"Lo ketemu oma?"
"Iya, kenapa?"
"Apa yang oma bicarain sama lo?"
"Bukan sesuatu yang penting."
"Mama Lara nggak jadi pergi, apa ini karena lo?"
"Julian, lo tahu berapa tahun gue nggak bersama mama, 10 tahun, dan itu bukan waktu yang singkat."
"Apa yang oma minta dari lo. Keputusan oma nggak mungkin berubah secepat itu."
Ray berdecak, ia tahu Julian mencurigainya.
"Ray, anak-anak khawatirin lo, termasuk Angel."
Ray mendekat, "Angel itu urusan gue, kenapa lo selalu ikut campur masalah gue sama Angel? Oh ya, apa karen lo suka sama dia? Lo belum bisa lupain dia? Iya?"
Julian menatap kesal Ray. "Gue hanya nggak mau Angel terluka, itu aja."
Tak disangka Angel menemui mereka di belakang sekolah. "Ray, Julian!"
Ray melewati Angel begitu saja seakan mengabaikan kedatangannya, Julian yang melihat sikap keterlaluan Ray pada Angel hanya mendecak kesal.
"Julian!" Angel justru menghampirinya.
"Kamu nggak papa kan?"
Julian kaget dengan sikap Angel yang justru perhatian padanya. "Angel!"
"MY PRINCEE!" Queen datang dan langsung melerai tangan Angel yang memegang Julian.
"My prince nggak papa kan, Ray nggak ngapain-ngapain kamukan?"
Brian dan Max juga bingung dengan sikap temannya itu, bahkan saat mereka menemui Ray dan Julian dan ketika Ray melewatinya, Ray seakan abai begitu saja melewati Brian dan Max.
***
Saat latihan band.
Brian masih tak konsen dan masih memikirkan kejadian tadi pagi, bagaimana Ray dengan cueknya seakan tak peduli.
Angel yang tengah duduk sambil menghapal lirik lagu seperti tak terjadi apa-apa. Brian semakin curiga apa yang terjadi dengan mereka?"
"Angel!"
Angel menoleh, "iya?"
Brian mendekat, "lo nggak ngerasa kalau sikap Ray akhir-akhir ini aneh?"
Angel hanya menggeleng. "Aneh? Apanya yang aneh?"
"Sikapnya? Lo nggak ngerasa?"
"Gue pikir Ray biasa aja."
'Udah deh Yan, lo fokus latihan. Gue jug mikir sama, kaya lo nggak kenal Ray aja." Shila menambahkan.
Tapi tidak dengan Brian dan Max, mereka mengenal betul bagaimana temannya saat ada masalah. Melihat Angel yang tampak baik-baik saja menambah kecurigaan pada keduanya.
"Gue ke kantor guru bentar ya, mau nyerahin berkas ini!" Shila keluar dari ruang latihan.
Saat di jalan, ia berpapasan dengan Gisele. Shila seakan acuh namun Gisele justru memanggil namanya. '"Shila!"
Shila tak menyahut, ia terus berjalan sampai Gisele memanggil namanya lagi."
"Gue tahu lo masih marah sama gue pergi waktu itu."
Shila berhenti dan tentu saja masih membelakanginya. Ia mendengus kesal.
"Kenapa lo kembali?"
"Gue mau nebus kesalahan gue sama kalian."
Shila tertawa renyah, "Menebus? Atas apa yang udah lo lakuin sama kita dulu?"
Angel yang saat itu akan menyusul Shila tak sengaja nelihat pemadangan Shila dan Gisele yang sedang berbicara. Diam-diam Angel menguping dari balik tembok.
"D Venue udah kembali tanpa lo."
"D Venue tanpa gue, itu mustahil. Oh apa karena cewek itu, siapa namanya ?Angel?"
"Dia lebih baik dari lo."
"Itu mustahil, nggak ada yang bisa gantiin gue di grup." Gisele bersikeras.
"Seenggaknya Angel nggak ninggalin grup hanya untuk kepentingan pribadi, lo pikir kita semua nggak hancur waktu itu?"
"Makanya gue mau nebus kesalahan itu sama kalian."
"Terlambat!" Shila mengakhiri kalimatnya dan kembali berjalan meninggalkan Gisele yang masih mematung di sana.
Angel yang sejak tadi bersembunyi tak bisa berbuat apa-apa, ia mengetahui kenyataan kalau Gisele adalalah vocalist awal D Venue, grup bandnya sekarang.
Angel ingin tahu lebih dalam, siapa Gisele dan alasan kenapa Gisele meninggalkan grup bandnya dulu. Apa yang terjadi dengan mereka dulu.
"Gisele!"
Gisele yang akan masuk kelas terhenti saat Angel tiba-tiba datang menemuinya. "Kenapa?"
"Gue bisa bicara sama lo?"
Gisele menatap culas pada Angel." Elo Angel kan?"
Angel mengangguk. "Gue mau nanya sesuatu sama lo."
"Soal apa?"
"Apa alasan lo pergi waktu itu?"
Deg!
Gisele membawa Angel ke atap sekolah.
