sesampainya di sekolah, Ray disuguhkan pemandangan yang tak ia sukai.
Ray sebenarnya merasa bersalah saat Angel berkali-kali menelpon dan mengirimkan pesan untuknya namun ia abaikan. Ia terpaksa bukan keinginannya. Saat itu, Ray memang tak ingin diganggu apalagi saat bertemu dengan omanya tadi pagi. Ray kembali dihadapkan pada keputusan yang berat yaitu mamanya.
Sebuah kesepakatan yang mengharuskannya untuk menuruti keinginan omanya atau Ray akan kehilangan orang yang paling ia sayangi pergi lagi. Tentu saja Ray mau tak mau harus menurut.