“Ada bisnis besar yang menguntungkan perusahaaan, Julian bilang kamu memiliki kemampuan meyakinkan orang-orang. Oma ingin kamu datang ke pertemuan lusa depan untuk meyakinkan mereka."
Ray terkejut, "Oma memintaku datang?"
"Kalau kamu bisa meyakinkan mereka untuk menanam saham ke perusahaan kita, Oma akan mempertimbangkan kamu di keluarga Raveno."
Ucapan omanya tentu membuatnya Ray bimbang, meyakinkan para investor dan menarik mereka untuk bergabung di perusahaan Raveno Group tentu bukanlah hal yang mudah. Pernah dulu Ray menggantikan Julian dalam pertemuan perusahaan dan mengharuskan dia untuk berbicara di depan para tamu undangan. Saat itu, Ray tentu memperkenalkan dirinya sebagai Julian bukan Ray. Dan karena kejadian itu, Julian mengetahui kemampuan yang dimiliki Ray, bahkan melebihi dirinya.
Keinginan Julian tentu bertolak belakang Ray. Walau ia sangat menurut, dan satu-satunya pewaris perusahaan Raveno nanti, Julian tak pernah menyukai keinginannya untuk meneruskan perusahaan, justru Ray lah yang memiliki kemampuan itu.
Ray yang masih berdiri dari kejauhan sambil menatap Julian dan Angel yang sedang bersama, timbul rasa cemburu di hatinya. Ray tak langsung mendekat, sengaja ia melihat keduanya.
....
Malam itu, perasaan Angel tak enak sejak tadi pagi. Pesan yang ia kirim kepada Ray masih belum ada balasan darinya. Bahkan sampai sekarang Ray tak menghubunginya. Pikiran Angel kemana-mana. Ia tahu ada yang tak beres dengan Ray, tapi kenapa Ray tak pernah cerita masalahnya.
Diluar dugaan, Ray ternyata berada di luar rumah Angel. Ditatap dari kejauhan rumah besar bernunsa putih di depannya. Sengaja ia menunggu di sana.
Diambilnya handphone miliknya dan langsung mencari kontak Angel di sana.
Drtttt, handphone Angel berdering, ia pun langsung mengangkatnya saat nama Ray terpampang di layar.
"Ray!"
"Halo Ray?!"
"Turun sekarang!" Pinta dari balik telepon.
Angel bingung maksud ucapannya. "Maksud kamu?"
"Aku minta kamu turun dari kamar."
"Kamu?" Angel langsung sadar sesuatu.
Secepatnya, Angel langsung bergegas keluar dari kamar.
Benar dugaannya, saat Angel keluar dari gerbang dengan pakaian santainya, ia melihat Ray di depannya dengan motor ninja hitamnya.
"Ray!" Kejutnya. "Kamu ngapain ke sini?"
Ray bersikap seolah tak terjadi apa-apa ia tersenyum saat melihat Angel.
"Buat apa lagi? Ya mau ketemu kamulah!"
Angel masih kesal, ia terpaksa memasang wajah cemberut gara-gara kejadian tadi dan saat Ray tak menjawab telepon dan membalas pesannya.
"Kamu ke mana aja tadi? Kenapa pesanku nggak dibalas?" Angel dengan muka cemberutnya.
Ray turun dari motonya dan langsung memeluk Angel saat itu juga, Angel tak bisa membendung air matanya, ia lemah saat Ray memeluknya.
"Maaf, aku minta maaf Angel!"
"Kamu udah bilang itu tadi, kenapa bilang lagi? Sekarang aku tanya, kamu kemana tadi? Kenapa nggak masuk sekolah, bolos lagi?" Omel Angel melempar bebagai pertanyaan demi pertanyaan padanya.
Ray menggelengkan kepala, "aku ketemu sama oma!"
"Oma? Kamu serius?"
"Sekarang itu nggak penting, aku mau keluar sama kamu." Ray langsung menarik tangan Angel dan langsung memberikan helm padanya.
"Tung-tunggu! Aku belum ganti baju. Aku ganti baju dulu."
Ray langsung menahannya, "nggak perlu, ini sudah cukup."
"T-tapi—"
Ray langsung memasang helm bogo pada Angel dan meminta Angel untuk naik ke atas motornya. Angel hanya bisa menurut saat Ray membawanya pergi.
Dì jalan, Angel terus memegang erat jaket pinggang Ray denga erat. Berkeliling kota entah kemana Ray akan membawanya.
"Ray, kita mau kemana?"
Ray tak bergeming dan malah menambah kecepatan motornya.
"Ray!"
"Ray!"