"Nyokap gue minta gue keluar dari grup dan fokus buat belajar masuk perguruan tinggi, gue nggak bisa menolak waktu itu."
"Kenapa lo nggak cerita sama Shila dan yang lain, pasti mereka ngerti?"
"Angel lo tahu, waktu gue lihat lo sama Shila, lo ngingetin masa lalu gue sama Shila dulu, sikap yang Shila tunjukin sama sama persis. Shila nggak pernah berubah memperlakukan sahabatnya dengan tulus."
Angel tersipu. "Sikap Shila memang kadang berlebihan tapi dibalik itu semua, dia memang sangat hangat."
"Gue iri sama lo, seakan lo merebut posisi gue Angel."
Deg!
Angel merasa tak enak hati pada Shila. Merebut posisi?
Gisele mendekat, tatapannya sinis. "Ditambah lo juga deket sama Ray, lo tahu nggak dulu Ray pernah nyium gue?" Gisele tersenyum penuh kemenangan.
"Nyium?" Angel mengulang kalimat yang sama.
"Sayangnya first kiss Ray itu gue, bukan lo." Gisele semakin membuat Angel panas, ia memang sengaja melakukan itu untuk membuat Angel kesal.
"Mau gue kasih tahu rahasia lagi soal Ray? Ray pernah hampir—"
"CUKUP!" Angel tak bisa lagi mendengar lebih jauh masalalu mereka.
Gisele tertawa sinis. "Ternyata lo lemah ya?"
Angel tak melanjutkan percakapan mereka dan memilih pergi dan turun dari balkon atas sekolah, saat melewati tangga ucapan Gisele terngiang-ngiang di pikirannya.
"Sayangnya first kiss Ray itu gue."
"Aaaaa."
Brak, Angel tersungkur jatuh saat nenuruni anak tangga, ia tak fokus dan pergelangan kakinya keseleo. "Aw!"
Ia berusaha bangkit dengan tertatih, ia melihat kakinya membiru karena jatuh tadi.
"Awww!'
Kaki Angel tertatih merasakan kesakitan di kakinya, bahkan saking tak fokusnya ia menabrak seseorang di depan. Beruntung orang yang ditabrak memeganginya saat Angel akan terpentak ke belakang.
"Julian!"
Rupanya Julianlah orang yang ia tabrak tadi.
"Angel kamu nggak papa?"
"Eng-enggak kok, maaf Julian!"
Julian langsung tahu ada yang tak beres dengan kaki Angel. "Kaki kamu kenapa?"
"Tadi jatuh di tangga, tapi nggak papa kok, ini aku mau obatin di UKS."
Julian langsung sigap berjongkok untuk nelihat kaki Angel yang terkilir. "Mau aku obatin?"
"Nggak usah Julian, aku bisa sendiri kok!"
Dari kejauhan, Ray tak sengaja melihat Julian yang menggandeng tangan Angel pergi.
"Angel!" Ray langsung mengikuti kemana mereka pergi.
Di UKS
Julian dengan telaten merawat kaki Angel dan memberinya krim pereda nyeri yang ada di UKS.
"Makasih ya Julian, aku jadi ngerepotin kamu jadinya!"
"Kayaknya kamu perlu istirahat dulu di UKS. "
"Aku ceroboh banget ya tadi." Angel malah merutuki kebodohannya.
"Lain kali hati-hati. Kalau Ray tahu dia
pasti—" belum sempat ia berucap, suara dobrakan pintu dari luar mengejutkan mereka. Sontak mereka menoleh.
"Angel!"
Tak disangka Ray sudah ada di ambang pintu dengan wajah cemas. Langsung saja Ray mendekati Angel.
"Kamu kenapa?"
"Nggak papa kok!"
"Kaki Angel terkilir waktu jalan tadi."
"Kok bisa?"
Angel nyengir, "mungkin tadi aku nggak lihat waktu jalan hehe. "
Ray curiga, ia lalu mengecek kaki Angel yang membiru." Angel!" Seakan nada Ray marah padanya.
"G-gue keluar dulu ya!"Julian memilih keluar dari ruang UKS untuk meninggalkan keduanya.
"Kenapa kamu bisa ceroboh sih?"
"Iya maaf, namanya juga nggak sengaja. Itu semua juga salah kamu tahu!" Angel cemberut.
Ray mendelik, "salah aku?"
"Enggak, maksudnya salah aku, aku ceroboh soalnya, hehe!" Angel mengalihkan perhatian.
"Kamu serius?"
"Iya Ray, aku nggak apa-apa. Julian juga udah ngobatin aku kok."
Ray berdecak kesal. "Kaki kamu disentuh sama dia?"
Angel mengangguk.
Ray semakin kesal, ia langsung berjongkok untuk melihat kaki kanan Angel yang membiru.
"Ray kamu ngapain?"
Ray kembali berdiri dengan menatap intens wajah Angel di hadapannya. "Maafin aku!"
Angel tersenyum, ia langsung mengalungkan tangannya memeluk Ray dan langsung disambut hangat oleh Ray dengan pelukan eratnya.