"Aaaa, Ray!" Angel berteriak kencang dengan mengeratkan pegangannya saat Ray menambah kecepatan seaka menggoda Angel saat ini.
"Ray, hati-hati!"
Mereka berhenti di sebuah taman bermain, ada beberapa anak-anak bersama ibu mereka bermain. Tempat itu cukup ramai dan banyak pengunjung. Ray menggandeng tangan Angel erat sambil mereka menikmati jalan-jalan di sepanjang taman itu. Angel tak begitu mengerti apa maksud Ray yang tiba-tiba datang ke rumah dan mengajaknya pergi dengan baju santainya.
"Ray!"
Ray menoleh, "iya?"
Angel membalikkan posisi menghadap Ray, menatapnya tajam sambil memegang dahinya, "kamu nggak sakit kan?"
Ray tersenyum, "Angel!" Ray menurunkan tangan Angel.
"Habis, sikap kamu aneh banget hari ini. Kamu tiba-tiba ajak aku pergi trus pas di sekolah kamu nggak masuk, kamu nggk balas pesanku, aku mau marah, tapi yaudahlah!" Angel cemberut.
"Tumben hari ini kamu jadi cerewet banget. Aku minta maaf karena nggak balas pesan kamu tadi siang," ucap Ray menyesal.
"Kenapa?"
"Jangan khawatir, aku hanya ingin menghabiskan waktu malam ini sama kamu, bolehkan?"
Angel mengangguk. Ray tersenyum dan kembali memegang tangan Angel lagi. Mereka menelusuri jalan sambil bergandengan tangan.
***
Esok harinya di sekolah, Ray sudah muncul dan bahkan paling awal saat masuk kelas. Brian dan Max yang melihat keheranan.
"Wih tumben lu datang awal?" Brian langsung duduk di meja sebelah Ray.
"Kalian aja yang datang telat."
"Telat?" Brian melihat sekeliling dan masih sepi kelas mereka.
"Telat apaan? Sepi gini. Oh ya kemarin lo kemana, bolos ya?" Tuduh Brian ceplos.
"Lo nggak lagi ada masalahkan Ray?" Max menambahkan.
"Apa lo ada masalah lagi sama Leon? Bilang sama kita, biar kita beri pelajaran tuh anak."
"Woi!" Suara dari belakang tentu mengejutkan Brian saat melihat Leon sudan ada di belakangnya.
"Kenapa bawa-bawa nama gue segala?"
"Karena lo itu pembawa masalah."
Leon yang tak terima langsung menarik kerah Brian dengan tatapan tajam. "Lo bilang apa tadi?"
"Brian!" Suara dari depan mengejutkan mereka. Shila memanggilnya lantang.
"Hai beb!"
Shila hanya menatap risih, di samping Shila Angel. Melihat Leon menarik kerah Brian, Angel langsung melerai keduanya.
"Leon, lo apa-apan sih!"
Melihat kedatangan Angel, Leon pun terpaksa mengalah dan melepas tangannya.
"Pagi-pagi udah ribut," omel Angel.
Pandangan Angel kini beralih pada Ray yang masih duduk dan seakan tak peduli akan ada keributan di sekitarnya.
Julian datang bersama Queen dan tentunya gadis itu menggandeng tangan Julian mesra.
"Pagi gaes!" Sapa Queen tampak ceria.
"Kenapa pada ngumpul di sini? Ada yang mau bahas pes—" belum sempat keceplosan, tangan Shila langsung membungkam mulut gadis itu.
"Ssstt, !" Shila memperlihatkan ada Ray di depan mereka, pesta kejutan ukang tahun Ray tak boleh ada yang tahu dulu.
"b**o lho ya!"
Queen nyengir, "sorry!"
"Ray, gue mau bicara sama lo."
"Bicara aja sekarang!"
"Gue mau bicara berdua sama lo, ikut gue sekarang!"
Suasana yang tadinya ceria mendadak hening saat kedua saudara itu tampak tak beres.
"Julian kenapa tuh?"
"Mana gue tahu!" Brian tak begitu paham.
Semua mata kini tertuju pada Angel, dari kita semua pasti Angel tahu sesuatu pada Ray dan Julian. Namun di luar dugaan, Angel hanya menggelengkan kepala tak tahu.
....
"Lo ketemu oma?"
"Iya, kenapa?"
"Apa yang oma bicarain sama lo?"
"Bukan sesuatu yang penting."
"Mama Lara nggak jadi pergi, apa ini karena lo?"
"Julian, lo tahu berapa tahun gue nggak bersama mama, 10 tahun, dan itu bukan waktu yang singkat. "
"Apa yang lo bicarain sama oma?" Julian kembali bertanya.
"Bukan urusan lo!"